Menengok Sejarah Batu Bertulis di di Sekadau

Sekadau

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 653

Menengok Sejarah Batu Bertulis di di Sekadau
BATU TERTULIS - Salah satu peninggalan sejarah di Sekadau yaitu Batu Bertulis di Desa Sebabas, Kecamatan Nanga Mahap. Batu ini adalah peninggalan zaman Kerajaan Majapahit. (SP/Akhmal)

Situs Peninggalan Majapahit Beraksara Sanskerta


Di balik keindahan alam dan kekayaan adat dan budayanya, rupanya Kabupaten Sekadau menyimpan sebuah misteri yang sampai saat ini belum dapat dipecahkan.  Misteri itu adalah sebuah situs peninggalan sejarah pada abad tujuh masehi, sebuah batu besar berukuran lebar 5,10 meter, dan tinggi 3,90 meter.

SP - Uniknya, pada bagian depan batu berukuran besar tersebut terdapat tulisan seperti ukiran. Bahkan, yang membuat dahi berkerut, di sekitarnya tidak terdapat batu berukuran sama, baik dari timur, barat, selatan, dan utara. 

Lantaran terdapat ukiran dan tulisan, maka batu tersebut dinamakan Batu Bertulis. Hingga kini, Batu Bertulis yang terletak di Dusun Pait, Desa Sebabas, Kecamatan Nanga Mahap itu menjadi objek wisata dan situs peninggalan sejarah.

Untuk menempuh perjalanan menuju ke lokasi Batu Bertulis, hanya bisa dilalui menggunakan kendaraan roda dua. Membutuhkan waktu sekitar 30 menit perjalanan dari pusat Kecamatan Nanga Mahap.

Saking misteriusnya, hingga saat ini tidak ada satu orang pun, bahkan ahli sejarah sekalipun yang dapat menerjemahkan pesan yang tertulis di batu tersebut.

Konon, barang siapa yang bisa menerjemahkan isi pesan di Batu Bertulis tersebut, maka akan mengalami nasib yang tidak baik.

Informasi yang berhasil dihimpun Suara Pemred, ternyata sudah pernah beberapa kali para ahli sanskerta, dari dalam dan luar negeri, mencoba menerjemahkan dan mencari tahu asal mula objek tersebut, tapi belum ada kata sepakat. 

Hal itu diungkapkan oleh Albinus Akin (47), sang juru pelihara Batu Bertulis. Ia mengatakan, sudah beberapa ahli yang mencoba menerjemahkan makna yang terkandung dalam stupa dan tulisan sanskerta tersebut.

"Batu ini juga dulunya digunakan untuk pemujaan. Dari cerita leluhur, batu ini ada tujuh penunggu, pangeran agung, mangku bumi dan lainnya," ujarnya.

Pada 1985, seorang ahli sanskerta dari Jakarta, Dra Endang pernah mencoba menerjemahkan tulisan di balik batu tersebut. Akan tetapi meski telah dapat menerjemahkan, tapi belum sempat disebarkan.

"Sempat berhasil diterjemahkan, namun belum dipublikasikan. Tapi sayang setahun berikutnya, ibu Endang tersebut meninggal dunia. Dan sampai saat ini belum ada yang tahu apa maksud dari pesan tersebut," jelasnya.

Sebagai juru pelihara, Akin terus berusaha menjaga dan merawat tempat tersebut. Bahkan menurutnya, sebelum masuknya agama Katolik, tempat tersebut sebagai tempat persembahan dan sampai sekarang dijadikan sebagai Tempat  Mulang Ajat (sesuai bahasa tradisi – balas niat/nazar).

Batu dengan aksara Pallawa dan Sanskerta tersebut ternyata masih di dalam kawasan hutan lindung. Dan pada tubuh batu, terdapat ukiran stupa.

Di antara tujuh stupa terkandung tujuh makna yakni deretan nama-nama dalam bentuk relief batu bertulis seperti Pangeran Agung, Pangeran Adam, Segentar Alam, Mangkubumi, Barang Tiba, Singe Jade dengan julukan Panglima Jaga dan Sinyoka Nyai Anta yang telah diabadikan sebagai sebuah Credit Union (CU) Nyai Anta Kecamatan Nanga Taman. 

Akin berharap, melalui Pemerintah Kabupaten Sekadau, objek tersebut dapat terus dan terus dilestarikan serta selalu terjaga. 

Pasalnya, masyarakat setempat sudah berkomitmen untuk tidak melakukan ekspansi lahan perkebunan. (akhmal setiadi musran/bah)