Komitmen Bangkitkan Kembali Kejayaan Beras Sambas, Midji Minta Varietas Lokal Dikembangkan

Ponticity

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 184

Komitmen Bangkitkan Kembali Kejayaan Beras Sambas, Midji Minta Varietas Lokal Dikembangkan
PRODUKSI BERAS - Pemerintah Kabupaten Sambas berkomitmen selalu mendorong upaya peningkatan produksi pertanian. Salah satunya, mengembalikan kejayaan beras Pemangkat. (Humas)
Gubernur Kalimantan Barat, Sutarmidji
"Dulu kita punya varietas yang sangat luar biasa bagusnya, yakni beras Pemangkat. Artinya, tahan, karena beras pemangkat produksinya bagus waktu itu, jenisnya juga premium."

PONTIANAK, SP - Gubernur Kalimantan Barat, Sutarmidji menilai bahwa dulu Kalbar pernah berjaya dengan memiliki beras berkualitas premium. Beras yang ia maksud adalah beras Pemangkat.

“Dulu kita punya varietas yang sangat luar biasa bagusnya, yakni beras Pemangkat. Artinya, tahan, karena beras pemangkat produksinya bagus waktu itu, jenisnya juga premium,” kata Midji saat Rakor Dewan Ketahanan Pangan Provinsi Kalbar 2018 di Balai Petitih Kantor Gubernur Kalbar, kemarin.

Pada 15 tahun yang lalu. Pada saat masa kejayaan beras Pemangkat, orang yang mengkonsumsi  beras tersebut termasuk dalam kategori orang kaya, lantaran kualitas beras yang bagus.

Namun kini, Midji mengaku tidak lagi mengetahui keberadaan beras tersebut. Ia pun menyesalkan mengapa beras dengan kulaitas yang demikian bagus tak dipertahankan dan justru berlaih ke varietas-varietas lain yang belum tentu cocok dengan kondisi tanah dan alam di Kalbar.

“Dulu itu orang yang makan beras pemangkat artinya dia orang kaya. Sekarang kualitas itu (beras pemangkat) cari dimana,  masih ada atau tidak,” imbuhya dengan tanda tanya.

“Harusnya kita tak terkecoh dengan varietas-varietas yang lain, atau dari daerah lain karena bisa jadi itu tak cocok dengan tanah kita,” katanya.

Karena itu, ia menyarankan agar varietas beras Pemangkat kembali digaungkan dan dicari keberadaanya. Khususnya, untuk bibit, agar dikembangkan kembali dengan sistem-sistem pertanian yang juga harus lebih baik untuk mendongkrak pengembangannya.

"Gunakan varietas yang cocok dengan tanah kita, yakni beras Pemangkat,” pintanya.

Kawasan pertanian di Kabupaten Sambas, kata Midji, jika merujuk pada data yang ada bisa menghasilkan sampai 3 ton lebih beras dalam satu hektare, dan sekarang pemerintah sedang menggalakan eksentifikasi pertanian. Menurutnya, ini menjadi hal yang baik, namun haruslah di daerah yang produksinya bagus.

"Jangan eksentifikasi di wilayah yang nilai produksinya di bawah rata-rata, kerena itu akan mubazir. Kita hitung saja ketika produksi di Sambas bisa di atas tiga ton per hektare, kemudian yang tempat lain bisa 2,6 ton, lalu dihitung dari biaya angkut. Kalau masih ekonomis atau masih lebih dari selisih produksi, maka intensifkan. Tapi kalau tidak sebaiknya jangan," kata Midji.

Sanggau, misalnya, di kabupaten tersebut ada daerah sentra produksi cabai rawit. Tapi untuk angkutannya masih susah, sehingga akhirnya petani disana tidak bisa menjual sendiri hasil pertanian mereka. 

“Akhirnya, pihak ketiga yang ambil dan hitungan nilai angkutnya besar, maka perolehan nilai tukar petani itu jadi rendah,” katanya.

Jika ada faktor lain yang menjadikan nilai tukar petani rendah, seperti ketersedian pupuk, maka ia meminta agar pupuk bersubsidi bisa dipastikan diterima oleh para petani atau para petani diberikan bantuan pupuk.

Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Provinsi Kalimantan Barat, Surianysah menilai seruan Gubernur Kalbar untuk mengembalikan lagi kejayaan beras pemangkat sangat realistis. Namun demikian, menurut politisi Partai Gerindra ini, dalam pelaksanaanya haruslah terpadu.

"Potensi untuk mengembangkan beras Pemangkat, saya rasa sangat baik. Saat ini banyak lahan-lahan  yang sebenarnya tidur dan tidak digunakan,” ujarnya.

Banyaknya lahan yang bisa dimamfaatkan, untuk meningkatkan luas tanam dan eksentifikasi areal tanam, maka apa yang menjadi harapan Gubernur menurutnya harus disambut baik sebagai suatu terobosan yang penting.

“Karena beras yang dihasilkan Pemangkat adalah beras kualitas premium dan medium, bukan lagi kualitas rendah. Tentunya itu dapat meningkatkan kesejahteraan petani,” terang Suriansyah.

Selama ini pun, kata Suriansyah, Sambas sudah menjadi lumbung beras untuk wilayah Kalbar. Karena itu, secara umum kabupaten yang berada di ujung utara Kalbar ini,  dinilai layak dikembangkan sebagai daerah komoditas pertanian.

“Karena kalau dilihat dari kondisi lahan, cuaca dan juga masyarakatnya rata-rata berprofesi sebagai petani. Begitupun budayanya, mendukung untuk ditetapkan sebagai lumbung pangan nasional, namun itu harus didukung dengan berbagai hal di antaranya infarstruktur pertanian berupa irigasi, ketersedian bibit dan pupuk, manajemen serta penyuluhan pertanian," tuturnya. (nak/bob)

Pola Tanam dan Daya Beli Jadi Masalah

Ketua Gerbang Tani Kabupaten Sambas, Bagus Setiadi mengatakan, beras Pemangkat pernah jaya, karena kualitas benih lokalnya.

"Benih lokal lah yang dulu menjadikan beras tersebut berkualitas premium, sehingga menjadi pangan kalangan menengah atas masyarakat Kalbar," ujarnya.

Akan tetapi, pola tanam sekali setahun dan minimnya kemampuan masyarakat untuk membeli beras kualitas premium, ditenggarai membuat masyarakat petani memilih menggunakan benih lainnya.

"Untuk mencukupi kebutuhan sehari - hari, beras tersebut dirasa kurang nilai ekonominya, panen sekali setahun dan kemampuan daya beli masyarakat untuk beras jenis premium yang tidak begitu masif, membuat petani mau tidak mau harus merubah pola tanam mereka," katanya.

Sehingga kata Bagus, para petani meninggalkan varietas lokal dan mulai menanam padi jenis lainnya yang bisa dijual lebih murah, dan panen setidaknya dua kali dalam setahun.

"Jadi karena faktor ekonomi lah masyarakat merubah pola tanam mereka, menjadi panen dua kali dalam setahun, dan bisa menjual lebih murah, sehingga ini mendatangkan manfaat ekonomi yang lebih baik," paparnya.

Karena itu, kata Bagus, seandainya Gubernur Kalbar, Sutarmidji ingin mengembalikan beras premium asal Pemangkat tersebut, maka para petani haruslah diperhitungkan dan diberikan pendampingan. (noi/bob)