Silau Mata di Sail Karimata (1)

Wisata

Editor Kiwi Dibaca : 820

Silau Mata di Sail Karimata (1)
Kapal yachter bertambat di Desa Betok Jaya, Kepulauan Karimata
 Sembilan tahun lalu, perwakilan Kemendari sempat bercanda dengan Hildi. “Daerah pulau kok dijadikan kabupaten.” Canda itu disampaikan, pada saat Kabupaten Kayong Utara, resmi menjadi Daerah Otonomi Baru. Sekarang, justru daerah kepulauan inilah, destinasi wisata bahari dimulai. Melalui Sail Selat Karimata 2016, pulau di ujung Kalbar ini menjadi tuan rumah, acara tahunan, program pemerintah bertaraf internasional.

Debra awalnya merasa pesimis, Pulau Karimata, yang nakal dikunjungi, jauh dari harapan. Sebelumnya, ia bersama puluhan pemilik kapal yachter berlayar dua bulan lamanya dari Darwin, Australia, menuju Pulau Karimata. Turis asal Australia ini mengaku selama perjalanan, dalam peta yang dibawa, sama sekali tidak terlihat gambar pulau terpencil dan terisolir tersebut.

Yachter adalah jenis kapal layar ringan dengan daya jelajah yang cepat. Dahulu kapal ini untuk mengantar orang penting. Dalam perkembangan kapal ini dimiliki mereka yang memiliki hobi berlayar. Debra dan puluhan rekannya di desa ini adalah satu di antara komunitas yachter tersebut.
Tapi rasa pesimis itu mendadak dikubur dalam-dalam. Debra bahkan  tak butuh waktu lama, mengutarakan jatuh cinta pada  pulau ini. Cukup dalam hitungan detik, sejak kapal yachter milik warga Australia tersebut bertambat di dermaga kecil, tepatnya di  beranda Desa Betok Jaya. Begitu ia dan rombongan menginjakkan kaki ke pantai, semuanya merasakan lembutnya pasir putih di desa ini.

Rombongan turis dari sejumlah negara ini semula diselimuti lelah, mendadak lenyap, begitu melihat pemandangan dua dimensi di pulau ini. Mereka  takjub, begitu melihat birunya laut bahari dan indahnya panorama alam perkampungan masyarakat pesisir.

Di desa ini, rombongan mendapat kalungan bunga dari Bupati Kayong Utara, Hildi Hamid, menyambut kedatangan tamu jauh. Para penduduk juga menawarkan rumah mereka untuk dijadikan penginapan, selama berlibur.
Debra adalah satu di antara pemilik yachter yang singgah di Pulau Karimata, bersama rombongan. Ada 30 yachter memadati dermaga kecil di Desa Betok Jaya, kala itu. Kedatangan mereka, atas undangan Pemda Kayong Utara, pada perayaan Festival Karimata 2015.

Thomas, rekan Debra mengetahui Pulau Karimata dari Raymond Lesman. Raymond adalah Executive Director Yayasan Cinta Bahari Antar Nusa, sudah beberapa kali berlibur di pulau ini. Dari pengalaman itu, Thomas mendapat informasi, Pulau Karimata, dengan luas 77.000 hektar luas perairannya menjanjikan keindahan bawah laut yang belum banyak dikenal para pehobi kegiatan underwater di Indonesia. Apalagi sebagian wilayah ini diketahui berstatus Suaka Alam Laut (SAL). Raymond, menambahkan, potensi landscape kepulauan yang dihuni oleh lebih dari 1.400 jiwa ini pun menawarkan pesona yang tidak kalah menawan. “Saya ingin lebih lama lagi berada di desa ini,” tutur Debra, kepada Suara Pemred.   

Perkataan Debra tadi bukan basa-basi. Semalam di Pulau Betok Jaya, Debra merasakan betul hangatnya lantai papan penduduk dan hidangan menu dari bawah laut. Selain hidangan kopi hangat, rombongan juga disuguhi udang gala dan cumi sebesar kepalan tangan, menjadi santapan wajib dinikmati para tamu.     

Tapi yang menarik di sini, para tamu  belum pas, bila tidak melihat langsung, bagaimana aktivitas masyarakat pesisir sebenarnya bertahan hidup, tanpa listrik dan sinyal dari provider. Nuansa ini, membuat para turis ini menerima tantangan.  “Kalau mau mencukupi kebutuhan pokok, warga biasa selalu hidup mandiri. Untuk makan nasi saja, kami harus tanam padi.
"Untuk lauknya kami manfaatkan hasil tangkapan di laut,” tutur Hasanudin. Ia adalah Kepala Desa Betok Jaya bercerita kepada turis. Bahkan, bila ingin berbelanja, masyarakat justru memilih berbelanja di Pulau Belitung. Itu adalah lokasinya syuting pembuatan film Laskar Pelangi. Belitung sendiri masuk dalam Kepulauan Riau.

“Kalau kita dari Karimata ke Sukadana butuh waktu 8 jaman perjalanan. Tapi kalau ke Belitung, hanya 4 jaman saja,” tutur Hasanuddin. (TIM REDAKSI)



Komentar