Warga Kecamatan Ketungau Rindu Listrik

Sintang

Editor Kiwi Dibaca : 710

Warga Kecamatan Ketungau Rindu Listrik
Pertanyakan listrik - Warga Nanga Merakai, Kecamatan Ketungau mempertanykan permasalahan listrik yang tak kunjung masuk ke desa mereka. Kecamatan Nanga Ketungau memilki 29 desa, 13 desa diantaranya terletak dipusat kecamatan, sedangkan 16 lainnya berada d
SINTANG, SP – Warga Nanga Merakai, Kecamatan Ketungau mempertanykan permasalahan listrik yang tak kunjung masuk ke desa mereka. Hal tersebut disampaikan masyarakat ke Bupati Sintang, Jarot Winarno saat kunjunga dalam rangka agenda pemaparan tentang pembangunan jembatan Ketungau II, bebrapa waktu lalu. Seperti yang diungkapkan salah satu warga setempat, Adrianus, bahawa sudah cukup lama Indonesia merdeka, dan dilihat kehidupan pun sebenarnya simple untuk kebutuhan masyarakat, yakni jalan, listrik dan air bersih.

“Pertanyaan saya kapankah listrik masuk ke desa kami, sebab sampai sekarang kami belum merasakan itu,” ujar Adrianus saat sesi tanya jawab dengan Jarot. Desa Nanga Merakai merupakan pusat Ibu Kota Kecamatan Ketungau Tengah, dan itu merupakan salah satu kecamatan yang berbatasan dengan negara tetangga Malaysia. Desa Nanga Merakai sendiri terpisah oleh sungai Ketungau yang membentang selebar kurang lebih 80 meter.

“Kecamatan Nanga Ketungau memilki 29 desa, di mana 13 desa diantaranya terletak dipusat kecamatan, sedangkan 16 lainnya berada diseberang sungai Ketungau. Hampir semua desa diseberang ini belum teraliri listrik. Sementara yang di sebelah sini warganya sudah menikmati listrik,” terangnya.

Mendapat pertanyaan tersebut Bupati Sintang, Jarot Winarno menjelaskan persoalan listrik yang sering dikeluhkan masyarakat saat dirinya melakukan kunjungan kerja tersebut, bahwa harus diketahui visi mentri ESDM adalah Indonesia Terang 2019.

“Guna mencapai visi tersebut, maka konsep untuk daerah perbatasan adalah dibuatnya program Listrik Masuk Desa (Lides),” katanya. Dijelaskan Jarot, untuk saat ini sudah dibangun satu unit Pembangkit Listrik Tenaga Disesel (PLTD) di wilayah Kecamatan Ketungau Hulu, tepatny di Desa Jasa. Pembangkit tersebut digabungkan dengan Pembangkit Listrik Tenga Surya (PLTS).

“Bahasa kerenya itu system Hybird. Dengan menggunakan dua pembangkit ini, diharapkan listrik bisa menyala terus selama 24 jam. Kalau siang pakai tenaga diesel dan kalau malam pakai tenaga surya,” terangnya.
Pembangkit tersebut, dikatakan Jarot mampu untuk memenuhi kebutuhan listrik bagi 10 desa. Namun hambatannya adalah PLN membuat aturan, paling minimal itu untuk nyambung harus 1300 watt.

“Ini cukup  berat juga bagi masyarakat, makanya sampai sekarang 10 desa tersebut belum semuanya teraliri listrik,” jelas Bupati. Untuk Kecamatan Ketungau Tengah, rencananya PLTS akan dibangun di Desa Munguk Gelombang, serta memindahkan PLTD dari Badau.

 “Nah dua pembangkit inilah nantinya yang diharapkan mampu memenuhi kebutuhan listrik didaerah perbatasan,” tuturnya. Dijelaskan Jarot, kementrian ESDM dan Kementrian Daerah Tertinggal dan Badan Pengelola Perbatasan, saat ini sedang fokus untuk membangun jaringan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH).

   “Kalau misalnya tidak ada sumber untuk membangun PLTMH, maka dari dua kementrian tersebut akan buat PLTS dengan dua type, yakni PLTS terpadu dan yang terpancar setiap rumah,” katanya. Desa dinilai bisa memprakarsai secara mandiri wacana pembangkit listrik tersebut.

Jika desa punya potensi  dan memilki sumber daya untuk di bangun PLTMH, maka tinggal diajukan, pemerintah bisa memberikan mesin pembangkit. “Jadi yang ingin desanya segera teraliri listrik, silahkan ajukan potensi masing-masing. Kami siap membantu sembari kita menunggu konsep pemabangunan listrik dari pemerintah pusat,” pungkasnya.(nak/pul).