q Suara Pemred − Sintang Endemis Penyakit Kaki Gajah

Sintang Endemis Penyakit Kaki Gajah

Sintang

Editor Kiwi Dibaca : 452

Sintang Endemis Penyakit Kaki Gajah
Seorang ibu penderita kaki gajah yang sedang dilihat oleh seseorang pria. Di Kabupaten Sintang dinyatakan endemis kaki gajah (filariasis). hal itu didasari pada temuan kasus penderita penyakit tersebut sejak beberapa tahun belakangan.
SINTANG, SP - Kabupaten Sintang dinyatakan endemis kaki gajah (filariasis). hal itu didasari pada temuan kasus penderita penyakit kaki gajah tersebut sejak beberapa tahun belakangan.

“Sudah ada sembilan kasus kaki gajah di Kabupaten Sintang. Kita juga menemukan parasit cacing positif pembawa kaki gajah. Karena itu Sintang ditetapkan sebagai wilayah endemis kaki gajah,” ujar Kepala Dinas Kesehatan kabupaten Sintang, Harysinto Linoh, Sabtu (21/10). Sesuai dengan ketentuan lanjut Sinto, maka Sintang akan diberikan Pemberian Obat Pencegah Massal (POPM) filariasis selama lima tahun berturut-turut.

“Ini sudah berjalan dan memasuki tahun kedua. Jadi setiap tahun seluruh warga Sintang ini  dilakukan POPM filariasis. Kita juga mengkampanyekan perilaku hidup bersih dan sehat," terangnya Menurut Sinto, sejauh ini berdasarkan hasil temuan kasus di lapangan, maka Kecamatan Kayan Hilir dinyatakan sebagai wilayah dengan tingkat pengidap filariasis paling tinggi di Sintang.

“Dari total sembilan kasus yang kita temukan saat ini, dua di antaranya sudah meninggal. Namun meninggalnya dikarenakan komplikasi, termasuklah kaki gajah tadi juga jadi penyebab,” imbuhnya. Sinto mengatakan bahwa cacing filaria wuchereria banccroft sebagai pembawa parasit kaki gajah bisa masuk ketubuh manusia lewat berbagai media. Salah satunya melalui jaringan kulit manusia.

"Karena itu Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) merupakan salah satu kunci utama untuk mencegah kemungkinan bahaya dari cacing ini," terangnya. Sementara itu, Kepala UPTD Puskesmas Nanga Mau, Kecamatan Kayan Hilir, Darwin mengatakan, sebagai wilayah dengan penyumbang penderita kaki gajah terbesar di Sintang, upaya mengatasi itu pihaknya secara intensif melakukan penyuluhan kepada masyarakat.

"Kita usahakan untuk mengkawal kasus kaki gajah ini. Tentunya melalui kegiatan-kegitan yang ada di puskesmas. Lalu kita deteksi per bulannya,” ujarnya saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Minggu (22/10) siang. Darwin menyebutkan bahwa saat ini untuk wilayah Nanga Mau hanya tersisa satu penderita, karena yang lain sudah meninggal. Indentifikasi tersebut sudah dilakukan sejak bertahun-tahun lalu, dan untuk saat sekarang ini hanya pada tahap pembebasan filariasis dengan POPM. Menurut Darwin permasalahan utama yang dihadapi di tengah masyarakat berkaitan dengan filariasis ini adalah PHBS.

“Ini yang berat, masyarakat masih belum sepenuhnya sadar tentang penerapan PHBS,” keluhnya. Ada banyak faktor kata Darwin yang menyebkan mengapa masyarakat begitu rendah kesadarnnya. Utamanya masalah ekonomi dan pendidikan. “Masyarakat kita masih banyak yang kurang mampu, mereka bekerja seharian, pulang kadang sudah malam dari ladang. Kemudian tingkat pendidikan juga masih rendah," katanaya.

Maka dikatakannya berbagai faktor itulah yang pada akhinya membuat masyarakat tidak mampu menjaga kesehatan diri dan keluarga, lantaran tidak memahami persoalan ini. (pul/nak)

Komentar