q Suara Pemred − Polres Antisipasi Peredaran Pil PCC

Polres Antisipasi Peredaran Pil PCC

Sanggau

Editor Kiwi Dibaca : 596

Polres Antisipasi Peredaran Pil PCC
TANAM MANGROVE – Puluhan remaja melaksanakan kegiatan tanam mangrove. Di Sanggau, Polres setempat akan menggalakkan sosialisasi bahaya pil PCC kepada remaja. Sebab, pil itu cenderung menyasar usia remaja.
SANGGAU, SP - Polres Sanggau mewaspadai peredaran pil Paracetamol Caffeine Carisoprodol (PCC) di Kabupaten Sanggau. Selain menggandeng Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) setempat, polisi juga berkoordinasi dengan pihak terkait lainnya untuk memantau peredaran obat terlarang tersebut.  

Kapolres Sanggau, AKBP Oki Waskito mengatakan, pil PCC menjadi perhatian serius Polri menyusul tertangkapnya sembilan orang tersangka oleh Polda Sultra yang diduga mengedarkan pil PCC dan penyitaan 12 ton bahan baku obat PCC asal India oleh Polres Bintan, Polda Kepri.

  “Kami melakukan koordinasi dengan Dinas Kesehatan, BNNK dan instansi terkait lainnya untuk mengidentifikasi serta mengawasi peredaran PCC di wilayah hukum Polres Sanggau. Sebab, sejak 2013 Kemenkes sudah mencabut peredaran obat tersebut,” kata Oki dihubungi Suara Pemred, Minggu (17/9).  

Pihaknya, lanjut Oki, juga meningkatkan kembali sosialisasi dan edukasi terhadap bahaya narkoba termasuk PCC kepada masyarakat lebih khusus lagi pelajar SMP / SMA, mengingat sasaran peredaran PCC adalah usia remaja.  

“Kami juga melakukan penyelidikan dan penyidikan manakala ditemukan adanya peredaran PCC dengan koordinasi Ditnarkoba Polda Kalbar,” tegas Kapolres.  

Oki menambahkan, sejauh ini pihaknya belum mendapati adanya peredaran obat terlarang tersebut di Kabupaten Sanggau.   “Tetapi kami terus waspada. Dan bila masyarakat mengetahui adanya peredaran narkoba dan sejenisnya, termasuk pil PCC itu agar menginfokan ke Polres atau Polsek,” harap Kapolres.  

Seperti diketahui, BPOM secara resmi telah memberikan penjelasan melalui siaran pers yang diunggah di laman resminya. BPOM mengklaim siap berperan aktif memberikan bantuan ahli, serta uji laboratorium dalam penanganan kasus yang menyebabkan satu orang meninggal dan puluhan lainnya harus di rawat di rumah sakit.  

BPOM secara serentak juga telah menurunkan tim untuk menelusuri kasus ini dan melakukan investigasi apakah ada produk lain yang dikonsumsi oleh korban.   “Hasil uji laboratorium terhadap tablet PCC menunjukkan positif mengandung Karisoprodol,” demikian penjelasan resmi BPOM.  

BPOM menyatakan, Karisoprodol digolongkan sebagai obat keras. Obat yang mengandung zat aktif Karisoprodol memiliki efek farmakologis sebagai melemaskan otot, namun hanya berlangsung singkat, serta di dalam tubuh akan segera dimetabolisme menjadi metabolit berupa senyawa Meprobamat yang menimbulkan efek menenangkan.  

Penyalahgunaan Karisoprodol diperuntukkan sebagai penambah rasa percaya diri, penambah stamina, bahkan juga digunakan oleh pekerja seks komersial sebagai obat kuat.   “Mengingat dampak penyalahgunaannya lebih besar daripada efek terapinya, maka seluruh obat yang mengandung Karisoprodol dibatalkan izin edarnya pada tahun 2013,” demikian klarifikasi BPOM.  

Untuk menghindari penyalahgunaan maupun peredaran obat ilegal, BPOM berpendapat diperlukan peran aktif seluruh komponen bangsa, mulai dari instansi pemerintah, pelaku usaha, maupun masyarakat. (jul/bah)

Komentar