Bengkayang post authorKiwi 13 Oktober 2021

Beban Ganda Nelayan di Tengah Pandemi

Photo of Beban Ganda Nelayan di Tengah Pandemi Hasil tangkapan nelayan

BENGKAYANG, SP - Pandemi covid-19 masih menjadi momok sekaligus masalah tersendiri bagi kehidupan masyarakat sampai saat ini. Bahkan, kondisi tersebut cukup berdampak signifikan di berbagai sektor kehidupan.

Tak terkecuali permasalahan di sektor perikanan, yang salah satunya berdampak bagi nelayan. Terutama, kondisi pandemi yang berefek pada peningkatan produksi perikanan, serta pengaruhnya pada daya beli masyarakat, sehingga volume pendapatan menjadi berkurang.

Menurut salah satu nelayan aktif dan juga pemilik kapal, Rollex Connery menyatakan, sejak adanya pandemi Covid-19 beban para nelayan menjadi bertambah di bandingkan hari-hari biasanya. Hal tersebut dapat di rasakan dengan berkurangnya pendapatan yang turun secara drastis.

Ia juga tak menipiskan, bahwa sebelum adanya pandemi pun, nelayan memang kerap memiliki persolan tersendiri. Mulai dari masalah cuaca, fasilitas dan juga keamanan.

Sebagai nelayan, memang pendapatan ekonomi bergantung dari hasil laut. Sementara saat ini, hasil pun dirasakan mulai berkurang, lantaran jumlah nelayan semakin banyak dan luas wilayah tanggapan semakin menipis dan jauh.

"Jadi nelayan ini susah-susah enak. Artinya orang diluar sana kadang hanya melihat dari sisi hasil yang kita dapat, misalnya pas dapat banyak, tapi mereka tidak tahu susahnya. Seminggu bisa meluat, bisa jadi sebulan atau 2 bulan tak bisa melaut," ucapnya saat melakukan talkshow di Radio SELO FM dengan tajuk "Mengulik Kisah Nelayan di Tengah Pandemi" belum lama ini.

Selain faktor cuaca, Rollex juga memaparkan bahwa selama ini para nelayan susah mendapatkan Bahan Bakar Minyak (BBM) solar subsidi dari pemerintah, khusus untuk nelayan. Padahal, kata ia, BBM merupakan hal utama yang dibutuhkan dalam untuk bisa melaut.

Rollex berharap, agar kedepannya pemerintah dapat memberikan dukungan secara moril kepada kelompok nelayan. Khususnya dalam memberi kemudahan untuk mendapatkan BBM solar, es, serta dokumen kapal yang dirasa sangat berpengaruh terhadap kebutuhan mereka.

"Dalam hal ini, kita tentu perlu dukungan, motivasi, dan support dari pemerintah setempat. Dukungan itu bukan semata berupa uang, tapi pendampingan dan motivasi," katanya.

"Khususnya kondisi yang serba sulit ditengah pandemi saat ini membuat pekerjaan nelayan itu sakit-sakit enak. Artinya enaknya jika melaut ada hasiil Sakitnya apabila mengalami kerugian," jelasnya kembali.

Dia juga mengungkapkan, salah satu permasalahan tersebar melaut adalah perlu biaya yang besar dan tentunya kesehatan yang bugar. Karena menurutnya, pekerjaan nelayan sangat bergantung pada musim.

"Dan disini kita jujur pandemi cukup menambah beban nelayan. Selain cost yang besar juga daya beli yang menurun dari masyarakat. Untuk bisa melaut saja, setiap nelayan butuh setidaknya 70 liter BBM dan belum lagi biaya operasional lainnya, itu dalam sekali jalan,"ungkapnya.

Disamping itu, Rollex juga mengungkapkan keluhan lain yang harus dihadapi nelayan adalah terkait setor pajak untuk Pemerintah, yang setiap tahun harus dilakukan. Sementara selama ini feedback tidak ada dirasakan. Kemudian saat dilaut juga ada razia dokumen kapal untuk nelayan dan sebagainya.

"Ini juga perlu diperhatikan. Karena sampai saat ini kita belum ada pembinaan kepada yang dilakukan oleh pemerintah. Entah itu cara memasang tambak untuk budidaya ikan. Selama ini nelayan justru belajar secara otodidak dengan sesama nelayan lainnya," tutupnya.

Rollex kembali berharap, agar adanya dukungan nyata dari pemerintah untuk para nelayan yang ada di Bengkayang.

Budidaya ikan

Pemerintah saat ini sedang berupaya mengembangkan budidaya dengan sistem Bioflok ke Nelayan. Hal tersebut guna mengantisipasi cuaca buruk yang menjadi halangan bagi nelayan untuk melaut. Sehingga secara ekonomi tetap bisa bertahan.

Budidaya ikan dengan sistem Bioflok dapat menjaga kualitas air dan ramah lingkungan. Terlebih juga saat ini, jumlah nelayan tentu semakin bertambah, sementara untuk wilayah tanggapan tentu semakin sempit.

"Memang saran kita selain mengandalkan hasil melaut, juga lebih ke budidaya. Karena faktor lain dari melaut juga berpengaruh pada ekosistem terumbu karang, yang secara terus menerus melakukan penangkapan, apalagi tidak pernah melakukan konservasi laut," ucap Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan kabupaten Bengkayang, Ir. Magdalena.

Upaya-upaya tersebut tentu perlu dukungan dari berbagai pihak, masyarakat (nelayan), pemilik modal, perbankan dan lainnya. Sehingga program tersebut dapat berjalan.

Ia menegaskan, saat ini pihaknya telah melakukan berbagai upaya dalam rangka melakukan peningkatan terhadap pendapatan nelayan, khususnya di masa pandemi seperti ini. Termasuk diantaranya menyiapkan langkah antisipasi bencana alam di laut, yang dapat berdampak besar untuk nelayan.

"Sementara untuk budidaya ikan, kita perlu dukungan semua pihak. Karena dalam hal ini Pemerintah sendiri hanya sebagai regulator. Dukungan bisa saja dari pemilik modal, perbankan dan lainnya," katanya.

Dirinya mengatakan, selain pandemi, cuaca menjadi faktor utama hasil melaut para nelayan. Maka dari itu, dirinya menyarankan agar nelayan bisa berinovasi tidak hanya mengandalkan ikan yang ada di laut tapi juga berupaya membudidayakan ikan.

Sehingga, sambungnya, ketika terjadi cuaca buruk cadangan ikan masih tersedia untuk penuhi kebutuhan pasar.

"Budidaya ikan bisa dilakukan dengan sistem tambak atau pun Bioflok. Selain itu nelayan juga bisa melakukan budidaya ikan air tawar. Apalagi Bengkayang ini punya daerah arisan sungai yang samgat mendukung hal itu," tuturnya.

Dia juga memastikan, untuk melindungi nelayan, saat ini pemerintah juga mengadakan program untuk memberikan asuransi kepada nelayan, dan itu berlaku dalam setahun. Setelah masa berlaku habis, nelayan dapat memperpanjang kembali secara mandiri.

Selain itu, pemerintah juga telah memberikan rekomendasi untuk mendapatkan BBM solar subsidi untuk melaut. Hanya saja, ia meminta agar setiap nelayan dapat melaporkan berapa kebutuhan sekali melaut dengan rincian yang lengkap sebagai bukti.

"Saat ini kita juga sedang berupaya memberikan bantuan permodalan untuk nelayan dengan bunga bank yang kecil, sekira 3% pertahun. Dengan modal tersebut, diharapkan nelayan dapat mengembangkan usaha atau bisa untuk mengembangkan budidaya ikan, membuat kelompok nelayan siapa tahu dapat membangun apartemen atau rumah ikan," terangnya.

Magdalena juga berharap agar kedepannya, nelayan yang sampai saat ini masih aktif di kabupaten Bengkayang untuk membentuk kelompok usaha bersama (KUB) nelayan. Ini, kata dia, dilakukan dalam rangka untuk memudahkan Pemerintah dalam melakukan pendampingan dan kucuran dana. Karena dengannya kelompok yang dibentuk tentu akan lebih memudahkan pemerintah, baiknya melakukan pembinaan, dan lainnya.

Ekonomi Nelayan Membaik di Tengah Pandemi

Dilansir dari laman website Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI, Rabu (13/10) rilis yang dikeluarkan berdasarkan hasil survei bahwa ekonomi Nelayan membai di tengah pandemi. Rilis tersebut dikeluarkan Juli lalu.

Hasil survei yang dilakukan Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) menunjukkan tingkat ekonomi nelayan membaik sepanjang tahun 2021 meski pandemi Covid-19 masih melanda. Sebagian besar nelayan tradisional mengaku hasil tangkapan seluruhnya terserap oleh pasar.

Survei KNTI terkait tingkat keterjualan hasil tangkapan menyasar 5.292 responden nelayan di 25 wilayah di Indonesia. Waktu pengumpulan data berlangsung selama satu bulan sejak April hingga Mei 2021. Hasil survei menujukkan bahwa 78,43 persen produksi tangkapan nelayan seluruhnya terjual.

"Temuannya ekonomi nelayan kita di tahun 2021 ini sudah mulai membaik. Itu ditandai dengan normalisasi ekonomi nelayan yang terlihat dari peningkatan keterjualan hasil tangkapan," ujar Ketua Umum KNTI Riza Damanik dalam dialog publik secara daring, Rabu (7/7/2021).

Survei tersebut merupakan lanjutan dari survei yang digelar tahun sebelumnya untuk mengetahui kondisi ekonomi masyarakat khususnya nelayan, saat pandemi Covid-19 baru berlangsung. Hasilnya saat itu terjadi penurunan penjualan hasil tangkapan nelayan sebanyak 72 persen dibanding sebelum terjadi pandemi secara global.

"Jadi posisi market perikanan di dalam negeri hari ini sudah mulai pulih. Itu ditandai dengan 78 persen dari nelayan kita bisa menjual keseluruhan hasil tangkapan ikannya di pasar," tambah Riza.

Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono yang turut hadir secara virtual dalam dialog publik tersebut, mengapresiasi langkah KNTI dalam mengawal pembangunan di sektor kelautan dan perikanan. Sinergi dari semua pihak menurutnya merupakan kebutuhan yang tak bisa ditawar.

Selama pandemi Covid-19, pihaknya terus menjaga agar sektor kelautan dan perikanan tetap menggeliat untuk mendorong perekonomian di tingkat daerah maupun nasional bisa tumbuh. Layanan kepada stakeholder perikanan tidak berhenti agar produktivitas berjalan optimal dengan tetap mengedepankan prinsip ekonomi biru.

"Salah satu upaya agar kita bisa mewujudkan pemanfaatan sumber daya ikan yang terukur adalah dengan menerapkan konsep blue economy, mengedepankan efisiensi, mendorong pengembangan investasi dan bisnis perikanan dengan tetap menjaga lingkungan tetap lestari," urai Menteri Trenggono.

Lebih lanjut Menteri Trenggono memaparkan, pihaknya juga sudah mengambil langkah strategis dalam memenuhi ketersediaaan BBM bersubsidi bagi para nelayan, serta bagaimana mengoptimalkan operasional stasiun pengisian bahan bakar umum Nelayan. Langkah-langkah tersebut tentunya juga untuk mendorong nelayan Indonesia semakin produktif untuk peningkatan kesejahteraan.

Langkah strategis yang dimaksud dilakukan bersama BPH Migas, Pertamina dan Pemda terkait untuk penyederhanaan regulasi penyaluran BBM bersubsidi, revitalisasi stasiun pengisian bahan bakar umum Nelayan yang tidak operasional, dan digitalisasi penerbitan rekomendasi penyaluran BBM Bersubsidi.

"Dari sisi kuota, kita juga terus bekerja sama dengan BPH Migas agar jumlah pasokan BBM subsidi untuk nelayan berada dalam jumlah yang memadai, demikian pula dengan jumlah stasiun pengisian bahan bakar umum Nelayan yang akan terus kita tambah seiring dengan peningkatan penerimaan dari PNBP kita," pungkas Menteri Trenggono.(nar)

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda