Menkeu: Tarif Impor Berpotensi Sebabkan Perang Dagang

Nasional

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 247

Menkeu: Tarif Impor Berpotensi Sebabkan Perang Dagang
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (Antara Foto)
JAKARTA, SP - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengingatkan potensi terjadinya perang dagang, apabila pemerintah AS jadi menerapkan tarif pada impor baja dan alumunium.

"Sejarah dunia menunjukkan kalau terjadi perang dagang, pasti dampaknya buruk terhadap ekonomi dunia," kata Sri Mulyani di Jakarta, Selasa (6/3).

Sri Mulyani mengatakan, seluruh dunia sedang menantikan kepastian dari rencana yang juga berpotensi, membuat negara-negara yang selama ini mempunyai hubungan dagang saling membalas dari sisi tarif.

"Kami lihat saja dulu, dinamika mengenai kebijakan itu sedang diperdebatkan antara Presiden Trump dengan kongres dan senat," ucapnya.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump memastikan akan menerapkan tarif impor baja sebesar 25 persen dan alumunium sebesar 10 persen untuk melindungi industri dalam negeri.

Namun, para ahli mengatakan langkah tersebut dapat merugikan produsen AS, dan berpotensi menghadapi tantangan hukum dari mitra-mitra dagang.

Sebagai respon atas rencana AS tersebut, Uni Eropa akan mengusulkan beberapa langkah balasan dalam beberapa hari kedepan sebagai tanggapan.

Sementara itu, asosiasi pembuat baja Eropa, Eurofer, menyatakan bahwa rencana penerapan tarif sebesar 25 persen untuk impor baja berarti AS telah memilih jalan konfrontasi perdagangan. 

Menanggapi hal itu, doktor ekonomi dan perdagangan internasional dari Universitas Indonesia (UI), Fithra F Hastiadi mengatakan, kenaikan tarif tersebut berpotensi meluas ke sektor lain, mengingat saat ini defisit perdagangan AS yang terus membengkak.

Jika itu terjadi, maka mitra dagang Amerika bisa saja melakukan 'serangan balasan' yang berbuntut pada perang dagang (trade war). Hal ini setidaknya sudah ditunjukkan oleh Cina yang mengancam akan melakukan retaliasi, tidak hanya di produk impor AS tetapi juga di pasar obligasi.

"Ulah Trump tentu akan diganjar retaliasi oleh partner dagangnya. Ini adalah strategi tit for tat yang akan memicu efek domino secara global," ujar Fithra.

Menurutnya, Asia akan menjadi korban utama dari perang dagang ini. Terutama emerging market yang sangat mengandalkan perdagangan internasional.

Kondisi tersebut pada akhirnya akan membuat perlambatan ekonomi secara global mengingat Asia merupakan mesin pendorong pertumbuhan ekonomi dunia. "Perhitungan saya berdasarkan data runtun waktu, setidaknya akan ada koreksi sebesar 0,5 hingga 0,8 persen dari pertumbuhan ekonomi dunia," kata Fithra.

Bagi Indonesia, Amerika dan Cina merupakan mitra dagang tradisional. Sejak dulu, kedua negara tersebut telah menjadi tujuan utama ekspor produk-produk Indonesia. Karenanya, dengan adanya perang dagang, kinerja perdagangan Indonesia akan ikut terdampak. Fithra memprediksi perang dagang yang disulut Amerika tersebut akan memberikan efek kontraksi pada pertumbuhan ekonomi nasional sekitar 0,1 sampai 0,2 persen.

Meski dampaknya kecil, ia mengingatkan agar pemerintah tetap harus waspada. Sebab, yang menjadi ancaman sebenarnya adalah kecenderungan naiknya suku bunga internasional.

Untuk meredam dampak dari gejolak perdagangan global tersebut, Fithra mengatakan pemerintah harus segera merealisasikan perjanjian dagang baru dengan negara-negara non-tradisional demi memperluas pasar ekspor. 

Sementara, dari sisi kebijakan moneter, ia menyebut Bank Indonesia juga harus segera mengambil kebijakan yang tepat untuk meredam ekspektasi luar sambil memperkuat fondasi makro bersama pemerintah. (ant/rep/lis)