Jemalung, Kayu Ukiran Khas Dayak Tampil di JEC

Wisata

Editor Soetana hasby Dibaca : 1609

Jemalung, Kayu Ukiran Khas Dayak Tampil di JEC
JEMALUNG - Damianus Agau Hirang sedang merampungkan Jelamung dari kayu Mahoni di Jogja Expo Center (JEC) Yogyakarta, Kamis, 24 November 2016. (Roesby)
BATANG kayu Mahoni sepanjang dua meter itu, sudah 60 persen berubah ujud. Kulit kayunya sebagian hilang dikerok meninggalkan daging kayu yang berwarna putih. Ujudnya pun tak lagi berupa gelondongan. Sudah ada tatahan sana sini yang membuat kayu gelondongan itu berukir. Bentuknya mengingatkan totem, patung kayu dengan ornamen kepala bertingkat khas buatan suku Asmat di Papua.

“Ini namanya Jemalung. Tiang yang berukir. Ornamennya khas Dayak,” kata Damianus Agau Hirang, 23 tahun, saat ditemui usai pembukaan Pekan Budaya Dayak Nasional II yang digelar di gedung Jogja Expo Center (JEC) Yogyakarta, Kamis, 24 November 2016 lalu.

Agau, demikian panggilan akrab mahasiswa semester VII Jurusan Seni Kriya Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, hanya seorang diri membuat Jemalung.

Di atas hamparan karpet merah, Agau mengasah beberapa mata tatah dan menatah gelondongan kayu itu dengan membentuk ukiran ornament khas Kalimantan.

Satu gelondong kayu dengan panjang berukuran 2 hingga 3 meter membutuhkan waktu tiga hari. “Mestinya pakai kayu Ulin yang hanya ada di hutan Kalimantan. Di sini tidak ada,” kata Agau.

Biasanya, tiang berukir itu dipajang di depan rumah. Lantaran dari kayu Ulin atau kayu besi yang kuat dan tahan berbagai cuaca, Jemalung pun tahan lama dipajang di pekarangan.

Jemalung menjadi penanda strata sosial penghuni rumah. Biasanya, mereka yang memajangnya adalah kepala suku, pimpinan agama, atau pun ksatria.

Ada pula tiang berukir yang disebut Bluntang. Dipajang di depan rumah yang penghuninya seorang pemburu. Bentuk ukirannyapun berbeda.

Untuk Bluntang, ukirannya berupa ornamen binatang buruan yang disukai si pemburu. “Misalnya ornamen pemburu yang sambil memanggul binatang,” kata Agau, asli Suku Dayak Bahau dari Ulu Mahakam, Kalimantan Timur.

Untuk menentukan bentuk ornamen yang akan diukir membutuhkan ritual khusus.

Si pengukir akan mendapatkan wangsit dari leluhurnya lewat mimpi atau bisikan. Lalu diujudkan dalam bentuk ukiran. Apabila tak ada wangsit, si pengukir akan membuat ornamen yang sama seperti Jemalung yang dibuat leluhur sebelumnya. Ornamen akan berubah apabila generasi penerus mendapatkan wangsit yang baru.

Tak hanya mengenalkan seni ukir kayu khas Dayak, Agau pun giat nguri-uri kebudayaan khas tanah kelahirannya lewat atribut yang dikenakan. Tak hanya tampil bertelanjang dada dengan penutup kepala yang dihiasi dengan bulu burung Enggang yang berwarna hitam putih. Agau juga memanjangkan lubang tindik telinganya hingga memanjang sekitar tiga centimeter.

Sepasang anting berbentuk cincin dari tembaga bergelantungan di lubang tindik kedua telinganya. Lantaran dia laki-laki, panjang lubang tindik telinganya tak boleh menyentuh pundak. Itu akan menyulitkan gerakan laki-laki saat menari atau pun berburu. Berbeda dengan lubang tindik telinga perempuan yang semakin panjang, maka semakin tinggi tingkat kecantikannya.

Agau juga menyematkan anting dari kayu Ulin dan tanduk rusa yang kedua ujungnya runcing. Kedua anting itu menembus sisi atas kedua telinganya yang disebut mubung ngapang atau puncak telinga.

“Biasanya disematkan pada ksatria yang telah melakukan Ngayau. Kalau sekarang hanya atribut saja,” kata Agau.

Ngayau adalah tradisi berburu kepala manusia yang dilakukan suku Dayak ratusan tahun lalu. Lantaran rentan terjadi perselisihan, tradisi itu dilarang lewat Musyawarah Damai Perjanjiaan Tumbang Anoi pada 1874. Pemuda itu juga mempunyai tattoo bunga terong berwarna hitam di bawah kedua pundaknya dan ornamen khas Dayak di dadanya yang melambangkan kegagahan dan kewibawaan.  

Menurut Sekretaris Jenderal Masyarakat Adat Dayak Nasional (MADN) Yacobus Kumis, Pekan Budaya Dayak Nasional kedua yang digelar pada 24-27 November 2016 di Yogyakarta itu memang melibatkan mahasiswa asal Kalimantan sebagai penyelenggaranya. Tercatat ada sekitar 1.500 mahasiswa asal Kalimantan di Yogyakarta. Berbeda dengan perhelatan pertama pada 2013 lalu di Gedung Gelora Bung Karno di Jakarta yang melibatkan pemerintah daerah di Kalimantan.

“Biar mahasiswa ini ditempa untuk mencintai budayanya. Kalau hanya menonton, tidak meresapi,” kata Yacobus.

Penulis: Roesby asal Yogyakarta