q Suara Pemred − Salah Tata Kota, Pontianak ‘Menggali Kubur Sendiri’

Salah Tata Kota, Pontianak ‘Menggali Kubur Sendiri’

Ponticity

Editor Angga Haksoro Dibaca : 1513

Salah Tata Kota, Pontianak ‘Menggali Kubur Sendiri’
Plt Wali Kota Pontianak melepas bibit ikan ke parit.
Pontianak, SP - Pegiat Urbanisme Warga Pontianak, Deman Huri mengatakan bahwa Kota Pontianak sendiri belum memiliki tata kelola kota yang baik. Kota Pontianak adalah kota air yang permukaan tanahnya tidak lebih dari 1,5 meter di atas permukaan laut.  

Menurut Deman, Kota Pontianak rawan banjir karena dikelilingi lahan gambut yang akan dipenuhi air saat hujan. “Sementara Kota Pontianak tidak punya manajemen bencana yang baik untuk menghadapi ini,” kata Deman Huri, Senin (12/11).  

Kota Pontianak dikenal sebagai ‘Kota Seribu Parit’, ada kurang lebih 3.500 parit di Kota Pontianak baik yang primer, sekunder, maupun tersier. Namun parit sekarang berubah fungsi, sehingga tidak digunakan sebagai kesatuan hidrologi air.  

Parit tidak hanya difungsikan sebagai sarana air mengalir, tapi juga drainase kota. Akibatnya parit dipenuhi limbah pabrik, rumah sakit, dan rumah tangga. “Parit mengalami pendangkalan.”  

Ketika parit mengalami pendangkalan akibatnya distribusi air terhambat. Daerah cekungan di selatan, tenggara, dan barat Kota Pontianak menjadi sering kebanjiran.   Menurut  Deman, lebar saat ini juga berkurang akibat betonisas. Kondisi parit di daerah Purnama, dan Parit Tokaya menyempit sekitar satu meter akibat dibeton.  

Pemerintah juga dinilai tidak memiliki tata kelola gambut yang baik. Dibeberapa tempat yang gambutnya sudah terbuka seperti di utara, selatan, dan barat Kota Pontianak, penurunan muka tanahnya sekitar 2 centimeter.  

“Hal ini kalau dibiarkan secara terus menerus akan membawa Pontianak kepada bencana ekologis yang sangat berbahaya sekali,” jelas Deman.  

Kepedulian pemerintah terhadap konservasi sumber daya air juga dianggap minim. Pemerintah hanya fokus pada infrastruktur, padahal pembangunan infrastruktur menghancurkan ekologi di sekitarnya.

Kota Pontianak membutuhkan manajemen tata kelola sumber daya air yang baik. Selama tahun ini lima kali Kota Pontianak mengalami banjir. “Bisa jadi suatu saat tinggi air akan melebihi tinggi Kota Pontianak.”  

Deman menyarankan paradigma pembangunan harus diubah berbasis landscape. Tidak hanya berorientasi kepada pembangunan infrastruktur, tapi mengesampingkan efek ekologis yang akan ditimbulkan. (din)