Dua Tokoh Nasional Saksikan Debat 8 Figur Cagub Kalbar 2018

Ponticity

Editor Soetana hasby Dibaca : 2182

Dua Tokoh Nasional Saksikan Debat 8 Figur Cagub Kalbar 2018
Grafis (SP/Mega)
PONTIANAK, SP – Memasuki perhelatan Pemilihan Gubernur Kalimantan Barat 2018, delapan figur yang digadang bakal calon kuat Gubernur Kalimantan Barat, beradu program dihadapan Wakil Ketua MPR RI Oesman Sapta dan Mahfud MD. Kedua tokoh nasional itu dihadirkan sebagai keynote speaker.

Ke delapan figur Adrianus Asia Sidot, Michael Jeno, Milton Crosby, Abang Tambul Husin, Ria Norsan, Sukiryanto, Syarif Abdullah Alkadrie dan Sutarmidji, tampil di kegiatan Kalbar Local Leaders Dialogue (KLLD) yang digelar Majelis Wilayah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MW-KAHMI) Kalbar, di Grand Mahkota Hotel, Kamis (29/12). 

Wakil Ketua MPR RI dan juga Ketua Umum Hanura Oesman Sapta mengapresiasi acara yang diinisiasi KAHMI Kalbar.

Dikatakannya, dialog ini hal pertama kali dilakukan di Kalbar. "Ini hari adalah kebangkitan KAHMI, karena baru kali ini diadakan penyeleksian figur pemimpin Provinsi Kalbar," ujarnya. 

BERITA TERKAIT:
KAHMI Datangkan Oesman Sapta dan Mahfud Mencari Sosok Pemimpin Kalbar 

Menurut Oesman Sapta, sosok pemimpin bisa diciptakan dari dua kekuatan, partai politik dan rakyat. Idealnya, pemimpin itu berasal dari pilihan rakyat, karena dengan sendirinya muncul rasa tanggung jawab.

"Jika pemimpin itu diciptakan oleh masyarakat Kalbar maka tanggung jawabnya itu harus ada," ungkap Oesman Sapta.

Dia berharap, pada Pemilihan Gubernur (Pilgub) 2018, masyarakat Kalbar tidak hanya mendapatkan pemimpin yang memiliki gagasan dan ide besar, tapi juga pemimpin yang mampu membawa kedamaian.

"Kita rindu pemimpin daerah yang membawa kesejukan," pungkasnya.
 
Koordinator Presidium Majelis Nasional KAHMI dan juga mantan Ketua Mahkamah Konstitusi,  Mahfud MD menyebutkan dalam satu  negara, sosok pemimpin tidak hanya dituntut bisa menjaga toleransi, tapi juga mampu menjunjung keadilan.

"Karena sering sekali pemerintah itu meneriakkan toleransi, tapi keadilan tidak dijalankan. Tidak bisa," ujarnya.

Mahfud MD menekankan bahwa keadilan seorang pemimpin tidak didasari oleh suatu agama tertentu.

"Nabi Muhammad mengatakan, sebuah negara sejak dulu dan sampai kapanpun akan hancur, kalau keadilan tidak ditegakkan, apapun agamanya," ujar Mahfud  mengutip makna hadits.

Ia menegaskan, apa yang disampaikannya ini adalah dalam konteks pemimpin yang adil. "Saya bicara keadilan, bukan bicara soal agama pemimpin (pemimpin agama)," jelas Mahfud.

"Oleh sebab itu, kalau orang Islam mau berjuang, jangan sekadar mempersoalkan agama. Tapi orang (pemimpin) itu bisa adil atau tidak," imbuh Mahfud. (umr)

Baca Juga:
3 Rumah dan Gedung SD Negeri 16 Dusun Senabah Dilalap Api
Tahun 2017, Bandara Supadio Mampu Tampung 5,5 Juta Penumpang 
Libur Akhir Tahun, Singkawang Jamin Penginapan bagi Wisatawan