Sekuriti Bandara Ungkap FN Tak Sebut Bom

Ponticity

Editor Jindan Dibaca : 1932

Sekuriti Bandara Ungkap FN Tak Sebut Bom
Sidang FN di Mempawah

PONTIANAK, SP - Sidang lanjutan mendengarkan keterangan saksi dalam peristiwa kasus candaan bom yang terjadi di dalam pesawat Lion Air JT 687 dengan terdakwa Frantinus Nirigi (FN) di Pengadilan Negeri Mempawah berlangsung alot, kemarin. 

Jaksa penuntut umum (JPU) Kejari Mempawah sejatinya menghadirkan 11 saksi, namun hanya 9 saksi yang dapat  memberikan keterangan dalam sidang yang digelar sampai pukul 21.30 WIB tersebut.

Satu di antara saksi Edi Subadi, sekuriti Bandara Supadio Pontianak yang pertama kali melakukan pemeriksaan terhadap FN usai mendapat laporan dari pramugari Lion Air, Cindy Veronika Muaya.

Saat peristiwa tersebut, Edi menyebutkan bahwa FN tidak ada menyebutkan kata bom. FN hanya menyebutkan 'ada tiga laptop bu' dalam aksen logat orang Papua.

"Waktu saya tanya, saudara Nirigi bilang 'ada tiga laptop bu'," ungkap Edi.

Edi kemudian memeriksa isi tas FN dan mendapati barang-barang seperti yang dikatakan Frantinus. Dia pun kembali menemui Cindy dan menyampaikan adanya kekeliruan pendengaran tersebut. 

Kesaksian Edi, diperkuat oleh kesaksian atasannya yang juga menjadi saksi, Rudi Sanjaya yang turut melakukan interogasi awal paska peristiwa tersebut. 

Menurut Rudi, Frantinus sama sekali tidak ada menyebutkan kata bom. Frantinus juga berulang kali hanya menyebutkan 'awas ada laptop bu'. 

"Saat diinterogasi, FN sempat termenung dan terdiam selama sekitar sepuluh menit," ungkap Rudi. 

Rudi juga mengungkapkan bahwa pihaknya hanya melakukan interogasi awal terhadap FN, sebelum interogasi lanjutan diserahkan kepada pihak kepolisian.

Sementara itu, saksi kunci dalam peristiwa ini yaitu pramugari Cindy Veronika Muaya bersikukuh bahwa yang didengarnya saat itu adalah kata bom. Cindy merupakan pramugari yang berhadapan langsung dengan Frantinus Nirigi sebelum semua peristiwa itu terjadi. 

"Jarak saya dengan terdakwa hanya berjarak satu langkah," ungkap Cindy.

Saat itu, dirinya melihat FN datang ke dalam pesawat dan terlihat kebingungan melihat bagasi diatasnya untuk menyimpan barang yang dibawa. Cindy saat itu juga baru selesai merapikan bagasi.  Cindy kemudian meminta FN untuk meletakkan barang bawaan nya ke tempat bagasi. 

"Bapak silakan barangnya diletakkan di sini, hati-hati," ungkap Cindy. 

Cindy menambahkan, saat meletakkan tasnya, sambil tersenyum FN mengatakan bahwa di tas ada bom. 

"Di tas ada bom, saya mendengar itu sangat jelas, sangat pasti dan fasih. Saya langsung bilang, bapak jangan bercanda seperti itu di dalam pesawat," kata Cindy.

Dibantah Frantinus

Kesaksian dari Cindy kemudian dibantah langsung terdakwa Frantinus usai memberikan kesaksian. Menurut FN, ada beberapa kesaksian Cindy yang menurutnya tidak benar. 

FN mengungkapkan saat itu dirinya baru tiba dan duduk di kursi sambil memangku tas yang dibawanya. Dia juga mengatakan bahwa saat itu tidak dalam kondisi sedang kebingungan.

Cindy kemudian datang menghampirinya dan meminta untuk meletakkan barang di tempat bagasi. Usai meletakkan barang miliknya, FN kemudian duduk kembali. 

Dia kemudian melihat Cindy memasukkan tas miliknya itu dengan kasar tepat di tempat bagasi yang ada di atas tempat duduknya saat itu.

"Saya bilang, awas Bu, ada tiga laptop di situ. Tidak ada bilang bom," ujar FN dengan logat kental khas Papua. 

Bahkan majelis hakim juga terlihat mengernyitkan dahi untuk mendengarkan dan memastikan kalimat yang diucapkan FN dengan logat kental Papua tersebut.

"Jadi intinya, saudara tidak ada bilang 'awas ada bom', tapi 'awas bu', ya," tanya ketua majelis hakim, I Komang Dediek Prayoga kepada FN untuk meyakinkan.

Kuasa hukum Frantinus Nirigi (FN), Andel, meminta menghadirkan barang bukti berupa pesawat Lion Air JT 687 dalam persidangan kasus candaan bom yang berlangsung di Pengadilan Negeri Mempawah.

Menurut Andel pesawat merupakan barang bukti tempat dimana peristiwa kepanikan yang terjadi pada 28 Mei 2018 di Bandara Internasional Supadio Pontianak. 

"Pesawat juga kita minta dihadirkan, tapi tak bisa dihadirkan. Padahal pesawat itu barang bukti lho," ujar Andel.

Peristiwa kepanikan bermula dari pengumuman yang disampaikan oleh pramugari Lion Air JT 687 yang menyebutkan adanya salah satu penumpang yang diduga membawa bahan peledak, sehingga para penumpang diminta turun dari pesawat. 

Andel menyebutkan bahwa FN sama sekali tidak ada menyebutkan kata-kata bom, melainkan 'awas Bu'.

 "Hanya saksi pramugari bernama Cindy Veronika Muaya saja yang mengaku mendengar, sedangkan saksi lainnya tidak ada yang mendengar langsung. Hanya mendengar dari si Cindy itu," ujar Andel.

Pernyataan Cindy juga dimentahkan oleh sekuriti bandara (Avsec) yang melakukan pemeriksaan terhadap FN saat itu. Petugas sekuriti bahkan memberikan kesaksian, bahwa ketika dinterogasi pertama kali, FN sama sekali tidak ada menyebutkan kata bom. 

Dalam sidang tersebut, Jaksa menghadirkan dua orang saksi yang merupakan anggota Avsec, yaitu Rudi Sanjaya dan Edi Subaidi. 

"Kedua saksi anggota Avsec ini tidak ada sama sekali mendengar kata bom saat melakukan interogasi terhadap FN," ujarnya. 

"Itu fakta yang sebenarnya terjadi dan terungkap di persidangan. Frantinus mengatakan 'awas Bu', itulah fakta sebenarnya saat interogasi awal, sebelum dilakukan interogasi kepolisian dan di BAP," tegas Andel.

Jaksa Penuntut Umum Kejari Mempawah, Rezkinil Jusar mengatakan, terkait dengan fakta-fakta yang terungkap dalam persidangan tersebut, nantinya akan menjadi penilaian bagi majelis hakim untuk membuat keputusan.
  
"Bagaimana kompetensi keterangan dari masing-masing saksi yang dihadirkan itu, ya kita serahkan sepenuhnya kepada majelis hakim," ujarnya. 

Rezkinil menambahkan, keinginan kuasa hukum untuk menghadirkan barang bukti di persidangan menurutnya harus diluruskan. Pesawat tersebut, merupakan barang bukti dan bukan alat bukti.

"Nah, apakah itu suatu keharusan pesawat itu harus disita," ujarnya. 

"Kita harus ingat, pasal ini bukan terkait masalah pengrusakan (pesawat), tapi candaan," jelas Rizkinil. 

Sidang selanjutnya akan kembali digelar pada Kamis (13/9) mendatang dengan agenda kembali mendengarkan saksi. Jaksa rencananya akan menghadirkan saksi lainnya yang masih terkait dalam peristiwa ini, termasuk saksi ahli. 

Pengacara Tidak Dibayar 

Pengacara yang mendampingi Frantinus Nirigi dari Kantor Advokat dan Konsultan Hukum Andel dan Associates dipastikan tak dibayar serupiah pun dalam menangani kasus yang dihadapi terdakwa FN saat ini. 

Pernyataan tersebut disampaikan Ketua Forum Relawan Kemanusiaan Pontianak (FRKP) dan JPIC Kapusin, Bruder Stephanus Paiman menanggapi tudingan Ketua Majelis Hakim PN Mempawah yang menyebutkan jika Andel dibayar oleh kliennya sehingga ngotot dalam membela Frantinus. 

Dalam sidang tersebut, terjadi adu argumen antara pengacara, saksi dan jaksa yang ditengahi majelis hakim. Apa yang dilakukan Andel, murni sebagai bentuk rasa kemanusiaan dalam mendampingi kasus ini. 

"Saya keberatan dengan pernyataan Ketua Majelis Hakim yang mengatakan bahwa lawyer dibayar untuk mendampingi kasus ini," ujar pria yang disapa Bruder Step ini usai menghadiri sidang di PN Mempawah, kemarin.

Dalam membela klien, sudah sewajarnya jika kuasa hukum berupaya membela klien yang didampinginya dengan harapan dibebaskan. 

Yang perlu diketahui masyarakat adalah bahwa bapak Andel adalah salah seorang lawyer FRKP & JPIC Kapusin," ungkapnya. 

"Keluarga Frantinus Nirigi datang ke sekretariat FRKP di Purnama untuk minta bantuan pendampingan," tambah biarawan Kapusin ini. 

Saat didatangi pihak keluarga di Sekretariat FRKP, Bruder Step kemudian mempelajari kasus tersebut dan meminta Andel untuk mendampingi Frantinus. 

 "FRKP dan JPIC Kapusin meminta Andel untuk mendampingi kasus ini gratis," katanya. 

Hal tersebut, mengingat bahwa Frantinus adalah seorang anak perantau dari Papua dan berasal dari keluarga kurang mampu.

"Maka dalam proses ini, FRKP dan JPIC Kapusin membantu memfasilitasi biayanya," jelasnya.
Terkait hal tersebut, Andel mengatakan bahwa apa yang ia lakukan untuk Frantinus memang dilakukan secara sukarela atas dasar rasa kemanusiaan tanpa meminta bayaran.

"Sepeser pun saya tidak meminta biaya, kalau tidak percaya, silahkan tanya kepada pihak keluarga," ungkapnya. (ang)