Rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Kalbar telah mendapat restu dan dukungan dari Pemerintah Provinsi Kalbar sebagai upaya mendukung kemandirian energi nasional dan industrialisasi di Kalbar.
Hal tersebut disampaikan Akademisi dan Praktisi Energi Nuklir Kalbar yang juga Penggagas Komunitas Muda Nuklir Nasional Wilayah Kalbar, Wijanarko, belum lama ini.
"Hal ini secara tegas disampaikan oleh Gubernur Kalbar Sutarmidji dalam setiap pertemuan atau kegiatan yang berhubungan dengan iptek nuklir di Kalbar. PLTN diperlukan untuk meningkatkan daya saing produk daerah kita yang kaya akan cadangan bauksit, program PLTN Kalbar saat ini sudah dalam proses pengkajian," ungkapnya.
Kata Wijanarko, bukan tanpa alasan gubernur mendukung penuh program pembangunan strategis nasional ini. Berdasarkan data dari Kementerian ESDM, Kalbar merupakan daerah yang memiliki cadangan bauksit yang melimpah, yakni sekitar 3,8 milyar ton. Bauksit tersebut harus diolah dengan menggunakan pabrik smelter agar menjadi produk setengah jadi (semi-finishing product) berupa alumina sebagai bahan baku industri aluminium.
Pengolahan bauksit menjadi alumina merupakan usaha untuk meningkatkan nilai tambah produk sehingga dapat menaikkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi Kalimantan Barat. Pembangunan pabrik Smelter Grade Alumina (SGAR) di Kabupaten Mempawah telah dicanangkan oleh Menteri BUMN yang ditargetkan dapat beroperasi pada tahun 2020 dan memiliki kapasitas produksi hingga 1 juta ton.
"Untuk mendukung industri tersebut, tentu diperlukan sumber energi listrik yang melimpah dan stabil agar produktivitas pabrik dapat terjamin," ungkap Wijanarko.
Lanjutnya, Kalbar termasuk daerah yang masih defisit energi listrik dan hampir 80% listriknya impor dari negara Malaysia sehingga sangat riskan apabila tidak diimbangi dengan pembangunan infrastruktur bidang energi listrik di Kalbar. Oleh karena itu, PLTN diyakini sebagai solusi dalam mengatasi permasalahan defisit energi listrik dan mendukung industri alumina karena dapat menghasilkan energi listrik yang melimpah, handal, stabil, dan bersih.
Untuk itu, kegiatan sosialisasi iptek nuklir harus dilakukan secara berkala dan masif yang langsung menyentuh masyarakat Kalbar dengan cara melakukan diskusi aktif, penyuluhan, bakti sosial, dan penyaluran produk hasil dari iptek nuklir untuk masyarakat. Produk hasil iptek nuklir berupa bibit unggul pertanian, alat terapi dan diagnosis kesehatan, serta aplikasi bidang industri lainnya.
"Dengan cara seperti itu diharapkan masyarakat dapat tertarik dan melihat energi nuklir dapat memberikan manfaat yang bisa langsung dirasakan mereka," harap Wijanarko.
Terkait juga adanya pro kontra dari masyarakat Kabupaten adalah hal yang biasa. Sebagai pegiat nuklir tentu harus terus aktif dalam menyebarluaskan informasi dan wawasan seputar teknologi nuklir beserta dampak positif, dan negatifnya kepada masyarakat baik melalui media sosial maupun secara langsung berhadapan dengan masyarakat.
Hal ini katanya, untuk mencegah terjadinya disinformasi masyarakat terhadap penggunaan teknologi nuklir di Indonesia yang mana pemanfaatannya dilakukan secara tepat dan hati-hati, serta ditujukan untuk maksud damai dan kesejahteraan rakyat sesuai dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1997 tentang Ketenaganukliran.
"Kemudian mengenai perencanaan program pembangunan PLTN di Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat merupakan suatu usaha untuk meningkatkan rasio kelistrikan, dan bauran energi sehingga dapat mendukung industrialisasi dan pertumbuhan ekonomi di Kalimantan Barat," ujar Alumnus Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir-BATAN Yogyakarta ini.
"Terkiat pro kontra masyarakat atas rencana tersebut, sapa pikir semua kebijakan pasti seperti itu dan itu sah-sah saja. Tapi kita tetap harus berpegang dengan data dan fakta yang dapat dipertanggungjawabkan. Jadi tidak ada kesalahan informasi yang di dapat masyarakat," ujarnya.
Staf Ahli Bidang Relevansi dan Produktivitas Kemenristekdikti, Agus Puji Prasetyono, mengatakan, PLTN merupakan satu-satunya jenis pembangkit listrik yang paling aman dan selamat karena desain sistem keselamatannya yang sangat berlapis. Nuklir itu sistem keselamatannya jauh lebih aman dari pada pembangkit listrik lainnya dan untuk kriteria pembangunan PLTN ini memiliki tiga kriteria, pertama bebas dari gempa, kedua dekat dengan laut, dan ketiga jauh dari kawasan penduduk.
" Itu syarat dasar dalam pembangunan PLTN tersebut," ucapnya.
Lanjut Agus Puji Prasetyono, PLTN memiliki reaktor nuklir yang berfungsi sebagai tempat berlangsungnya reaksi fisi berantai untuk menghasilkan energi panas yang sangat besar yang digunakan sebagai pembangkitan uap untuk memutar turbin dan generator penghasil energi listrik.
Dalam pengamanan reaktor nuklir mempunyai prinsip 3C, yakni Control, Cool dan Contain. Control terkait upaya mencegah peningkatan radiasi yang berlebihan, Cool terkait dengan upaya mendinginkan bahan bakar dan reaktor nuklir, dan Contain berkaitan dengan upaya menjaga bahan radioaktif agar tetap dalam reaktor nuklir. (nar-wati)