Nobar Film Bunda: Kisah Cinta Dua Kodi

Ponticity

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 520

Nobar Film Bunda: Kisah Cinta Dua Kodi
NONTON BARENG – Peserta nonton bareng (nobar) film Bunda: Kisah Cinta Dua Kodi memenuhi lobi studio XXI Ayani Mega Mall, Selasa (31/1) malam. (SP/Balasa)

Sinema Menyatukan Hati Suami Istri


Banyak hal yang mungkin berat untuk dikatakan suami kepada istri. Jika itu dibicarakan, kemungkinan terjadi konflik dalam rumah tangga. Begitu juga sebaiknya bagi istri. Itulah alasan kenapa Anda harus menonton film ini.

SP - Saka Aditya (26) dan istrinya, Nur Fitria (26) sudah tiba di XXI Ayani Mega Mall sejak pukul 20.00 WIB, Selasa (31/1). Tak hanya berdua, pasangan muda ini turut mengajak anak balitanya, ibu, serta dua saudara. Malam itu, mereka jadi bagian dari dua studio yang penuh peserta nonton bareng (nobar) film Bunda: Kisah Cinta Dua Kodi.

Tak ada ekspektasi berlebih. Malam itu mereka hanya penasaran dan ingin jalan-jalan keluarga. Saka malah tidak begitu paham, sang istri yang lebih banyak menjelaskan ketika Suara Pemred bertanya soal film yang akan mereka tonton.

Makin lama, rombongan orang makin banyak datang. Didominasi perempuan, mereka mulai menukar tiket. Tika Kartika, perempuan tangguh yang jadi tokoh utama film itu hadir di sana. Perempuan yang dalam film diperankan Acha Septriasa itu, jadi sasaran swafoto para penonton. Tak ketinggalan pula Rendy Saputra, produser dari Inspira Pictures, rumah produksi baru yang membikin film tersebut.

Sejatinya, film ini baru akan dirilis di seluruh Indonesia 8 Februari 2018 mendatang. Namun sejak awal, ternyata sudah banyak yang menunggu film yang diangkat dari novel kisah nyata tulisan Asma Nadia tersebut. Kisah perjuangan hidup dan keluarga Tika Kartika, pengusaha sukses pakaian muslimah Indonesia.

Bagaimana tidak, nobar di Pontianak dua studio penuh. Di Karawang empat studio. Samarinda lima studio dan akan menyusul Balikpapan dengan 10 studio. Belum di Jakarta dan Bandung yang lebih dulu menggelar nobar. Lantas, apa yang istimewa?

Film yang disutradarai Ali Eunoia dan Bobby Prasetyo ini mengisahkan Tika yang berjuang keras menyelamatkan kehidupan keluarga dan rumah tangganya demi sebuah harapan, impian, dan cintanya kepada suami dan anak-anaknya. Berhenti kerja, dia mencoba sesuatu yang sebelumnya tabu, berdagang baju. Di kehidupan nyata kini, Tika jadi salah satu pengusaha baju muslim terkemuka.

Keputusannya makin diuji ketika sang suami yang diperankan Ario Bayu, memutuskan jadi ayah rumah tangga. Tulang punggung keluarga itu goyah. Makin berat, ketika Tika harus mengikuti permintaan terakhir mertuanya, untuk mengiklaskan sang suami menikah dengan wanita pilihan mertua.

Jatuh bangun itu bukan tanpa bumbu. Konflik-konflik terus datang seiring komunikasi merenggang. Namun komunikasi itu pula yang menyatukan hati mereka.

Soal dua kodi yang jadi judul film, ternyata adalah jumlah modal baju yang Tika jual. Dari dua kodi pakaian itu, perjalanan hidup penuh inspirasinya dimulai. Sampai kisahnya dibukukan dan dilayarlebarkan. Pemerannya pun tak main-main. Selain Acha Septriasa dan Ario Bayu, ada pula nama macam Wulan Guritno, Inggrid Widjanarko, Tri Yudiman, Budi Dalton, Arina Hasiko Asahy Mindhisya dan Syaquilla Nugraha.

"Filmnya cocok untuk suami istri. Karena tentang permasalahan suami istri. Tentang ego dan ambisi seorang istri," cerita Saka usai menonton.

Tampak wajah sumringah seperti baru saja gembira dan lega di saat yang sama. Wajah-wajah penonton lain pun sama. Malah sebagian besar, masih sembab. Mereka terharu, sekaligus terbantu.

"Intinya kasih sayang dan saling mengerti. Memprioritaskan keluarga dan bisa menempatkan posisi antara pekerjaan dan kehidupan di rumah," imbuh Saka waktu ditanya soal pelajaran yang dia ambil setelah menonton film berdurasi kurang lebih satu setengah jam itu.

Sebelum nobar dimulai, Suara Pemred sempat berbincang dengan Tika Kartika. Perempuan yang kisahnya menyentuh banyak orang itu merasa, film ini sebenarnya bukan melulu cerita tentang dia. Tapi tentang kita.

"Saya rasa jutaan perempuan di Indonesia mengalami apa yang saya alami. Apalagi kita selaku perempuan berbisnis. Kita pun dalam rumah tangga, nomor utama tetap keluarga. Jadi saya rasa semua mengalami, cuma mungkin konfliknya berbeda," ucapnya.

Dia berharap film ini bisa memotivasi semua orang. Tak peduli istri, suami atau anak. Alasannya, dalam film, tak ada peran antagonis dan protagonis. Semua sama.

"Semoga para keluarga makin erat dan suami bisa mendukung istri ketika usaha. Kadang kita tidak bisa mengukur kebahagiaan anak melalui materi, kadang apa yang menurut kita lebih baik, itu belum tentu. Jadi di film ini kita bisa belajar bagaimana cara kita membahagiakan anak dengan apa," pungkasnya.

Sementara itu, Rendy Saputra meyakinkan film ini bukan semata-mata tujuan komersial. Tapi punya pelajaran soal entrepreneur dan keluarga. Nobar sebelum rilis sengaja dilakukan karena dia yakin, para penonton awal bisa jadi agen penjual filmnya ke orang-orang. Pengalaman mereka menonton, adalah sebenar-benarnya promosi.

Dia berharap film pertama rumah produksinya bisa meraup satu juta penonton. Namun dia juga tidak menyangkal bila ingin melewati rekor MURI jumlah penonton terbanyak yang dipegang Warkop Reborn dengan 6,8 juta penonton. Apalagi filmnya tayang dua pekan usai Dilan 1990 yang tengah moncer. Dan penonton Indonesia lagi oke-okenya.

"Film ini di layar, kalau suami istri menonton, komunikasi itu diwakilkan oleh layar. Suara istri ada di layar. Suara suami ada di layar. Jadi semoga setelah mereka keluar, mereka rekonsiliasi tanpa mereka harus berkata apa-apa," tutup Rendy ketika diminta mempromosikan filmnya. (kristiawan balasa/ind)