Ribuan Batang Kayu Ilegal Diamankan

Singkawang

Editor Kiwi Dibaca : 728

Ribuan Batang Kayu Ilegal Diamankan
Barang Bukti – Petugas berada di gudang pengolahan kayu yang diduga berasal dari hasil illegal logging. Dari gudang tersebut petugas juga mengamankan ribuan barang bukti kayu berbagai jenis.
SINGKAWANG, SP – Gudang pengetaman dan pemotongan kayu di Jalan Kridasana, Kelurahan Pasiran, Kecamatan Singkawang Barat digerbek Satuan Polisi Kehutanan Reaksi Cepat (SPORC), Brigade Bekantan Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BPPHLHK) Wilayah Kalimantan Seksi Wilayah III Pontianak yang di dukung Korwas PPNS Ditreskrimsus Polda Kalbar, Rabu (5/3) dini hari.

Dikatakan Kepala Balai Pengelolaan Hutan Produksi Wilayah VIII Pontianak, Imam Mulyo Suyono dalam penggerbekan yang dilakukan ditemukan sedikitnya 4.100 batang kayu volume 184,61 m3 berbagai jenis yang diduga illegal, dan jika dirupiahkan diperkirakan senilai Rp500 juta.

“Ada pun jenis kayu-kayu yang kita amankan diantaranya  meranti, belian, dan rimba campuran. Sekarang semua barang bukti sudah kita titipkan ke Rupbasan Singkawang,” ujar Imam.

Petugas juga turut mengamankan dua tersangka dalam pengerbekan tersebut, satu diantaranya sudah dititipkan ke Rutan Kelas II A Pontianak.

“Masing-masing tersangka PR dan STY, untuk STY dia merupakan pemilik kayu dan saat ini sudah dititpkan ke rutan, sedangkan PR pemilik gudang,” terangnya. Dia mengungkapkan, penggerebekan dimulai ketika tim SPORC mendapat laporan dari masyarakat yang menyebutkan ada truk merk Mitsubishi dengan No Polisi KB 8989 SZ akan mengangkut kayu dari daerah Serimbu, Kecamatan Air Besar, Kabupaten Landak dengan tujuan Kota Singkawang.


"Mendapat informasi itu, sekitar pukul 05.30 WIB, tim mendapati truk tersebut melintas di Jalan Kridasana dan kemudian tim membuntuti truk tersebut menuju gudang," jelasnya.

Saat dilakukan penggerebekan, pihaknya menemukan sebanyak 200 batang kayu meranti tanpa dilengkapi dokumen SKSHH yang sah dan di bongkar di dalam gudang.


"Tersangka hanya menggunakan dokumen nota angkutan tetapi kayu-kayunya hutan alam. Harusnya dia menggunakan dokumen Surat Keterangan Sah Hasil Hutan (SKSHH) bukan nota," katanya.


Berdasarkan hasil pemeriksaan penyidik SPOCR, tersangka STY dikenakan tindak pidana kehutanan melanggar Pasal 83 ayat 1 huruf b dan atau Pasal 88 ayat 1 huruf a UU No 18 tahun 2013 tentang pencegahan dan pemberantasan perusak hutan, dengan dua alat bukti yaitu keterangan saksi dan barang bukti sebanyak 200 batang kayu.

"Dengan begitu STY di ancam hukuman penjara paling singkat 1 tahun dan paling lama 5 tahun, plus denda paling sedikit Rp500 juta dan paling banyak Rp2,5 miliar," bebernya.

Sedangkan untuk tersangka PR, masih menjalani pemeriksaan dan belum di tahan.


"PR diduga melanggar Pasal 87 ayat 1 huruf a dan atau huruf b UU No 18 tahun 2013," pungkasnya. Sementara itu, Kepala Balai Pengolahan Hutan Produksi Wilayah III Pontianak, Iman Rusmana mengatakan sempat terkejut saat tersangka mengatakan usaha pemotongan kayu miliknya merupakan industri primer.

“Sebetulnya  saya agak kaget juga, kalau dikatakan industri primer karena tidak ada izin industri primer di sini karena persyaratannya harus ada izin resmi dari gubernur,” ujarnya saat mengecek ke lokasi. (pul/jee)



Komentar