Kisah IPTU Hariyanto, Salurkan Bakat Seni Anak Jalanan

Sosok

Editor hendra anglink Dibaca : 683

Kisah IPTU Hariyanto, Salurkan Bakat Seni Anak Jalanan
IPTU Hariyanto. (Nana/SP)
SINTANG, SP - Jika seseorang sudah terpanggil untuk berbuat kebaikan, maka rintangan sebesar apapun pasti akan dihadapi. Begitulah kisah IPTU Hariyanto, yang sangat mencintai dunia kesenian. Berjuang dari nol, Paur Subbag Humas Polres Sintang ini, nekat mendirikan sanggar seni, yang kini punya puluhan anggota dan berhasil memperoleh beragam prestasi.  

Awal IPTU Hariyanto mendirikan sanggar seni adalah saat masih bertugas sebagai anggota Binmas Polres Sintang. Saat itu, ia sering patroli di Kota Sintang, terutama pada malam hari. Ia menemui banyak anak-anak usia sekolah, yang sering nongkrong dan mabuk-mabukan sambil bermain musik.  

“Kala itu, saya berfikir bagaimana caranya agar anak-anak ini bisa punya wadah untuk menyalurkan hobi seninya. Dari pada nongkrong tidak tentun arah,“ ujarnya.   Dengan seni, IPTU Hariyanto yang kala itu masih berpangkat Aipda, menawarkan ke anak-anak tersebut untuk bergabung dalam satu wadah, sanggar kesenian. Ia berharap, mereka bisa menyalurkan hobi seninya.  

Sebelum bergabung, IPTU Hariyanto punya syarat, yaitu anak-anak muda tersebut bisa merapikan penampilannya. Dari yang tadinya berambut panjang dan lusuh diminta untuk tampil lebih rapi. Meski sempat diprotes, namun pada akhirnya anak-anak muda tersebut setuju.  

Dari sinilah IPTU Hariyanto berfikir keras, bagaimana caranya bisa membeli alat-alat pendukung kesenian, sehingga anak-anak didiknya bisa berlatih lebih maksimal.  

Sebagai tempat latihan, IPTU Hariyanto mengajukan peminjaman ruang Balai Kemitraan Polres Sintang. Karena ini juga ia menamai sanggarnya dengan nama Sanggar Bhayangkara. Karena jalan di samping Polres Sintang, di mana aula Polres menghadap, bernama Jalan Bhayangkara.  

“Awalnya kita latihan dengan alat seadanya. Anak-anak pun rajin berlatih. Ada sekitar empat puluhan dengan beragam bidang yang disukai. Mulai olah vokal, pemain musik, tata rias, dan tari,” ceritanya.  

Karena tidak ada dukungan dana, IPTU Hariyanto pun berjuang sendiri membangun sanggarnya. Untuk membeli alat, ia bahkan menjual motor pribadinya. Tak cukup uang hasil penjualan motor, IPTU Hariyanto meminjam ke beberapa rekannya.   Sanggar Bhayangkara sempat pasang surut. Apalagi saat dirinya pindah tugas ke pedalaman, yaitu ke Polsek Tebidah, maka praktis sanggar yang dibinanya sempat tanpa aktivitas.  

“Saat kembali ke Polres, saya kumpulkan lagi anak-anak, dan Sanggar Bhayangkara perlahan hidup dan semakin besar. Anggota terus bertambah, bahkan dari berbagai kalangan, pelajar, pemuda, bahkan anggota Polres juga bergabung,” bebernya.  

Kini setumpuk piagam penghargaan maupun puluhan piala atas prestasi dari berbagai kegiatan dan perlombaan yang pernah dijuarai berjejer rapi dilemari rumahnya. Sejak tahun pertama berdiri sanggar yang dibina Hariyanto memang telah menunjukan kualitas berkat pembinaan yang ketat.  

“Banyak kendala yang saya hadapi, sejak pertama berdiri, tepatnya  5 April 2008. Saya pernah kekurangan uang, saat akan memberangkatakan peserta lomba, saya terpaksa jual cincin istri.  Alhamdulillah kami bisa menang,” papar pria kelahiran Sintang 48 tahun silam ini.  

Karena kegigihannya, Sanggar Bhayangkara pernah ikut festival tingkat Kalimantan di Serawak, Malaysia pada 2008 dan 2010. Juga sering nampil ke pentas nasional. Bahkan, banyak anak sanggar yang meneruskan pendidikan ke prodi kesenian. (nana harianto)