Revitalisasi Pusat Perbelajaan Tradisional, Pemkot Prioritaskan Bangun Tiga Pasar

Ponticity

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 93

Revitalisasi Pusat Perbelajaan Tradisional, Pemkot Prioritaskan Bangun Tiga Pasar
DIREVITALISASI - Pemerintah pusat melalui Kementerian Perdagangan merevitalisasi sejumlah pasar tradisional pada 2018, di antaranya yakni pasar tradisional di Kota Pontianak. (SP/Bob)
Kadisdagkop UKM Kota Pontianak, Haryadi S Triwibowo
"Ada tiga pasar tradisional yang dibangun atau direnovasi tahun ini dan tahun depan, yakni pasar di Jalan Harapan Jaya, kemudian Pasar Bukit Timah di kawasan Pasar Tengah, dan Pasar Ikan, di kawasan Pasar Flamboyan Pontianak."

PONTIANAK, SP - Pemerintah Kota Pontianak, akan memprioritaskan pembangunan kembali tiga pasar tradisional di kota itu, kata Kepala Dinas Koperasi Usaha Mikro dan Perdagangan Kota Pontianak, Haryadi S Triwibowo.

"Ada tiga pasar tradisional yang dibangun atau direnovasi tahun ini dan tahun depan, yakni pasar di Jalan Harapan Jaya, kemudian Pasar Bukit Timah di kawasan Pasar Tengah, dan Pasar Ikan, di kawasan Pasar Flamboyan Pontianak," kata Haryadi S Triwibowo, kemarin.

Ia menjelaskan, pengerjaan dua pasar tradisional, yakni pasar di Jalan Harapan Jaya dan Pasar Bukit Timah di kawasan Pasar Tengah menggunakan anggaran yang bersumber dari APBD Kota Pontianak.

"Sementara itu, Pasar Ikan di kawasan Pasar Flamboyan menggunakan pembiayaan yang bersumber dari APBN," ungkapnya.

Ia menambahkan, untuk pasar di Jalan Harapan Jaya melanjutkan pembangunan tahun sebelumnya dan biayanya dari APBD Kota Pontianak.

"Secara spesifik pasar di Jalan Harapan Jaya adalah pasar rakyat, yakni pasar yang menjual berbagai kebutuhan masyarakat yang bermukim di sekitar pasar tersebut," ujarnya.

Pasar tersebut dibangun tidak bertingkat, yakni hanya menyediakan meja untuk para pedagang menggelar dagangannya dalam menjual berbagai kebutuhan masyarakat Kota Pontianak.

"Sementara untuk Pasar Bukit Timah merupakan pasar yang menjual pakaian, sehingga dibangun dua lantai," katanya.

Kemudian, Pasar Ikan di kawasan Flamboyan diperkirakan membutuhkan anggaran sebesar Rp6 miliar yang bersumber dari APBN.

Sebelumnya, kata dia, ada pertemuan dengan pihak pedagang Pasar Ikan Flamboyan guna membahas keinginan pedagang yang berbeda dengan petunjuk teknis renovasi dari Kementerian Perdagangan.

"Keinginan pedagang nantinya tidak ada sekat, kios, dan pasar tetap dibuat terbuka," ungkapnya.

Permintaan seperti itu agar ada sirkulasi udara. "Pedagang merasa kalau dibuat tertutup udara akan pengap, kemudian bau ikan juga tidak keluar. Belum lagi pedagang ikan kesulitan melihat keluar," katanya.

Selain itu, lanjutnya, pedagang menginginkan kondisi lapak tidak berubah atau sama dengan sebelum direnovasi, seperti pengaturan meja agar konsumen tidak perlu mutar dalam berbelanja, sehingga semua pedagang bisa dilalui konsumen.

"Sementara petunjuk teknis dari Kementerian Perdagangan berbeda, yakni mejanya lurus panjang, pedagang melihat konsumen akan memutar jauh kalau meja dibuat seperti itu," katanya.

Hariyadi menambahkan apa yang menjadi keinginan pedagang tersebut menjadi masukan dan akan disampaikan pada Kementerian Perdagangan.

Ia berharap titik temu tersebut bisa segera didapat, sehingga rencana renovasi Pasar Ikan Flamboyan itu bisa secepatnya dilakukan.

"Kalau belum ada titik temu, maka bisa bermasalah jika dilakukan pembangunan karena tidak sesuai dengan petunjuk teknis sehingga bisa jadi temuan nantinya," katanya. (lha/ant/bob)

Target Selesai Tahun 2019

Kementerian Perdagangan telah merevitalisasi sejumlah pasar tradisional pada 2018. Hal itu untuk mencapai target revitalisasi 5.000 pasar tradisional yang dicanangkan Presiden Joko Widodo. 

"Pada 2018, target kami (revitalisasi pasar) harus di atas 4.000, paling minim 4.000, sehingga nanti 2019 tinggal tambah 1000 lagi," kata Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, beberapa waktu lalu. 

Ia mengatakan, target revitalisasi pasar tradisional masih belum mencapai target, jika diasumsikan setiap tahun harus menyelesaikan 1.000 pasar. Menurutnya, baru 2.900 pasar yang direvitalisasi hingga akhir 2017. 

"Karena alokasi anggarannya terbatas. Tetapi 2018 kami dapat anggaran yang baik untuk renovasi dan revitalisasi, baik itu dana TP (tugas pembantuan) maupun DAK (dana alokasi khusus)," tutur Enggartiasto. 

Revitalisasi diperlukan untuk mengubah kesan pasar yang kumuh, kotor, dan tidak nyaman. Dengan demikian, pasar tradisional tak akan kalah saing dengan pasar moderen dan ritel yang mulai marak di era pasar bebas saat ini. 

Selain merevitalisasi pasar tradisional, pihaknya juga menekankan kepada pasar moderen menyediakan akses barang untuk pedagang pasar tradisional. Nantinya, pedagang memiliki pilihan lebih banyak untuk menyediakan barang dagangan. 

Terkait keterbatasan dana yang dimiliki pedagang pasar tradisional, Enggartiasto mengatakan, sejumlah perbankan memiliki fasilitas pemberian pinjaman. Namun, kemudahan itu belum bisa dirasakan semua daerah di Indonesia. 

"Nah bertahap, di Jakarta dan beberapa daerah sudah mulai dan tahun depan kami inventarisir yang masuk radius untuk itu. Jadi, tingkat persaingan itu sama, biar warga banyak pilihan dan kita harus mengangkat pasar itu tidak kalah bersaing," ucap Enggartiasto. (kmp/bob)