Polemik Tugu Kuntilanak, Ini Kata Pemerhati Sejarah

Ponticity

Editor Soetana hasby Dibaca : 2471

Polemik Tugu Kuntilanak, Ini Kata Pemerhati Sejarah
Ilustrasi
PONTIANAK, SP – Wacana pembangunan Tugu Kuntilanak menuai pro-kontra di masyarakat, khususnya di Kota Pontianak. Menurut pemerhati sejarah, Syafaruddin Usman, pembangunan tugu sebagai ikon kota adalah hal lumrah. Seperti Tugu Kota Surabaya, terdiri dari simbol Ikan atau Sura dan Buaya.

Hanya saja, kata pria yang akrab disapa Bang Din itu, patut diperhatikan etika dan estetika terhadap ikon kota itu sendiri.

Dijelaskannya, etika yang dimaksud berkaitan dengan ketepatan, kelayakan, kepantasan atau fakta bahwa simbol itu merupakan asal-usul kota bermula. Sedangkan estetika menyoal rasa seni atau mitologi atau legenda yang mempengaruhi sejarahnya.

“Karena itu, saya kira antara etika dan estetikanya patut dikaji mendalam,” ujar Bang Din.

Sejarah Kota Pontianak kembalikan kepada sejarah berdirinya Kesultanan Pontianak 1771.

“Maka itu, silakan para pemrakarsa untuk berdiskusi banyak dengan ahli waris peletak dasar berdirinya Kesultanan Pontianak, yang merupakan embrio Kota Pontianak ini,” jelasnya.

Bang Din menegaskan penting adanya kajian mendalam tentang dokumen dan arsip, bahkan juga tambo Kerajaan Pontianak yang mencatat perihal penamaan Kota Pontianak.

Jika mengacu pada pendapat H Jimmy M Ibrahim, kata Bang Din, Raja Mempawah yang pernah menjabat sebagai mantan Sekwilda, Wagub dan Ketua DPRD Provinsi Kalbar, kuntilanak adalah sebutan Pemerintahan Kolonial terhadap bajak laut yang beroperasi di Batu Layang dan sekitarnya.

“Hantu-hantu di hutan belantara yang sekarang dinamakan Kota Pontianak ini, tak lain adalah penyebutan kolonial kepada bajak laut yang beroperasi di kawasan Batu Layang dan sekitarnya sekarang, begitu kata almarhum Pak Jimmy,” kata Bang Din.

Prof P.J. Veth, 1854 dan 1856, pun mencatat bahwa asal muasal penamaan Pontianak untuk Kesultanan dan kota ini masih dari tanah legenda lokal. Demikian pula J.J.K. Enthoven, 1903, yang meneruskan kajian Veth tersebut.

Sejarawan Belanda ini berasumsi nama Pontianak bukan dari hantu kuntilanak, melainkan bajak laut atau lanun yang berkeliaran di muara Kapuas dan Landak.

“Saya pribadi sependapat dengan Pak H.A. Halim R, wartawan senior dan budayawan Kalbar, bahwa Pontianak itu lebih dekat dengan Pintu-Anak, pintu atau muara dari anak atau cabang dua sungai besar, sungai Kapuas dan Landak. Bukankah istana yang merupakan cikal bakal kota ini letaknya di delta, pertemuan dua anak sungai besar tersebut,” ungkapnya.

Bang Din menyarankan agar pemerintah mengkaji lebih dalam lagi. “Coba dikaji mendalam lagi. Pertemukan para budayawan dan sejarawan, minta saran dan masukan kalangan Istana Kadriyah, dan dalami lagi data-data atau dokumen dan arsip sejarahnya yang ada,” imbuhnya.

Wacana pembangunan Tugu Kuntilanak datang dari Kepala Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata Kalbar, Kartius, dengan alasan menunjang pariwisata Pontianak ke depan. (bls)

Baca Juga:
Polres Landak Tegaskan Situasi Kamtibmas Kondusif
Menteri Yasonna: Segera Diterbikan SK Pengurus DPP Hanura
Soal Pinjaman, Pemkab Melawi Perlu Rekomendasi Pusat