Silau Mata di Sail Karimata (4)

Wisata

Editor Kiwi Dibaca : 800

Silau Mata di Sail Karimata (4)
Para penyelam di Pulau Karimata
Seorang nelayan muda bertubuh kekar,  memegang sebuah nampan besi yang mengepulkan asap tebal.  Tubuhnya  hitam legam karena setiap hari melaut di bawah teriknya sinar mentari. Asap tebal dari nampan di tangannya  mengepul-ngepul di udara, bercampur dengan pekatnya kabut di langit kelabu. Nelayan itu sesekali meringis.

Keringat deras mengalir deras dari dahinya. Raut wajahnya tegang. "Awas, nampannya mulai panas, bisa jatuh," bisik seorang diver (penyelam) jelang ritual. Di samping si nelayan,  berdiri seorang lelaki setengah baya berkemeja tangan panjang coklat, dan berkopiah hitam. Nelayan itu berusaha tegar. Wajahnya  berpeluh. Tangannya gemetaran  memegang nampan besi berisi bara api itu.

Nampan di tangan lelaki itu segera diambil alih oleh lelaki di sampingnya, yang ternyata seorang tokoh adat setempat. Dia kemudian merapal mantera. "Upacara ini untuk meminta berkah, supaya semua kegiatan Festival Karimata 2015 berjalan lancar sejak awal hingga akhir," kata seorang sesepuh Pulau Betok kepada Suara Pemred di sela ritual. Ritual itu ternyata memanjatkan doa kepada pelancong untuk melanjutkan perjalanan, menyelami alam bawah laut di Pulau Karimata.

Hari itu, minggu pertama November 2015. Di Dermaga Betok Jaya, rombonganbertolak ke Pulau Genting. Pulau ini masuk dalam gugusan Pulau Karimata. Akses dari Desa Betok Jaya ke Genting, harus menggunakan perahu motor, dengan cara menerabas ombak di laut. Lama perjalanan agar bisa sampai ke desa ini memakan waktu sekitar satu jam setengah.


Di sinilah perjalanan singkat yang ditunggu pelancong. Lagi-lagi pemandangan alam yang segar menyihir mata, dengan hamparan hutan bakau dan pohon nipah, memanjang di sepanjang garis pantai.

“Tapi pemandangan sesungguhnya ada di sini,” tutur Yodi, fotografer media lokal di Kalbar.
Hal itu diamini oleh Irwansyah.  Pengurus Persatuan Olahraga selam Indonesia (POIS) Kalbar ini paham betul, di bawah laut Pulau Genting kaya akan terumbu karang serta biota lautnya.


Siapapun yang dating, tidak akan rugi menikmati panorama pemandangan alam bahari di pulau ini. Erwansyah sendiri sudah beberapa kali melakukan penyelaman di pulau itu. “Hasilnya sungguh mengagumkan,” katanya. Di Pulau itu ternyata masih banyak menyimpan terumbu karang dan kaya dengan biota laut. Begitu terjun di kedalaman 10-20 meter, terumbu karang dengan aneka warna terlihat jelas dari mata memandang. Karena di pulau didukung tingkat kecerahan yang baik dilakukan para penyelam. Yakni jarak pandang antara 3-5 meter waktu normal.

Bagi para penyelam scuba (scuba diving) jarak pandang atau visibillty adalah satuan kejernihan air untuk kegiatan menyelam. Biasanya dinyatakan dalam satuan jarak seperti meter dan feet. Semakin jauh jarak pandang kita sewaktu menyelam, air semakin jernih semakin mudah untuk melihat objek selam, sebaliknya semakin pendek jarak pandang, maka kita akan mengalami kesulitan dalam melakukan penyelaman.

Begitu terjun di kedalaman 20-30 meter dari dasar laut, dirinya menemukan langsung lubang tempat ikan hiu berlindung. “Lubangnya cukup besar. Diameternya setinggi orang dewasa,” katanya. Beruntung tidak ada satu hiu pun yang keluar dari sarang. Tapi perasaan takut dan was-was tetap menghampiri para penyelam.
Rasa was-was itu pun hilang, begtiu para penyelam melihat seokor penyu hijau berenang pelan dari dalam laut. Gusti, satu di antara diving pengalaman bahkan mengaku bangga bias melihat segerombolan ikan napoleon, ikan langka dan dilindungi penduduk lokal.

“Baru pertama kali saya lihat ikan napoleon di dasar laut,” tutur Gusti.

Kepala Seksi BKSDA SKW 1 Ketapang, Junaidi sejak 2010, masyarakat sekitar sudah melarang penggunaan bom ikan bagi warga lokal maupun nelayan dari luar. Beberapa terumbu karang yang rusak pun sudah mulai tumbuh kembali. Masyarakat sekitar juga sudah menyadari akan dampak dari bom ikan dan melarang penggunaannya di pulau ini. (TIM REDAKSI)  



Komentar