Apindo Anggap Melemahnya Rupiah Belum Terlalu Berpengaruh

Sanggau

Editor Jindan Dibaca : 207

Apindo Anggap Melemahnya Rupiah Belum Terlalu Berpengaruh
Ilustrasi
SANGGAU, SP - Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kabupaten Sanggau, Konggo Tjintalong Tjondro mengatakan, melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dollar saat ini berbeda dengan krisis moneter 1998 silam.

Menurutnya, melemahnya Rupiah lebih pada faktor eksternal. 

"Ini kan dampak dari kenaikan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) serta perang dagang antara Amerika dengan Tiongkong," katanya, Jumat (7/9). 

Melihat kondisi ini, kata Konggo, pengusaha akan mengurangi impor. Hanya saja ia belum tahu pasti sejauh mana pengaruh melemahnya Rupiah terhadap Dollar. Namun yang menjadi persoalan sekarang, khusus untuk Crude Palm Oil (CPO) sawit, sulit untuk diekspor. 

“Kalau Sanggau memang komoditi terbesar sawit. Kalau karet itu belum ada kenaikan. Kalau dari sisi harga sangat menguntungkan kita (jika diekspor). Tapi sekarang orang tak membeli CPO. Karena di Eropa sana, sedang panen bunga matahari. Itu salah satu pengaruhnya juga. Makanya tangki-tangki di pabrik swasta itu sekarang masih banyak stok CPO-nya. Sementara buah ini kan tak bisa ditunda. Harus panen. Itu juga satu pengaruh,” jelasnya. 

Konggo menyebut, sebenarnya jika ekspor lancar, kenaikan harga Dollar justru membawa berkah bagi pegusaha. Terlebih komoditas dalam negeri, terutam sembako tak terjadi gejolak harga.

 "Jagung tidak naik, beras tidak naik, gula tidak naik. Saya pikir lebih menguntungkan. Cuma yang pengaruh yang mahal ya barang-barang elektronik. Tapi itu kan yang terkena dampak yang menengah ke atas. Masyarakat bawah tidak. Sedangkan sembako kan tidak naik. Jadi tidak ada masalah,” katanya. 

Menurut Konggo yang saat ini duduk di DPRD Sanggau, melemahnya nilai tukar Rupiah tersebut merupakan hal yang wajar. Fluktuasinya hanya sekitar 9,8 persen, berbeda dengan negara lain seperti Turki. Mata uang Turki, Lira, yang persentase anjloknya mencapai 60 persen. Kondisi ini pun berbeda dengan ketika 1998 lalu. 

“Kondisi ini juga sama sekali berbeda dengan krisis 98. Waktu itu harga Dollar Rp2500 per USD naik menjadi Rp15 ribu per USD. Kalau sekarang kan bisa lihat. Fluktuasinya sedikit, hanya 9,8 persen. Jadi berbeda. Kalau kita lihat negara lain seperti Turki, Malaysia yang terkena dampak kenaikan Dollar, mereka mau bangkrut. Kita tidak,” tandasnya. (zul)