Bukit Jamur Miniatur Mahameru di Bumi Sebalo

Wisata

Editor sutan Dibaca : 1369

Bukit Jamur Miniatur Mahameru di Bumi Sebalo
Bukit Jamur, andalan pariwisata di Kabupaten Bengkayang. (foto:net)
Siapa yang tak mengenal Bukit Jamur. Sebuah kawasan wisata alam perbukitan yang marak diperbincangkan dan dikunjungi para pendaki. Bukit ini bahkan disebut menyerupai puncak Gunung Semeru.
Pada medio akhir tahun 2014 serta awal 2015, Bukit Jamur mulai terkenal dan semakin ramai dikunjungi. Bahkan sempat menjadi perbincangan hangat di media-media sosial. Seiring waktu, Bukit Jamur kini tetap menjadi salah satu andalan pariwisata di Kabupaten Bengkayang.
Letaknya yang berada diketinggian, merupakan satu di antara tempat terbaik untuk melihat pesona alam Kabupaten Bengkayang. Sebuah kabupaten yang dikelilingi oleh gunung, bukit dan lembah yang mempunyai pemandangan alam yang sangat mempesona.
Oleh sebagian masyarakat Kabupaten Bengkayang, Bukit Jamur disebut juga dengan nama Bukit Batu karena memang bukit ini terdiri dari hamparan batu yang cukup besar. Bukit Jamur berdasarkan kewilayahan tepat berada di Dusun Jaku, Kelurahan Bumi Emas Bengkayang atau hanya berjarak lebih kurang enam kilometer dari pusat Kota Bengkayang. Untuk mencapai dusun ini hanya diperlukan waktu sekitar 20 menit dari pusat kota menggunakan kendaraan pribadi melalui jalan kecil desa yang kondisinya sudah cukup baik.
Sementara, untuk sampai ke puncak bukit, pengunjung harus menempuh perjalanan mendaki selama dua hingga tiga jam melewati jalan setapak yang dibuat oleh warga setempat. Melewati hutan rimba dengan pepohonan yang masih sangat rindang serta sungai-sungai kecil yang mengaliri air dari puncak bukit. Perjalanan yang cukup melelahkan ke puncak akan terbayar dengan pemandangan indah yang terlihat di depan mata.
Kita bisa melihat seluruh pemandangan Kota Bengkayang yang dikelilingi oleh bukit dan lembah. Di atas Bukit Jamur ini juga, kita bisa merasakan sensasi berada di atas awan. Jika ingin bermalam di bukit ini, jangan lupa untuk membawa peralatan camping lengkap beserta alat masak.
Agus Muhara (25), warga asal Kabupaten Sambas yang pernah berkunjung ke Bukit Jamur menceritakan, pemandangan paling indah saat berada di puncak bukit setinggi 500 Mdpl ini adalah ketika malam dan pagi hari saat matahari terbit. Sebab menurutnya, ketika malam, binar-binar lampu di Kota Bengkayang terlihat bagaikan bintang yang berpijar. Sedangkan jika pada pagi hari, bintang-bintang itu redup dan digantikan dengan awan-awan putih menyelimuti penjuru kota, seperti lautan.       
“Setelah melihat lampu-lampu di Bengkayang dari ketinggian dan lautan awan di pagi harinya. Kita tak seperti berada di Kalbar,” ungkap Agus. Dikatakan Agus, saat itu, ketika Bukit Jamur belum dikenal secara luas. Pengunjung dari luar kota masih relatif jarang. Kondisi daerahnya pun masih begitu asri, dengan padang rumput ilalang setinggi dada yang mengantar perjalanan mereka menuju puncak. Bukit Jamur diketahui Agus dari cerita temannya yang berasal dari Bengkayang.
Dengan pertimbangan mudah ditempuh dan dekat dengan pusat Kota Bengkayang, dia beserta belasan temannya memutuskan untuk pergi.  
“Seingat kami, waktu itu tanggal 5 Desember 2014. Bukit Jamur belum terkenal. Kami mendengar cerita teman yang berasal dari Bengkayang. Pas liburan kuliah jadi berangkat," kenangnya. Selain itu, banyak juga cerita tentang keindahan bentang alamnya yang begitu menakjubkan mata.
Sehingga hasrat dan keinginan dia beserta temannya untuk menjajaki bukit ini semakin menjadi. "Pesona alamnya akan kami buktikan sendiri saat itu dan memang terbuktikan, memang menakjubkan," terangnya. Namun sayang, lambat laun waktu bergulir, dan Bukit Jamur menjadi fenomenal. Dampak-dampak negatif mulai dirasakan akibat semakin banyak pengunjung yang tak mengerti aturan. Banyak pendaki masih melanggar etika, dengan meninggalkan tumpukan sampah yang beserakan di daerah bukit dan kaki bukit sepanjang jalan yang dilewati. Hingga berujung pada kebijakan warga adat setempat untuk menutup sementara wisata Bukit Jamur.  Satu di antara tokoh pemuda di Bengkayang, Mujidi mengatakan, kini wisata pendakian di Bukit Jamur telah dibuka kembali. Kendati tak seramai yang diperbincangkan tempo lalu, namun pengunjung masih cenderung ramai, terutama pada saat libur dan hari raya. “Masih banyak yang sering datang. Seperti menyambut malam tahun baru dan Natal beberapa waktu lalu,” tuturnya. (hendra tjipta/ind)

Komentar