Bengkayang post authorKiwi 21 Mei 2024

Air Baku PDAM Bengkayang Tercemar Limbah PETI, Kesehatan Pelanggan Terancam

Photo of Air Baku PDAM Bengkayang Tercemar Limbah PETI, Kesehatan Pelanggan Terancam

BENGKAYANG, SP – Areal hulu Intake Madi di Dusun Madi, Desa Tiga Berkat, Kecamatan Lumar yang merupakan sumber air bersih bagi ribuan masyarakat di wilayah Kabupaten Bengkayang kembali tercemar akibat adanya aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI).

Hal ini menjadi ancaman serius bagi kesehatan 8.000 lebih pelanggan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) di kabupaten tersebut.

Untuk diketahui, areal Intake Madi merupakan pusat air bersih yang sampai saat ini menjadi ujung tombak untuk dikonsumsi ribuan warga di Kota Bengkayang, Kecamatan Lumar, dan Kecamatan Bengkayang.

Pada awal Mei 2024 lalu, sejumlah pelanggan air leding sempat mengeluhkan kualitas air yang bersumber dari air bersih Madi.

Novi, Ibu Rumah tangga di Bengkayang misalnya, mengeluh dengan kualitas air leding yang keruh selama beberapa hari dan tak layak dikonsumsi.

Akibatnya, pihak PDAM Bengkayang kemudian sempat menghentikan pendistribusian air sehingga menganggu aktivitas rumah tangga, seperti mencuci, masak dan lain sebagainya.

"Sudah beberapa kali, dan katanya waktu itu keruh karena ada yang kerja “dompeng” di atas (hulu) sumber airnya. Maka air tidak dialirkan ke pelanggan," katanya.

Novi mengaku sempat bertanya ke pihak PDAM terkait tidak mengalirnya air dan pihak PDAM memberikan jawaban bahwa distribusi air ditutup sementara sampai kondisi air normal.

"Biar tidak keruh dan takutnya nanti ada masalah untuk kesehatan," ujarnya.

Novi mengaku sempat khawatir dengan kualitas air yang tercemar dan dapat menganggu kesehatan, terlebih air tersebut merupakan satu-satunya sumber air bersih leding yang di konsumsi masyarakat. Dia pun berharap pemerintah dan pihak terkait dapat lebih serius menanggapi dan menanggani masalah ini.

“Kita berharap jangan sampai hal serupa kembali dan mengancam kesehatan masyarakat banyak yang ada di tiga kecamatan di Bengkayang ini. Semoga ini diperhatikan dengan sangat serius, karena ini sangat penting bagi kebutuhan orang banyak," pungkasnya.

Direktur Perusahaan Daerah Air Minum (Perumdam) Tirta Bengkayang, Wardi saat dikonfirmasi membenarkan bahwa mutu kualitas sumber air baku PDAM Bengkayang telah tercemar karena adanya aktivitas pendulang emas ilegal di Hulu Intake Madi.

“Kondisi air di lokasi Intake Madi dalam keadaan keruh pekat, diduga akibat adanya aktivitas PETI di Hulu Intake Madi,” kata Wardi.  

Wardi menyebut, praktik aktivitas PETI di di hulu Intake Madi sebenarnya sudah berlangsung sejak tahun 2020 lalu. Namun sempat berhenti karena adanya penindakan dari pihak kepolisian.

"Kalau aktivitas PETI sudah sejak 2020 dan ketika ditindak polisi berhenti, namun ketika lengah mereka (pendulang emas ilegal) kembali beraktivitas," katanya.

Wardi mengaku pihaknya juga sudah pernah melakukan inspeksi mendadak (sidak) pada tahun 2020 lalu bersama TNI-Polri untuk mengatasi masalah tersebut. Kemudian juga telah melaporkan kepada Bupati Bengkayang, Dewan Pengawasan dan Forkopimda.

Sebagai langkah tindak lanjut, sempat juga dibuat ritual adat sebanyak dua kali agar tidak ada pengrusakan hutan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Intake Madi. Ritual adat itu dihadiri Bupati Bengkayang beserta Forkopimda.

“Juga ada MoU dengan TNI dan Polres Bengkayang untuk patroli pengamanan di Hulu Intake Madi. Bekerjasama dengan Satpol PP untuk menjaga Intake selama 24 jam dari September hingga Desember 2023 dan melibatkan seluruh Karyawan PDAM untuk piket jaga," kata Wardi.

Selain itu, Perumda Tirta Bengkayang bersama Pemkab, Polres dan tokoh masyarakat juga gencar melakukan sosialisasi bahaya PETI.

Lanjut Wardi, pihaknya juga telah melakukan uji lab kualitas air baku sebanyak dua kali dalam setahun atau ketika kualitas air buruk. Dari hasil uji lab tersebut kualitas air baku masih tergolong aman, hanya saja air perlu dimasak jika untuk dikonsumsi.

Terkait masalah tersebut, Wardi pun mendorong adanya penegakan hukum terhadap pelaku agar ada efek jera bagi pelaku PETI.

“Kita tentunya mendorong penegakan hukum terhadap pelaku agar ada efek Jera. Tahun 2022 ada pekerja sudah pernah membuat surat keterangan di Polsek Lumar untuk tidak mengulangi aktivitas serupa," kata Wardi.

Pihaknya juga mendorong adanya solusi pemberdayaan masyarakat dengan program-program terkait dari dinas dan Pemkab Bengkayang, serta adanya perbaikan infrastruktur dan pariwisata di Dusun Madi, Desa Tiga Berkat.

“Memberikan bantuan sosial kemasyarakatan terhadap masyarakat Dusun Madi, seperti pembuatan box culvert menuju Dusun Madi, bantuan hukum gugatan lahan warga. Langkah lainnya kita menerima dan mengangkat warga Madi untuk jadi karyawan PDAM Bengkayang," ucapnya.

Wardi kembali menyampaikan komitmen Perumda Bengkayang menuntas aktifitas PETI di hulu Intake Madi demi kesehatan dan keselamatan pelanggan.

Sementara itu, Ketua Tim Terpadu Penanganan PETI Kabupaten Bengkayang, Dodorikus menyampaikan bahwa pihaknya dua bulan yang lalu sudah melakukan monitoring dan evaluasi (monev) langsung ke lapangan dan menemukan bekas galian dan peralatan kerja para penambang tradisional di hulu Intake Madi.

“Barang bukti sudah diamankan di Polres Bengkayang. Selanjutnya pihak Polsek dibantu TNI sudah melakukan pembinaan langsung dari rumah ke rumah  kepada para terduga pekerja agar menghentikan aktifitas mereka,” kata Dodorikus.

“Selain itu, beberapa minggu yang lalu jajaran Polres Bengkayang juga sudah mengamankan dan memproses pelaku pengolah dan penampung emas dari wilayah Intake Madi," imbuhnya.

Saat ini lanjut Dodo, upaya monitoring dan patroli di lokasi PETI juga terus dilakukan oleh pihak TNI guna mencegah kegiatan PETI berulang. 

Kemudian sebagai upaya lain untuk mengatasi masalah PETI, sebagaimana disampaikan oleh Wakil Bupati Bengkayang adalah mengusulkan Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) agar para pekerja tambang mendapat tempatnya.

"Program lainnya adalah melakukan pemberdayaan bagi masyarakat pekerja tambang melalui usaha baru berupa budidaya ikan dan perkebunan," pungkasnya.

Selalu Berulang

Wakil Bupati Bengkayang Syamsul Rizal menegaskan aktivitas PETI di hulu sumber air bersih Intake dan IPA Madi selalu berulang, sehingga berdampak pada suplai air di Bengkayang.

Menurutnya, pemerintah memberikan kesempatan adanya Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR), namun khusus di areal Intake Madi tidak akan dikeluarkan WPR walau areal tersebut adalah Areal Penggunaan Lain (APL).

Pemerintah berupaya memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk menambang sesuai dengan aturan yang nanti dibuat dari WPR menjadi Izin Pertambangan Rakyat (IPR) dan pemerintah akan tetap mengawasi.

“Diketahui ada 74 titik areal tambang emas yang ada di Bengkayang. Jadi kami menghimbau kepada masyarakat, nantinya yang bekerja di luar WPR dan IPR pasti akan ditindak dan ditangkap oleh aparat keamanan,” tegasnya.

“Jangan hanya karena kepentingan pribadi kita hari ini akan merusak masa depan anak cucu kita nanti,” tutup Syamsul.

Amankan Pelaku

Kapolres Bengkayang, AKBP Teguh Nugroho menyatakan, pihaknya sudah mengamankan seorang pelaku penambang dan penadah PETI di Intake Madi, beberapa waktu lalu. Pelaku berinisial HR.

"Selain itu kita tingkatkan patroli bersama dengan unsur TNI dan bersama Pemda kita sedang dorong untuk program peningkatan perekonomian masyarakat di sekitar Desa Madi dan mendorong WPR di Kabupaten Bengkayang, sehingga kegiatan penambangan emas terkontrol dan mendatangkan manfaat yang positif buat masyarakat," katanya.

Dalam kasus ini, pihaknya juga mengamankan barang bukti berupa satu unit mesin dinamo, dua tabung gelondong, satu set poli-poli, dua karung muatan 10 kilogram berisikan pasir batu dari penambang yang sudah dihaluskan, satu buah dulang, satu potong tali ban kecil berwarna kuning, lima helai karpet, dan empat buah sap gelondong.

Barang bukti tersebut diamankan dari lokasi PETI di Dusun Madi, Desa Tiga Berkat, Kecamatan Lumar, Kabupaten Bengkayang.

“Hal ini kami lakukan sebagai wujud Polres Bengkayang tetap bergerak semaksimal mungkin untuk menindak tegas pelaku PETI yang telah merusak keberlangsungan alam,” katanya.

Adapun modus operandi pelaku dalam melakukan pengolahan, menampung, membeli serta menjual kembali barang berupa emas hasil penambangan ilegal tersebut yakni menggunakan rangkaian mesin yang dirakit sendiri tanpa izin dari pihak yang berwenang (gelondong), serta tidak memperhatikan keselamatan pekerja, keselamatan alam, dan reklamasi atas kegiatan pertambangan yang dilakukannya.

Untuk pasal yang disangkakan kepada pelaku adalah tindak pidana pertambangan tanpa izin sebagaimana dimaksud dalam 158 Undang-undang Nomor 3 Tahun 2020 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (Minerba) Jo Pasal 55 Ayat (1) KUHP dengan ancaman pidana maksimal lima tahun penjara dan denda paling banyak Rp100 miliar.

Kapolres menyatakan pihaknya akan terus mengembangkan serta melanjutkan penyelidikan dan penyidikan terhadap kasus ini untuk mencari tahu apakah ada pihak lain yang terlibat dalam perkara ini termasuk bagi pemilik maupun penampung hasil pertambangan tersebut.

"Kami harapkan dengan adanya pengungkapan ini dapat menjaga kondusifitas, serta menciptakan rasa aman dan nyaman pada masyarakat khususnya masyarakat Kabupaten Bengkayang," ujarnya.

Kapolres juga mengimbau kepada seluruh unsur untuk tidak melakukan kegiatan pertambangan tanpa izin yang dapat merusak alam yang akan kita tinggalkan kepada anak dan cucu. Apalagi minimnya reklamasi dari hasil pertambangan yang liar mengakibatkan semakin banyak bencana menimpa Kabupaten Bengkayang seperti banjir, longsor, hingga tercemarnya air bersih.     

“Segera lapor kepada kepolisian terdekat apabila masyarakat menemui adanya dugaan tindak pidana apapun bentuknya karena pada hakikatnya terpeliharanya kamtibmas merupakan tanggung jawab kita bersama," tutup Kapolres. (nar)

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda