Bengkayang post authorKiwi 15 Oktober 2021

Damianus Nadu, Sang Penjaga Hutan dapat penghargaan Kalpataru dari Kementerian

Photo of Damianus Nadu, Sang Penjaga Hutan dapat penghargaan Kalpataru dari Kementerian Istimewa

BENGKAYANG, SP - Damianus Nadu (60), merupakan salah satu salah penjuang lingkungan dari kawasan hutan adat Pikul- Pangajid, Kabupaten Bengkayang, Kalbar - baru-baru ini menerima penghargaan Kalpataru dalam kategori Perintis Lingkungan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, pada Rabu (13/10), di Jakarta.

Kalpataru merupakan penghargaan yang diberikan kepada mereka baik individu maupun kelompok yang dinilai berjasa dalam merintis, mengabdi, serta mengelola lingkungan hidup dan kehutanan.

Penyeleksian untuk mendapatkan penghargaan Kalpataru sangat ketat. Dari mulai tingkat Kabupaten, Provinsi dan Tingkat Nasional. Tim juri dalam melakukan penilaian yang dilakukan mulai dari seleksi admistrasi, dan verifikasi lapangan. Para juri pun diisi oleh kalangan profesional, akademisi, pemerintah, akademisi dan jurnalis.

“Kita sebagai orang Kalbar patut bangga atas penghargaan Kalpataru yang didapat oleh Pak Damianus Nadu. Masih ada orang peduli dan konsisten menjaga hutannya dari kerusakan. Semoga penghargaan tersebut menjadi inspirasi bagi warga Kalbar lainnya,” kata Etty Septia Sari mewakili Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kalbar sekaligus mendampingi Damianus Nadu, saat menerima penghargaan piagam Kalpataru di Jakarta.

Pertahankan 100 hektare

Damianus Nadu merupakan sosok penting di balik keberadaan hutan pikul di Desa Sahan. Ia sebagai tabib hutan pikul. Dirinya merintis kegiatan penanaman dengan jenis belian, tengkawang, bengkirai, mahoni, kelodan dan lainnya bersama masyarakat adat di lahan kritis bekas eksploitasi perusahaan kayu dan pembalak liar dimulai sejak tahun 1996. Kegiatan yang dilakukannya berhasil menjaga kelestarian hutan adat pikul

Nadu mengatakan, dalam mempertahankan dan menjaga hutan adat di desanya, ia tidak sendirian. Ia bersama warga desa lainnya kompak mempertahankan hutan adat Gunung Pikul Pengajid, desa Sahan, Kecamatan Seluas, Kabupaten Bengkayang.

“Kami berusaha mempertahankan hutan adat yang luasnya hanya 100 hektare. Sementara di sekelilinginya sudah berubah alihfungsi lahan menjadi perkebunan. Upaya tersebut bukan bertujuan mendapatkan penghargaan, melainkan tanggung jawab kami pada leluhur serta akan diwariskan kepada anak cucu kami ke depannya,” ungkap Nadu.

Hutan adat yang selalu dijaga warga Desa Sahan itu banyak pohon tengkawang. Tanaman yang kini langka ini merupakan jenis unggul. Buah dari tengkawang berhasil mereka produksi menjadi minyak dan mentega yang berguna sebagai bahan baku kosmetik.

“Dalam kesempatan ini, saya mengundang Bapak Dirjen PSKL untuk datang ke desa kami, sekaligus meresmikan pabrik pengolahan tengkawang,” pinta Nadu.

Nadu menceritakan, sejak awal tahun 80-an, perusahaan Kayu unit Usaha Meliter Zaman Orde Baru beroperasi di sepanjangan perbatasan Malaysia-Indonesia PT Yamaker. Termasuk di Desa Sahan, Kecamatan Seluas. Namun, ia sudah berusaha mempertahankan hutan adat warisan leluhurnya di Dusun Malayang, Desa Sahan, Seluas Kabupaten Bengkayang.

Ia mengungkapkan, tidak mudah menghadapi perusahan milik meliter, dia harus berhadapan dengan aparat agar hutan adatnya tidak ambil oleh perusahaan. Karena wilayah itu termasuk konsesi PT Yamaker. "Subuh-subuh didatangi apara meliter bersenjata lengkap akan menangkapnya," kenang Nadu.

Seluruh keluarga menangis, dia tenang menghadapi aparat meliter bersenjata lengkap. ”Bapak-bapak mau mengambil sisa hutan kami, Mandau dan lantak akan kami angkat,” cerita Nadu.

Sempat terjadi negosiasi, namun dirinya tetap tidak mau, karena diminta pihak aparat ke kantor Koramil terdekat. Ia sedikit melakukan perlawanan, akhirnya aparat pergi meninggalkan kediamannya.

Ia juga menceritakan, ada banyak perusahaan silih berganti datang untuk mengambil kayu di kawasan hutan adat Pangajid-Pikul. Puncaknya Damianus memimpin komunitasnya dengan mengangkat senjata api Landak dan Mandau menyerang fasilitas perusahaan supaya mundur dari kawasan hutan adat pikul pangajid.

Kawasan yang menyimpan kekayaan hutan alam pulau Kalimantan, 99 jenis pohon langka di kawasan itu, seperti pohon meranti, tengkawang, teradu, ulin, gambri, dan lain-lain. bahkan diameternya ada yang 7 meter, ada 28 jenis jamur, puluhan jenis anggrek, ada 6 air terjun, tanaman rempah, dan lain-lain.

Kembali ia sampaikan, penghargaan yang ia terima sungguh luar biasa, dan memicu lebih semangat menjaga kawasan hutan adat.

"saya mengucapkan terima kasih pihak-pihak yang telah mendukung perjuangan kami selama ini dalam menjaga kawasan hutan adat pangajid-pikul. Prestasi ini akan menjadi pemicu kami agar lebih semangat dalam menjaga kawasan hutan adat pangajid-pikul,” pungkas Nadu.

Hutan Adat

Hutan Pikul Pengajid Seluas 100 hektar telah mendapatkan legalitas sebagai hutan adat pada 15 Oktober 2002 melalui SK Bupati Nomor 131 Tahun 2002. Kemudian, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan memberikan SK Penetapan Hutan Adat Pikul Nomor SK 1300/MENLHK-PSKL/PKYHA/PSL.1/3/2018. SK ini awal perjuangan masyarakat menjaga hutan sebagai amanah negara dan nenek moyang.

Dengan hutan yang tersisa 100 hektare tersebut, bisa memberikan pendapatan tambahan bagi warga Desa Sahan. Tengkawang menjadi andalan utama yang dihasilkan dari hutan adat tersebut. Kini warga sudah bisa memproduksi sendiri buahnya menjadi mentega. Permintaan mentega dari tengkawang sendiri sangat tinggi di pasaran.

Pada tahun 2014 berbagai NGO seperti Seaclogi, Samdhana Institut, TFCA Programe dengan pendampingan INTAN, masyarakat di Kawasan hutan adat pikul mampu mengelola buah pohon Tengkawang yang berasal dari kawasan hutan adat pikul menjadi butter nabati alami.

Dari awal pengelolaan hanya menggunakan peralatan sederhana, kini penggelolaan buah tengkawang menjadi butter masyarakat sekitar hutan adat pikul dengan lembaga ekonominya yang dibangun melalui Koperasi Tengkawang Layar sudah memilik pabrik yang representatif dalam pengelolaan buah tengkawang dan turunan produknya.

Perjuangan Damianus Nadu dan kawan-kawanya membuahkan hasil, Pemerintah Republik Indonesia melalui kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menganugrahkan penghargaan Kalpataru penghargaan tertinggi bagi penyelamatan lingkungan hidup di Indonesia.

Surat Keputusan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan no: SK.476/MENLHK/PSKL/PSL.3/8/2001 menetapkan Damianus Nadu sebagai penerima Kalpataru tahun 2021. (Nar)

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda