Rumah Ibu Guru Ngaji bersama Empat Anaknya di Dusun Sukaramai, Desa Dalam Kaum, Kecamatan Sambas, Kabupaten Sambas

Sambas

Editor sutan Dibaca : 1473

Rumah  Ibu Guru Ngaji bersama Empat Anaknya di Dusun Sukaramai, Desa Dalam Kaum, Kecamatan Sambas, Kabupaten Sambas
BUBUK REOT NURBAITI-Kondisi gubuk reot tidak huni milik Nurbaiti (48), seorang buruh cuci dan guru mengaji. Nurbaiti tinggal bersama empat anaknya di gubuk yang berada di Dusun Sukaramai, Desa Dalam Kaum, Kecamatan Sambas, Kabupaten Sambas. Setelah foto
SAMBAS, SP-Nurbaiti (48), guru mengaji di Dusun Sukaramai, Desa Dalam Kaum, Kecamatan Sambas, Kabupaten Sambas, mengaku puas walaupun tinggal di gubuk reot bersama empat anaknya yang masih usia sekolah.  

Ironisnya,  rumah beratapkan daun kering, dan tiang panggung kayu bulat yang nyaris roboh ini, ternyata tidak jauh dari Kantor Bupati Sambas. 

Nurbaiti yang sudah pisah dengan suaminya karena faktor ketidakcocokan, mengandalkan belas kasihan warga sekitar untuk menyambung hidup. Ini  karena pendapatannya dari guru mengaji tidaklah cukup.
 

“Kalau tidur malam, kami berlima, saya dan empat orang anak yang masih usia sekolah, mesti berhimpit-himpitan. Kalau hujan turun, semakin repot, karena atap rumah terbuat dari daun kering, pasti bocor,” kata Nurbaiti.  

Untuk menjangkau gubuk reot Nurbaiti, mesti berjalan kaki sekitar 100 meter dari jalan raya.  Gubuk panggung berukuran 4 x 6 meter, bagian tiangnya terbuat dari kayu bulat yang sudah terlihat rapuh, dan sewaktu-waktu bisa tumbang jika tertiup angin kencang.  

“Kalau hujan pasti rumah kami terkena banjir. Saya hanya bisa pasrah karena tidak mampu untuk memperbaiki rumah ini,” ungkap Nurbaiti.  

Nurbaini menceritakan, sebelum menempati gubuk tidak layak huni itu, ia bersama keempat anaknya Firmansyah (17), Mita (14), Faisal (11) dan Alfikri (9), sempat menyewa rumah.  

Tapi sejak tahun 2011, semenjak berpisah baik-baik dengan suaminya, Nurbaiti bersama empat anaknya memilih tinggal di gubuk reot di Dusun Sukaramai. Sebab, mereka tidak punya uang untuk mengontrak rumah.  

Karena berpisah dengan suaminya, wanita ini harus berjuang sendiri menghidupi keempat anaknya. Hasil dari pekerjaannya sebagai guru mengaji hanya bisa untuk mencukupi kehidupan sehari-hari.  

"Sebenarnya kami takut gubuk roboh. Tapi mau bagaimana lagi? Ini yang kami punya. Atap rumah sudah keropos, gubuk hampir roboh,” ungkap Nurbaiti sambil meneteskan air mata.  

Terkadang, lanjut Nurbaini, saat ada angin kencang, gubuknya sering bergoyang. Untuk mengantisipasinya, Nurbaini mesti dibantu oleh anaknya membuat penyangga kayu agar gubuk tidak roboh.  

Gubuk tidak layak huni itu kondisinya sudah miring. Nurbaiti sebenarnya ingin merenovasi gubuknya. Namun apa daya, keinginan itu sulit terwujud. Jangankan untuk merenovasi rumah, bisa makan saja sudah untung. 

Betapa tidak, penghasilannya pas-pasan sebagai tukang cuci pakaian dan guru mengaji.
    “Pagi hari saya mencuci,  dan siang hari sehabis salat zuhur, saya ngajar mengaji ke rumah-rumah warga. Itu pun saya tidak pernah menentukan upah, berapa pun mereka beri saya terima,” tutur Nurbaiti.  

Meski penghasilan sangat minim, Nurbaini tetap bersyukuri karena semua itu merupakan rezeki dari Allah SWT. Uang hasil kerjanya dibelikan lauk pauk dan terkadang juga dibelikan beras  untuk kebutuhan sehari-hari. 

 “Alhamdulillah, kalau untuk makan sehari-hari tidak susah. Saya juga bersyukur, bisa tinggal bertahun-tahun di rumah gubuk ini. Terpenting bisa tidur dan berteduh serta berkumpul bersama anak-anak,” tutur Nurbaiti, polos.  

Meski keluarga Nurbaiti tetap bersabar dan bersyukur dengan kemiskinannya, masih tersimpan sebuah harapan adanya bantuan dari pemerintah dan para dermawan. (nov/aju)