BPBD Singkawang Bentuk Sekolah Sungai

Singkawang

Editor Kiwi Dibaca : 554

BPBD Singkawang Bentuk Sekolah Sungai
Pendangkalan Sungai – Selain tidak terawat dan tercemar, sungai di Kota Singkawang juga mengalami pendangkalan.
SINGKAWANG, SP – Pencemaran sungai yang ada di Kota Singkawang semakin hari semakin memprihatinkan. Sungai yang seharusnya bisa menjadi ikon kota dan menjadi penambah penghasilan masyarakat kini telah tercemar oleh berbagai limbah. Guna mengembalikan fungsi sungai dan melestarikan air sungai dari pencemaran, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Singkawang menggelar sosialisasi gerakan pengurangan risiko bencana (sekolah sungai) di Ruang Bumi Bertuah Gayung Bersambut, Rabu (20/9).

"Kita ingin sungai di Singkawang terjaga kebersihannya dan dapat dijadikan daya tarik wisata dan sebagai sumber perikanan,” kata Kepala Pelaksana BPBD Singkawang, Burhanuddin.

Sementara Kepala Seksi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Singkawang, Jayadi mengatakan, selain untuk mengembalikan fungsi sungai, kegiatan dimaksudkan juga untuk menumbuhkan kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap sungai sebagai ikon batas alam yang sudah dirasakan tercemar.

"Tercemarnya sungai itu bisa saja akibat kelalaian dari manusia itu sendiri seperti membuang sampah di sungai, sehingga mengakibatkan pendangkalan yang cukup tinggi," kata Jayadi.

Jadi, di samping bisa digunakan sebagai kebutuhan pokok, air sungai juga menurutnya bisa dijadikan sebagai pintu pembuka darurat apabila terjadi kebakaran.

"Maka air sungailah yang bisa dimanfaatkan untuk dalam keadaan darurat," ujarnya.

Menurut Jayadi,  alangkah baiknya jika air sungai bisa dimanfaatkan sebagai air bersih. Meskipun di sisi lain, khususnya bagi nelayan Singkawang kalau sungai adalah sumber mata pencarian mereka.

"Buktinya nelayan darat masih mengandalkan sungai sebagai mata pencarian mereka selain jalur transportasi," ungkapnya.

Di akhir kegiatan nanti, BNPB dan BPBD Singkawang juga akan membentuk komunitas-komunitas sekolah sungai.

"Nanti tanggal 2-4 Oktober baru kita buka sekolah sungainya. Di sekolah itu akan ada tenaga pengajar dari pusat maupun daerah," ungkapnya.

Menurutnya, sekolah sungai yang dimaksud bukan berbentuk fisik atau ruangan. Tapi sebatas komunitas dengan melibatkan masyarakat di tepian sungai.

Kegiatan hari itu dihadiri puluhan peserta yang berasal Disparpora, TNI, Polri, Camat, Lurah, Tagana, Duta LH, kelompok peduli api dan kelompok peduli Mangrove, relawan pecinta alam, dan komunitas fotografi Singkawang. (rud/jee)

Komentar