Sugiri: Ekspor Kalbar Belum Kompetitif

Ponticity

Editor sutan Dibaca : 680

Sugiri: Ekspor Kalbar Belum Kompetitif
Ilustrasi
PONTIANAK, SP - Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Kalimantan Barat, Sugiri mengatakan ekspor Kalbar belum kompetitif lantaran masih terbatas pada barang mentah.  

 “Kebanyakan kita ekspor itu masih mentah, makanya kita dorong. Kalau mau kompetitif, datangkanlah investor-investor kepada industri barang jadi. Itu akan kompetitif dan penyerapan tenaga kerja banyak,” ucap Sugiri.

Menurut Sugiri  setidaknya ada empat macam komoditi ekspor andalan Kalbar. Karet masih jadi unggulan meski sangat rentan dengan harga dunia. Ada pula jenis kayu, namun hanya satu-dua perusahaan yang mampu melakukannya. Salah satu yang mengalami lonjakan adalah alumina. “Itu menopang cukup besar, pada tahun ini triwulan ke empat, kita surplus dan meningkat. Alumina kontribusinya lumayan, baik dari Ketapang juga dari Antam,” jelasnya.

Selain itu lanjut Sugiri, Crude Palm Oil (CPO) atau minyak mentah kelapa sawit juga masih memiliki porsi besar ke depan. Keberadaannya mampu menopang ekspor Kalbar. Hal itu bisa dilihat dari banyaknya perkebunan sawit yang berdiri di tanah Borneo.  

“Empat ini multi efeknya sangat besar dalam ekonomi Kalbar. Sekarang wajar agar turun di sektor perdagangan, entah itu pengaruh kebijakan atau apa. Tapi industri meningkat, otomatis perdagangan akan meningkat. Kita perlu waktu,” tambahnya

Adanya tax amnesty pun dikatakannya memiliki pengaruh terhadap ekspor Kalbar. Dana-dana dari luar kembali masuk dan jadi angin besar modal. Modal-modal ini lantas ikut membantu roda pembangunan berputar.  Akan tetapi, tidak semua ekspor impor berjalan lancar.  

Beberapa kerap terganggu oleh isu-isu yang masih belum bisa dibuktikan kebenarannya. Misalnya saja ekspor sarang burung walet yang pernah dikirim ke China.   
“Dulu orang kita ekspor, lalu entah makan itu, atau apa, ada orang yang meninggal. Lalu dihembuskanlah salah satunya ke negara kita yang mengekspor itu. Tetapikan harus dibuktikan, itu sekarang diperjuangkan isu itu benar atau tidak,” jelasnya.

Upaya jalinan hubungan bilateral pun dilakukan agar eksportir tetap bisa masuk. Namun dengan sejumlah syarat. Bahkan pembeli datang langsung meninjau pabrik di Indonesia.  “Ada lagi isu tentang makanan kaleng yang tercemar virus HIV, itu benar atau tidak, antar negara harus bergerak. Kalau tidak begitu, perusahaan juga bisa rugi,” tutupnya. (bls/and)