Sidiq : Orang Tua Menolak Anaknya Divaksin, Realisasi Imunisasi MR di Pontianak Baru 24 Persen

Ponticity

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 209

Sidiq : Orang Tua Menolak Anaknya Divaksin, Realisasi Imunisasi MR di Pontianak Baru 24 Persen
DIVAKSIN - Seorang siswi mendapatkan vaksin Measles Rubella. Realisasi program imunisasi Campak dan MR di Kota Pontianak baru 24 persen dari target. (Okz)
Kadis Kesehatan Kota Pontianak, Sidiq Handanu 
"Hingga saat ini, tercatat realisasi imunisasi Campak dan MR di Kota Pontianak baru sekitar 24 persen" 

PONTIANAK, SP - Capaian atau realisasi program imunisasi Campak dan Measles Rubella (MR) di Kota Pontianak masih rendah. Hingga awal Oktober 2018, realisasi program ini baru 24 persen dari target yang ingin dicapai.

"Hingga saat ini, tercatat realisasi imunisasi Campak dan MR di Kota Pontianak baru sekitar 24 persen," kata Kadis Kesehatan Kota Pontianak, Sidiq Handanu di Pontianak, Rabu (10/10).

Pemkot Pontianak sendiri sebelumnya menargetkan 100 persen anak-anak di Kota Pontianak mendapatkan imunisasi campak dan MR. Sasaran cakupan imunisasi adalah anak dengan usia 9 – 15 tahun dimana  ada sekitar 150 ribu warga dengan rentang usia tersebut. 

Sidiq mengatakan, sebagian besar masyarakat belum bersedia anak-anaknya diberikan vaksin tersebut. Namun meski demikian pihaknya saat ini terus melakukan sosialisasi terkait pentingnya bagi anak-anak agar mendapatkan imunisasi, baik vaksin rubella maupun campak.

Selain itu, menurut dia, pihaknya juga masih menunggu intruksi selanjutnya dari Kementerian Kesehatan, terkait daerah yang tidak mencapai target imunisasi Campak dan MR tersebut.

"Yang pasti kami dari Dinas Kesehatan terus melakukan upaya-upaya dalam meningkatkan capaian dari imunisasi tersebut, dengan terus melakukan penyuluhan dan sosialisasi kepada masyarakat," katanya.

Data Dinkes Kota Pontianak juga mencatat sepanjang 2017, dari sebanyak 90 kasus yang diduga mirip atau badannya merah-merah setelah dilakukan pengecekan, sebanyak 22 kasus positif campak, dan 19 kasus positif MR.

Kemudian hingga September 2018, dari 33 sampel sebanyak sembilan kasus positif campak, dan 10 positif MR.

"Jadi memang virus MR ada di sekitar kita, sehingga masyarakat diimbau untuk memberikan imunisasi pada anak-anak mereka dalam rangka melakukan pencegahan tersebut," katanya.

Virus MR yang paling ditakutkan, yakni menular pada ibu hamil, karena bisa berdampak fatal. Data terakhir di Rumah Ramah Rubella di Pontianak tercatat 36 anak tertular MR, karena ibunya tertular virus tersebut saat hamil. 

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalbar, Andijap mengungkapkan, virus measles dan rubella (MR) sangat berbahaya jika tertular kepada ibu hamil. Bahkan, dampaknya bisa menyebabkan janin di dalam kandungan mengalami cacat visik. 

"Yang paling berbahaya itu apabila virus MR ini tertular kepada ibu hamil pada trimester pertama atau hamil muda. Itu yang kita khawatirkan," katanya, belum lama ini. 

Menurutnya, penanganan penderita yang terinveksi virus MR, memang relatif mudah. Sebab, tidak perlu obat khusus.  Hanya ditangani dengan memberikan vaksin virus biasa, penderita bisa sembuh. 

"Tetapi, itu tadi, dia akan menjadi berbahaya kalau virusnya menular ke ibu hamil," ucapnya lagi.

Sebab itu, untuk pencegahan penularan virus MR, maka pemerintah melaksanakan imunisasi secara masif. Anak-anak disuntik vaksin, untuk menambah kekebalan tubuhnya. 

Capai 64 Persen

Menurut Andijap, sampai saat ini pelaksanaan imunisasi MR di 14 kabupaten dan kota di Kalbar baru mencapai sekitar 64 persen. Pelaksanaan imunisasi MR tertingi berada di Kabupaten Sambas, Bengkayang, Landak dan Sanggau. 

"Di empat kabupaten ini, pelaksanaan imunisasi MR-nya mencapai 90 persen. Sementara, di Kubu Raya, Kota Pontianak, Singkawang, Mempawah, Kayong utara, dan Ketapang, masih berada di bawah 50 persen," ungkapnya. 

Bagi daerah yang pelaksanaan imunisasi MR-nya masih rendah, Andijap berharap, semua pihak, termasuk tokoh masyarakat dan tokoh agama  kembali membantu pemerintah melakukan sosialisasi tentang pentingnya memberikan imunisasi MR tersebut kepada anak-anaknya.

Sebab, jumlah kasus penderita penularan virus MR di Kalbar cukup tinggi. "Di Kubu Raya ada 12 kasus. Tetapi, semuanya bisa ditangani. Tetapi, kita khawati kalau virus tersebut menular ke ibu hamil. Takut janin atau bayi lahri cacat," pungkasnya. (abd/ant/hms/ind)

Sambas Tinggal Dua Persen

Berbeda dengan Kota Pontianak, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sambas, Fattah Maryunani menyebutkan pemberian vaksin MR di daerahnya sudah mencapai 98 persen dari total anak yang wajib ikut vaksin tersebut.

"Persentase yang ada saat ini sudah cukup membanggakan. Hanya tinggal dua persen lagi yang belum melakukan vaksin MR," ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa pihaknya akan terus melaksanakan pemberian vaksin MR di Kabupaten Sambas hingga mencapai 100 persen.

"Pemberian vaksinasi MR sesuai dengan batas waktu yang diberikan oleh pihak pemerintah provinsi dan terus kita lanjutkan hingga akhir Oktober 2018," kata dia.

Ia memaparkan hanya terdapat satu kecamatan di Kabupaten Sambas yang masih belum mencapai 80 persen vaksin MR tersebut.

"Wilayah yang masih saya nilai merah itu di Kecamatan Selakau Timur, dengan pelaksanaan vaksinasi di kecamatan tersebut masih di bawah 80 persen," papar dia.

Lanjutnya,dengan penambahan waktu vaksin MR hingga akhir Oktober 2018 oleh pemerintah provinsi ia mengajak semua pihak untuk mendorong warga memberikan vaksin MR ke anak-anak mereka.

"Kita mengajak masyarakat ikut program imunisasi vaksin MR demi kesehatan generasi mendatang," katanya. (ant/ind)