Penderita Sakit Jiwa Banyak dari Luar Daerah

Ponticity

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 498

Penderita Sakit Jiwa Banyak dari Luar Daerah
PASIEN - Tampak pasien salah satu Rumah Sakit Jiwa (RSJ) di Jawa Timur. Di Kota Pontianak, Dinas Sosial mengklaim penderita gangguan jiwa ini, banyak berasal dari luar daerah. Antara Foto

Dinsos Razia Orang Telantar


Kasi Penyandang Disabilitas, Lansia dan Orang Telantar Dinsos Pontianak, Oscar
Perawatan tergantung rumah sakit. Kita serahkan kepada keluarga dan mereka terima tapi, setelah petugas pulang mereka biarkan kembali yang tidak waras itu. Intinya keluarga harus peduli

PONTIANAK, SP
- Tahun ini, Dinas Sosial Kota Pontianak telah mengamankan 15 orang penderita gangguan jiwa yang ada di jalanan. Jumlah itu lebih sedikit dari tahun lalu yang mencapai 20 orang. Sama seperti tahun 2015. Sebagian dari mereka berasal dari luar kota. 

Kasi Penyandang Disabilitas, Lansia dan Orang Telantar Dinas Sosial Kota Pontianak, Oscar menerangkan kebanyakan penderita gangguan kejiwaan yang diamankan di Pontianak berasal dari kabupaten tetangga, seperti Mempawah dan Kubu Raya. 

Malah sempat ada yang berasal dari Pulau Jawa. Setelah ditelusuri, ternyata mereka adalah bekas Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Malaysia.

"Kebanyakan depresi dan ada juga droping dari luar daerah," terangnya, Selasa (17/10).

Setelah diamankan, mereka akan mendapat perawatan. Biayanya didapat dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Sebagian yang memiliki keluarga, dikembalikan ke keluarga mereka. 

Tapi sayangnya ketika petugas pulang, anggota keluarganya yang mengalami gangguan kejiwaan malah kembali tak dipedulikan. Hal ini terbukti karena beberapa yang diamankan adalah orang yang sama.

"Perawatan tergantung rumah sakit. Kita serahkan kepada keluarga dan mereka terima tapi, setelah petugas pulang mereka biarkan kembali yang tidak waras itu. Intinya keluarga harus peduli," katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Kota Pontianak, Aswin Djafar mengatakan, pihaknya terus berupaya mengatasi persoalan tersebut. Bahkan telah ada tim khusus yang dibuat. Tim itu berasal dari internal juga eksternal Dinsos. 

Di antaranya dari kelurahan, kecamatan, Dinas Kesehatan, kepolisian, Satpol-PP dan lainnya.

"Ini sudah berjalan. Yang jelas yang namanya urusan ini kan ndak habis-habis. Ada muncul ya tetap kita tangkap," ucapnya.

Soal penderita gangguan kejiwaan, dia mengatakan sebagian ditolak keluarga mereka. Maka tak heran jika banyak ditemukan di jalan. Mereka tentu tidak tahu alamat dan beberapa di antaranya tidak memiliki identitas. 

Ada pula yang berasal dari luar daerah. Jika susah sembuh, mereka akan dikembalikan ke rumah. 

"Salah satunya ada dari NTT. Mungkin nanti bulan Januari akan kita kembalikan. Kita masukkan ke rumah sakit jiwa, nanti balik lagi, kita kembalikan. Anggap di situ kayak rumah singgahlah," ucapnya. 

Aswin menerangkan, faktor keluarga, lingkungan, hingga memiliki riwayat sebagai pemakai narkoba bisa menjadi penyebab seseorang menderita gangguan kejiwaan. Ada pula yang disebabkan karena keturunan. Menurutnya banyak hal yang bisa mempengaruhinya.

Selama ini pemerintah kota memang memiliki anggaran perawatan yang kini masuk dalam BPJS Kesehatan. Aswin menerangkan perawatan pasti diberikan. Namun seringkali, ketika sudah tenang dan dikembalikan, malah balik ke jalan. 

"Tapi nanti sudah agak tenang, dia balik lagi ke jalan. Kecuali yang memang ada keluarganya. Kalau tidak ada keluarganya kita taruh di UPRS," sebutnya. 
Namun masalahnya, unit milik pemerintah itu memiliki keterbatasan kapasitas. 

"Jadi tidak semua bisa pakai, mungkin ada juga yang masih ditemukan di lapangan," pungkasnya.

Perlindungan Keluarga

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Pontianak, Satarudin mengungkapkan salah satu penyebab gangguan kejiwaan adalah beban pikiran. Dari artikel yang pernah dia baca, beban pikiran jadi hal yang paling banyak berpengaruh. Apalagi jika beban itu ditanggung sendiri.

Politisi PDI Perjuangan ini mengatakan, komunikasi dan lingkungan akan mempengaruhi kesehatan pikiran seseorang. Makanya penting untuk keluarga menjaga komunikasi satu sama lain. Intensitasnya pun harus ditingkatkan. Jika perlu ada waktu khusus kumpul keluarga.

"Misalnya dengan makan bersama, saling berbagi apa yang dilakukan sehari, kalau saling terbuka, beban pikiran paling tidak akan berkurang," katanya, Selasa (17/10).

Waktu-waktu bersama dengan keluarga akan lebih baik. Apalagi jika punya teman dekat yang bisa jadi tempat berbagi. Dikatakan dia pula, beban pikiran itu bisa berasal dari mana saja. Tempat kerja bahkan lingkungan sekitar.

Apalagi jika sudah dinyatakan mengalami gangguan kejiwaan. Keluarga menurutnya ikut memberi pengaruh. Mereka memang harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit jiwa, tapi ketika sudah kembali, keluarga juga mesti pro aktif dan tidak mengucilkan mereka.

"Memang kalau di kita kasus seperti pemasungan tidak ada. Kebanyakan malah mereka dibiarkan, dilepas begitu saja, di jalan juga biasa kita lihat. Seharusnya mereka dibawa ke rumah sakit atau dilaporkan ke Dinsos," sebutnya.

Upaya Dinsos untuk melakukan razia menurutnya sudah cukup baik. Namun demikian, perlu ada kepastian bahwa penderita gangguan kejiwaan yang diamankan, benar-benar ditangani secara baik. Harus ada sejumlah terapi yang diberikan, bukan sekadar obat.

"Jangan sampai ketika keluar nanti, malah diamankan lagi dengan sebab yang sama. Kalau seperti ini berarti hanya berputar di situ-situ saja," ungkapnya.

Penanganan di rumah sakit diharapkan maksimal. Jangan karena identitas tak diketahui, penderita tersebut justru tak diurus. Pertolongan pertama harus diupayakan. Walau tengah sakit, bukan berarti kemanusiaan diabaikan.

"Kalau dari laporan dinas, semua dibawa ke rumah sakit, ada juga yang dikembalikan ke keluarga. Biasanya mereka ini dari luas Pontianak," pungkasnya. (bls/and)

Komentar