HET Dorong Petani Olah Beras Premium

Ponticity

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 240

HET Dorong Petani Olah Beras Premium
BERAS KHUSUS - Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura Kalbar, Heronimus Hero, menunjukkan produk beras merah dan beras hitam dalam pelaksanaan pasar murah di Rumah Radakng, Pontianak, Kamis (11/1). (SP/Anugrah)
PONTIANAK, SP - Pemerintah Pusat melalui Kementerian Perdagangan sudah menetapkan Harga Eceran Tertinggi (HET) untuk komoditas beras. Untuk Kalbar, HET beras medium Rp9.950 per kilogram dan premium Rp13.300 per kilogram.

Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Hortikultura Heronimus Hero menilai, penerapan HET itu mendorong petani untuk mengolah padi menjadi beras premium. Begitu juga dengan distributor yang lebih dominan menjual beras premium.

Sementara, perbedaan dua tipe beras itu terletak pada proses penggilingan yang berpengaruh pada kualitas beras. 

“HET juga mempengaruhi strategi masyarakat untuk memproduksi beras sesuai kualitasnya. Ketika ada selisih harga yang lebih besar tentu petani mengolah beras premium yang harga jualnya bisa Rp13.300,” kata Heronimus di Pontianak.

“Jadi mereka (petani) ingin mengejar nilai tambah yang tinggi, makanya fokus pada beras premium. Itu hanya pada masalah penggilingan saja guna menghasilkan kualitasnya,” lanjut dia.

Hal ini pun mempertegas bukan karena pengaruh dari produktivitas beras. Hero mengklaim produksi beras Kalbar melimpah. 

“Sama sekali tidak ada kaitannya dengan produksi, produksi beras saat ini sangat luar biasa. Jadi Kalbar surplusnya kalau berdasarkan statistik sudah 400.000 ton. Jadi rata-rata per bulan itu hampir 20.000 ton,” ungkapnya.

Hero justru menilai dengan adanya HET itu maka masyarakat juga diuntungkan. Sebab dengan harga berkisar Rp12.000-Rp13.000 bisa mendapatkan beras dengan kualitas premium. Kondisi ini berbeda dengan sebelumnya. Dengan harga yang sama, masyarakat juga mendapatkan beras dengan kualitas medium.

“Kalau memang karena suplai terbatas dengan seiring dengan penetapan harga, maka masyarakat juga diuntungkan. Yang sebelumnya mendapatkan beras medium dengan harga premium, saat ini beras medium mendapatan harga medium,” terang Hero.

Hero mengakui untuk masyarakat di perkotaan memang lebih dominan menggunakan beras premium. Kualitas beras menjadi pertimbangan. Begitu juga dengan warna beras yang lebih putih.

Namun ia pun tak menampik ada juga masyarakat yang menggunakan beras medium. Khususnya masyarakat yang menjadikan harga sebagai pertimbangan untuk membeli beras. Dan umumnya, beras tipe ini dijual secara per kilogram.

Sementara itu, pada peringatan HUT Pemprov Kalbar ke 61, Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kalbar juga turut meramaikan pelaksanaan pasar murah di Rumah Radakng Pontianak, Kamis (11/1).

Menurut Heronimus, selain turut memeriahkan pelaksanaan HUT Pemprov Kalbar, pihaknya ingin menjawab ketidakpercayaan publik terhadap surplus beras yang dimiliki Kalbar dengan mendatangkan hampir 2 ton beras. 

Heronimus mengatakan produk beras yang didatangkan pihaknya merupakan produk dari jaringan pembinaan kelompok tani dengan harga jauh dari harga pasaran. 

“Kualitas premuim tapi dijual harga tujuh ribu lima ratus,” ujarnya.

Beras didatangkan dari Kabupaten Sambas. Untuk harga diberlakukan subsidi silang, sehingga harga tidak dipengaruhi oleh biaya angkut.

Selain itu ada pula beberapa beras khusus yang didatangkan, yaitu beras hitam dan beras merah yang menurutnya tidak bisa dijual dengan harga biasa. Harga kedua jenis beras tersebut dijual dengan harga Rp25 ribu per kilogram.

“Tapi varian produk kita yang ingin kita tunjukkan di sini,” imbuhnya.

Beras jenis khusus ini didatangkan dari Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Landak dan Kabupaten  Bengkayang.

Dalam pengembangan beras khusus, Heronimus menuturkan bahwa pihaknya tidak lagi mengarahkan para petani. Karena petani telah mengerti dari segi ekonomisnya produk beras tersebut sangat menguntungkan karena permintaan masyarakat terhadap beras sehat cukup tinggi.

“Jadi kalau masyarakat yang ingin mengejar keuntungan lebih cepat, lebih tinggi umpamanya, dari nilai tambahnya mereka pasti mau menanam beras merah, beras khusus ini. Beras merah, beras hitam karena memang karakternya untuk kesehatan,” tambahnya.

Selain produk beras, pihaknya turut menghadirkan komoditi-komoditi holtikultura seperti sayur hidroponik yang sudah mulai dikembangkan. Hal itu dilakukan juga untuk menunjukkan bahwa pihaknya setiap hari melakukan tanam dan panen sesuai dengan arahan Kementerian Pertanian. (jek/rah/ind)

Komentar