Kisah Kowad Norsina yang Rindu Anaknya

Nasional

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 323

Kisah Kowad Norsina yang Rindu Anaknya
PASUKAN PERDAMAIAN - Seorang prajurit TNI dari pasukan perdamaian Lebanon, Timor Tengah dari Batalyon Infanteri Raider Khusus 744/Satya Yudha Bhakti disambut penuh kasih oleh sang istri saat tiba di Bandara El Tari Kupang, NTT. (Ant)

Batalyon Infantri Raider Khusus 744/SYB di Lebanon 


"Mama....Mama....Mama...." panggil seorang bocah berusia lima tahun saat melihat ibunya yang baru keluar dari ruangan pengambilan bagasi di Bandara El Tari, Kupang, Nusa Tengara Timur. Sambil memegang boneka berwarna merah iapun berusaha merangkul ibunya saat baru keluar dari pintu kedatangan penumpang.

SP - Ibunya yang bernama Serma Norsina adalah satu-satunya wanita dari Batalyon Infantri Raider Khusus 744/SYB yang terpilih menjadi pasukan perdamaian Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) di Lebanon, Timur Tengah atau yang dikenal dengan "United Nations Interim Force In Lebanon (UNIFIL) yang tergabung dalam Indonesia Batalyon 23-K atau Batalyon Indobatt XXIII-K.

Air matanya pun menetes saat melihat anaknya yang telah ditinggal pergi selama satu tahun tersebut sudah bertumbuh besar.

Ia pun memeluk erat anaknya di depan pintu keluar tersebut tanpa menghiraukan masih banyaknya pasukan yang akan keluar dari pintu yang sama. Norsina pun tak sadar bahwa barang bawaannya yang banyak yang ia bawa dari Lebanon masih tertahan di depan pintu keluar itu.

Seketika suaminya dengan sigap mendorong troly yang membawa setumpuk tas dan koper milik Norsina tersebut. "Setahun lebih saya meninggalkan mereka. Ini demi tugas negara. Ini demi Indonesia jadi mau tidak mau harus siap," ujarnya sambil terus bermain dengan anaknya.

Norsina adalah satu-satunya wanita dari 319 pasukan perdamaian yang dipilih untuk bergabung di Lebanon Timur Tengah. Norsina bangga sekaligus sedih ketika terpilih menjadi salah satu dari rekan-rekannya masuk dalam pasukan perdamaian itu.

"Waktu turun pesawat ingin rasanya satu mobil dengan suami dan anak. Namun perintahnya saya dan rekan-rekan saya harus satu kendaraan. Baru juga ketemu langsung dipisahkan lagi," ujarnya dengan sedih.

Sesampainya di Markas Korem 161/Wirasakti Kupang, Norsina secepat kilat turun dari kendaraan tentara. Saat turun, anak laki-laki satu-satunya tersebut sudah menunggu di samping truk tentara sambil terus memegang boneka merah yang nantinya akan diberikan kepada ibunya.

Sementara itu, Marselina, istri dari salah seorang prajurit Indobatt XXIII-K mengatakan sangat bahagia karena akhirnya bisa bertemu dengan suaminya setelah satu tahun berpisah karena menjalankan tugas negara.

"Memang sedih rasanya, tetapi sedih karena bahagia... Selama setahun kami berpisah, akhirnya bisa bertemu dengan suami tercinta. Apalagi saat pergi anak kami masih kecil dan saat ini sudah besar," ujarnya.

Jarang berkomunikasi selama satu tahun bertugas di Lebanon, satu hal yang tak bisa diobati adalah kerinduannya akan anaknya tersebut. Sesekali ia berusaha mengontak suaminya untuk bercerita serta anaknya untuk bercengkarama.

"Saat Lebanon siang. Di Indonesia khususnya di Kupang sudah tengah malam. Ini membuat saya susah sekali berkomunikasi dengan dia karena memang sudah tertidur pules. Padahal fasilitas sudah disiapkan dengan sangat lengkap," tambahnya.

Tantangan Komandan Batalyon (Indobatt) XXIII-K Letkol Inf Yudi Gumilar mengatakan bahwa menjadi bertugas di daerah Timur Tengah khususnya di Lebanon bagian selatan merupakan sebuah tantangan yang harus bisa dilewati.

"Ada empat musim yang harus bisa kami lewati di sana selama satu tahun ini. Berbeda dengan Indonesia yang hanya dua musim saja. Ini tentu menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi prajurit-prajurit saya.

Yudi mengatakan sejumlah prajurit yang bertugas sudah dibekali dengan pengetahuan serta perlengkapan yang memadai, sehingga saat ditugaskan di setiap daerah yang mempunyai musim dingin atau panas segala persiapan sudah dibawa.

Tak hanya itu budaya yang berbeda dengan Indonesia juga menjadi satu hal yang harus dihadapi oleh sejumlah prajurit yang bertugas di Lebanon.

Dalam setiap kegiatan tarian Ja'i serta lagu dari Maumere selalu diputar oleh pasukan yang markasnya di Atambua Kabupaten Belu itu. Oleh karena itu pasukannya sangat dikenal oleh masyarakat di Lebanon. Bahkan Tarian Ja'i menjadi salah satu ciri khas dari pasukan dari NTT tersebut.

Batalyon Yonif Raider Khusus 744/SYB, merupakan salah satu pasukan dari Indonesia yang dinilai berhasil dalam melaksanakan tugas pokok penjaga perdamaian di Lebanon, Timur Tengah disamping juga tugas-tugas teritorial selama berinteraksi dengan masyarakat di wilayah penugasan.

Keberhasilan satuan tugas ini dalam mengemban misi perdamaian dunia tidak hanya menjadi kebanggaan satuan TNI tetapi juga bagi warga masyarakat Nusa Tenggara Timur dimana homebase satuan ini ada di Tobir, Atambua, Kabupaten Belu.

Yonif 744/SYB merupakan satu-satunya batalyon eks Timor Timur yang dinilai berhasil dalam menumpas Gerakan Pengacau Keamanan (GPK) di wilayah bekas provinsi ke-27 Indonesia itu.

Ketika Timor Timur memilih merdeka dari Indonesia melalui referendum pada Agustus 1999, batalyon tersebut tetap dipertahankan eksistensinya oleh Pangdam IX/Udayana (waktu itu) Mayjen TNI Kiki Syahnakri. (antara/lis)

Komentar