Polda Bogkar Jaringan Narkotika Malaysia di Rutan Pontianak

Ponticity

Editor Angga Haksoro Dibaca : 272

Polda Bogkar Jaringan Narkotika Malaysia di Rutan Pontianak
Pontianak, SP – Polda Kalimantan Barat merilis hasil pengungkapan jaringan narkotika di Rutan Kelas II A Pontianak. Peredaran narkotika di rutan melibatkan 3 penghuni rutan, 1 pegawai rutan dan 3 lainnya bertindak sebagai kurir dan penampung barang.

Koko adalah warga Malaysia yang diduga sebagai pemasok dan Rudi yang pertama menawarkan pekerjaan kepada salah seorang penghuni rumah tahanan.

Kapolda Kalbar, Irjen Pol Didi Haryono menyebutkan jika biasanya narkotika yang berhasil diungkap jenis shabu, kali ini jenis ekstasi kualitas nomor satu. “Ektasi dengan berbagai warna, ada pink, abu-abu, dan orange kayak permen. Dari hasil pemeriksaan ektasi ini kualitas nomor satu,” ujar Didi dalam jumpa pers di Mapolda Kalbar, Selasa (9/10)

Didi mengatakan keberhasilan mengungkap jaringan peredaran narkotika di rutan yang melibatkan petugas Wahyu merupakan hasil kerja terpadu Polri, BNNP, Kemenkum HAM dan komponen masyarakat. “Kita ketahui masyarakat Kalbar sangat resisten dengan narkotika. Sehingga apapun bentuk narkotika pasti segera dapat kita ketahui dan kami lacak sesuai informasi dari warga masyarakat,” sebut Didi.

Barang bukti yang disita polisi antara lain 2.130 butir ektasi, satu unit sepeda motor, 2 unit mobil dan alat refleksi kaki yang dijadikan media menyelundupkan ektasi ke rutan. “Barang bukti yang lain mulai dari handpone jadul, sampai dengan modern. Bahkan ada surat gadai  sertifikat tanah, buku tabungan. Semua transaksinya elektronik,” kata Didi.

Penghuni rutan yang terlibat kasus ini hampir semuanya terpidana kasus narkotika. Burhan alias Boang misalnya, orang pertama yang menerima tawaran pekerjaan mengedarkan narkotika di rutan dari tersangka Rudi, pada tahun 2013 divonis 10 tahun penjara karena membawa 2 kilo narkotika.

Tahun 2017 Boang divonis 20 tahun karena membawa 2 kilo sabu. Boang baru menjalani 1 tahun masa hukuman di Rutan Pontianak.

Tersangka lainnya penghuni rutan, Andi, tahun 2007 divonis 4 tahun penjara karena membawa sabu 96 gram. Tahun 2010 Andi divonis 10 tahun atas kasus narkotika seberat 100 gram dan tahun 2016 divonis 6 tahun dengan barang bukti sabu 5 kilo.

Penghuni lainnya Darmadi, tahun 2010 divonis 4 tahun penjara karena kasus narkotika. 

Tahun 2016, Darmadi dihukum 7 tahun karena kasus narkotika dan tahun 2017 divonis 12 tahun karena membawa 1 kilo sabu dan 1993 butir ektasi. Untuk kasus yang terakhir, Darmadi juga bekerja sama dengan sipir penjara Dedi Rahmadi.

“Mereka semua terlibat kasus narkotika dari balik rutan. Padahal belum usai hukumannya malah sudah berbuat lagi tanpa ada kapok-kapoknya,” ujar Kapolda.

Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kemenkum HAM Kalbar, Rochadi Iman Santoso pada kesempatan yang sama menyebutkan dalam rentang waktu yang tidak berjauhan ,tercatat 3 petugas Rutan yang terlibat kasus peredaaran narkotika di dalam penjara.

“Tahun lalu ada Dedi, Supriono, dan yang ketiga ini Wahyu. Ini menggambarkan bagaimana interaksi antara warga binaan narkotika dan petugas,” ujar Rochadi.

Karena itu, Rochadi akan memindahkan para petugas lama baik itu di rutan maupun lapas dengan CPNS. Tahun ini Menkum HAM menerima 354 pegawai baru.

“Mereka yang sudah begitu lama, yang sering berinteraksi. Kami harapkan tidak ada lagi petugas yang terlibat,” imbuhnya

Rochadi juga menyebutkan, ancaman hukuman  mati terpidana kasus narkotika tidak menyurutkan hasrat mereka berbisnis barang haram tersebut.  

“Kami harus mengawasi mereka para gembong narkotika, sampai yang baru dan menengah. Ini yang kami minta kerja sama dengan aparat penegak hukum seperti polisi dan BNN untuk mengawal Kalimantan Barat zero narkotika,” katanya.

Rochadi juga meminta  kepada Menteri untuk tidak menerima pindahan napi narkotika dari luar Kalimantan Barat. “Kami ngurus yang di dalam aja cukup repot apalagi tambah lagi dari luar. Sudah direspon Pak Menteri, tidak ada lagi tambahan dari luar.” (nak/)