q Suara Pemred − Bupati Sanggau Buka Festival Mandi Bedil Keraja

Bupati Sanggau Buka Festival Mandi Bedil Keraja

Sanggau

Editor Angga Haksoro Dibaca : 136

Bupati Sanggau Buka Festival Mandi Bedil Keraja
Sanggau, SP - Bupati Sanggau, Paolus Hadi membuka Festival Mandi Bedil Keraja dan Perang Ketupat Keraton Paku Negara Tayan V, Kamis (15/11). Kegiatan yang diadakan 14-17 November 2018 itu dipusatkan di Keraton Paku Negara Tayan, Kecamatan Tayan Hilir, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat.  

Selain itu digelar juga berbagai perlombaan permainan tradisional seperti lomba perahu, memanah, kaki antu, pangka gasing, benter, cangkelele, congkak dan bunga pencak silat.   

Bupati Sanggau, Paolus Hadi dalam sambutannya berharap Festival Keraton Paku Negara Tayan dapat dilaksanakan setiap tahun, sebagai wadah menjalin silaturahmi masyarakat.  

Kegiatan kebudayaan, kata Bupati merupakan urusan yang wajib dilaksanakan dalam rangka penguatan pendidikan karakter. “Harapan kita bersama generasi muda menjadi generasi yang berkualitas, kreatif, berbudaya, dan bermartabat. Bangga dengan nilai lokal dan identitas dirinya sebagai bangsa yang berbudaya,” kata Bupati Paolus Hadi.   

Raja Tayan, Gusti Yusri mengatakan upacara Mandi Bedel Keraja merupakan ritual adat yang sudah berlangsung lama, sejak Kerajaan Tayan berdiri. Tepatnya pada jaman Raja pertama Gusti Lekar yang beristrikan Encik Periuk, anak kepala suku Tebang Benua.   

Jaman dahulu, kata Gusti Yusri, bedil atau senjata kerajaan dimandikan ketika negeri dilanda kekeringan atau diserang wabah penyakit. “Biasanya ada isyarat mimpi yang dialamatkan kepada raja atau pemimpin sesepuh negeri,” kata Gusti Yusri.   

Kemudian air sisa memandikan bedil kerajaan itu, digunakan untuk menyembuhkan penyakit atau digunakan untuk memupuk tanaman yang berfungsi sebagai air tolak bala.  

“Mandi bedil kerajaan dilaksanakan di dalam keraton dan di luar, yakni di Muara Sungai Tayan persis di ujung Tanjung (salah satu situs sejarah Kerajaan Tayan),” kata Gusti Yusri.   

Terakit adat perang ketupat, lanjut Gusti Yusri, merupakan rangkaian dari mandi bedil kerajaan. Dinamakan perang ketupat sebagai bentuk simbolik tolak bala dengan cara saling melemparkan ketupat antara warga di pinggir sungai dengan warga yang menggunakan motor air.  

“Ini digelar di Muara Sungai Tayan hingga menuju Istana Keraton Paku Negara Tayan di Desa Pedalaman yang berjarak sekitar satu kilometer dari keraton,” katanya.   

Ketupat yang digunakan untuk perang ketupat diperoleh dari masyarakat sekitar keraton secara sukarela. Ketupat tolak bala tersebut bentuknya berbeda dengan ketupat pada umumnya. Ketupat yang diserahkan itu dari hasil panen dan hanya 21 buah setiap kepala keluarga.  

Perang ketupat melibatkan seluruh unsur masyarakat tanpa membedakan suku, agama. Semua orang boleh ikut serta dalam acara adat ini, termasuk tamu yang hadir dalam festival.  

Festival Mandi Bedil Keraja dan Perang Ketupat Keraton Paku Negara Tayan V akan dihadiri 12 raja-raja dari berbagai kabupaten di Kalimantan Barat. Bahkan rencananya akan hadir utusan raja dari Malaysia dan Brunei.  

Hadir dalam pembukaan acara tersebut anggota DPR RI, H Sukiman, Danlanud Supadio Pontianak, Marsakel Pertama TNI Minggit Tribowo, Dandim 1204/Sgu, Letkol Inf Herry Purwanto, dan Kepala BI Perwakilan Kalbar, Priyono. (jul)