Penderita HIV/AIDS di Kota Pontianak Menurun, Peringatan Hari AIDS Sedunia ke 30

Ponticity

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 350

Penderita HIV/AIDS di Kota Pontianak Menurun, Peringatan Hari AIDS Sedunia ke 30
AKSI SIMPATIK - Peringati hari HIV/AIDS sedunia pemuda lintas organisasi di Kota Pontianak gelar aksi simpatik. Pita merah, bunga dan permen dibagikan kepada pengendara sepeda motor di sekitar Bundaran Digulis Untan, Sabtu (1/12). (SP/Dino)
Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak, Sidiq Handanu
"Dari 87 orang yang terpapar HIV/AIDS di tahun 2018, 56 adalah HIV dan sisanya AIDS. Penderitanya berkisar umur 20 sampai dengan 45 tahun" 

PONTIANAK, SP - Jumlah penderita HIV/AIDS di Kota Pontianak tahun 2018 menurun cukup signifikan. Saat ini penderita HIV/AIDS tercatat berjumlah 86 orang dengan rincian 56 penderita HIV dan 30 penderita AIDS.

Angka tersebut jauh lebih rendah dari data 2016 dimana penderita HIV/AIDS tercatat sebanyak 128 orang dan pada 2017 sebanyak 140 penderita. 

Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono berharap ke depan angka ini terus menurun dan sampai mencapai target nasional yakni tidak ada penularan HIV/AIDS baru. 

“Untuk mereka yang menjadi ODHA kita akan serahkan BPJS seumur hidup karena mereka juga perlu penyembuhan seumur hidup,” kata Edi Kamtono saat membuka acara peringatan Hari AIDS Sedunia di Kantor PMI Kota Pontianak, Minggu (2/12).  

Dikatakan Edi, menurunnya angka penderita HIV/AIDS tahun ini tak lepas dari upaya pemerintah kota dalam mengintervensi masyarakat untuk tidak melakukan seks bebas dan penggunaan jarum suntik secara bergantian.

"Masyarakat inikan selalu perlu pendampingan," katanya. 

Selain itu, pemerintah kota juga melakukan razia ke hotel-hotel dan rumah kos yang disalahgunakan. Menurutnya, dengan kebijakan ini setidaknya terjadi penekanan untuk mengurangi jumlah penderita HIV/AIDS di Kota Pontianak. 

"Ya, dengan syarat seluruh masyarakat kota Pontianak mau ikut terlibat dalam mencegah ini," sambungnya. 

Edi menyebutkan, Kota Pontianak sebagai ibukota Provinsi Kalbar adalah sebuah kota yang sangat terbuka. Akses untuk mencapai Kota Pontianak juga sangat mudah, mulai dari darat laut dan udara. Berbagai macam etnis juga ada di Kota Pontianak.

“Kota yang sangat terbuka ini rentan terhadap penyebaran penyakit global,” katanya.

Edi meminta pengawasan terhadap lingkungan tidak hanya dibebankan kepada pemerintah, namun juga diperlukan peran aktif masyarakat untuk menekan angka penderita HIV/AIDS di Kota Pontianak.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak, Sidiq Handanu mengatakan, sebagaian besar penderita HIV/AIDS di Kota Pontianak berada pada usia produktif, yakni dewasa muda pada kisaran umur 20 sampai 45 tahun. 

"Dari 87 orang yang terpapar HIV/AIDS di tahun 2018, 56 adalah HIV dan sisanya AIDS. Penderitanya berkisar umur 20 sampai dengan 45 tahun," katanya.

Untuk anak-anak yang terpapar melalui ibu yang mengidap HIV/AIDS di tahun 2018 dinyatakan tidak ada. Pihak Dinkes sendiri telah melakukan pemeriksaan dini terhadap ibu-ibu hamil. Ketika ibu tersebut terindikasi menderita HIV/AIDS akan dilakukan penanganan khusus sehingga bayinya tidak tertular HIV/AIDS.

Dikatakan Sidiq, sebagai bentuk penanganan penyakit HIV/AIDS, Pemkot Pontianak sudah memasukan HIV/AIDS sebagai salah satu standar pelayanan minimal di Kota Pontianak. Artinya Pemerintah Kota Pontianak wajib memberikan pelayanan.

Setiap penduduk yang memiliki resiko mengidap penyakit HIV/AIDS wajib mendapatkan pelayanan kesehatan dari pemerintah sesuai standar. Penduduk yang memiliki resiko misalnya ibu hamil dan penduduk yang berperilaku menyimpang.

"Setiap penduduk dengan resiko tertular HIV AIDS akan mendapatkan pelayanan standar minimal," katanya.

Pelayanan yang dimaksud adalah pelayan promotif yakni memberikan penyuluhan dalam rangka meningkatkan pengetahuan prilaku. Selain itu juga memberikan konseling. 

Untuk pelayanan terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHA), pihaknya sudah mempersiapkan beberapa fasilitas pelayanan kesehatan di beberapa rumah sakit yang ada di Kota Pontianak. Memberikan berbagai obat-obatan dan kontrol terhadap kondisi ODHA. Pelayanan ini ke depan juga akan ada di puskesmas-puskesmas. 

Acara ini juga diisi dengan penyerahan simbolis kartu KIS BPJS kepada pendamping Yayasan Pontianak Plus dan pemasangan mahkota dan selempang kepada Duta HIV AIDS Kota Pontianak 2018. 

Dalam rangka memperingati Hari AIDS Sedunia ini, beberapa organisasi juga ikut bergabung dalam aksi simpatik memperingati penyakit berbahaya HIV/AIDS di Bundaran Degulis Untan. 

Mereka membagikan pita merah, bunga dan permen kepada pengendara sepeda motor disetiap lampu lalulintas di sekitar Bundaran Digulis.

Kegiatan ini sebagai bentuk kepedulian para pemuda terhadap bahaya penyakit HIV/AIDS. Karena sampai sekarang belum ada obat yang bisa menyembuhkan penyakit ini secara menyeluruh.

Duta HIV/AIDS Kalimantan Barat, Andi Apriadi mengatakan aksi ini membawa semangat kemenangan. Karena masalah HIV/AIDS adalah persoalan kita semua bukan hanya masalah bagi para penderita tapi tentu harus menjadi perhatian seluruh bangsa.

“Saat ini HIV/AIDS yang ada di Kalimantan Barat belum mendapatkan kemenangan ini menjadi tugas bagi kita semua,” kata Andi.

Andi menyampaikan jumlah penderita HIV/AIDS yang ada di Kalimantan Barat masih tergolong tinggi. Untuk HIV Kalbar menempati urutan ke 11 sedangkan untuk AIDS peringkat 9 secara nasional.

Hal ini bagi Duta HIV/AIDS Kalbar adalah sebuah masalah yang sangat memprihatikan. Karena Kalbar sendiri masih menempati angka yang cukup tinggi secara nasional. Untuk itu dirinya mengajak anak muda agar bisa menjaga diri mereka dari penyakit yang berbahaya ini.

“HIV/AIDS adalah ancaman bagi kita semua terutama kaum muda,” kata Andi. 

Di tempat yang sama, Dare Photogenik 2018 Kota Pontianak, Rinda Tistita, mengajak masyarakat untuk bisa menghindari penyakit HIV/AIDS. Namun dirinya hanya mengajak masyarakat menjauhi penyakitnya bukan penderitanya. 

“Cukup hindari penyakitnya bukan penderitanya, karena penderita HIV/AIDS adalah saudara kita semua,” kata Rinda.

Rinda mengatakan penderita tentu harus bisa menjalani hidupnya seperti orang biasa. Karena itu dukungan orang sekitar haruslah penuh agar para penderita mampu kembali sehat. (sms/din/ind)

Stop Diskriminasi ODHA

Duta HIV/AIDS Kota Pontianak 2018, Annisa Maharani Nasran berharap seluruh masyarakat Kota Pontianak, terutama generasi muda untuk dapat memahami bahaya virus HIV/AIDS. Dengan pengetahuan yang cukup diharap bisa membentengi diri dari perilaku beresiko tertular HIV AIDS.

“Saya juga berharap dengan merayakan Hari AIDS Sedunia ini bisa menumbuhkan simpati anak muda Kota Pontianak pada ODHA,” kata Annisa. 

Annisa mengatakan, sekarang bukan jamannya lagi bagi kita untuk mengucilkan atau mendiskriminasi para ODHA. Karena ODHA juga manusia dan berhak dimanusiakan. Mereka tidak berbahaya, yang berbahaya itu virusnya bukan orangnya.

“Jauhi penyakitnya, tetapi bukan orangnya. Justru tugas kita yang seharusnya membantu mereka dan mensupport mereka agar kepercayaan dirinya tumbuh kembali dan mampu bersosialisasi dan berkarya dalam masyarakat,” katanya.

Dalam momen ini katanya, diimbau ada baiknya bagi masyarakat untuk mengambil tes VCT. Hal ini bertujuan sebagai pencegahan dini. Jika hasil tes dinyatakan positif, maka pertolongan medis dan terapi dapat semakin cepat dilakukan, dan bagi yang negatif, semoga tetap mempertahankan pola hidup sehatnya.

“Jadi ingat jangan takut tes HIV. Saya sehat, saya berani,” katanya. (din/ind)