Bengkayang post authorKiwi 27 Juli 2021

BPBD Temukan Sejumlah Hotspot di Wilayah Bengkayang

Photo of BPBD Temukan Sejumlah Hotspot di Wilayah Bengkayang Ilustrasi

 

BENGKAYANG, SP - Plt Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bengkayang, Damianus mengungkapkan, sudah mulai ada kemunculan hotspot (titik panas) disejumlah wilayah di Kabupaten Bengkayang dalam pekan hari. Titik hotspot tersebut cukup tinggi. Akan tetapi, sambungnya, di tiga hari terakhir angka hotspot yang ada mulai berangsur mengalami penurunan.

Temuan titik hotspot itu sendiri, diduga terjadi lantaran cuaca panas yang beberapa hari kebelakang terjadi di Kabupaten Bengkayang. Dan juga memasuki musim pembakaran ladang warga.

"Tiga hari terakhir berkurang, diperkirakan ada 20-an titik hotspot yang ada. Sebelumnya kita mencatat lebih dari 50 hotspot di seluruh wilayah yang ada," kata Damianus saat diwawancarai, Selasa (27/7).

Damianus menuturkan, menurunnya jumlah hotspot yang ada saat ini tak lepas dari beberapa kali hujan dengan intensitas rendah yang terjadi di wilayah-wilayah hotspot itu sendiri.

Dirinya juga menegaskan, bahwa pihaknya telah mengambil langkah dini dengan mengirim surat siaga karhutla yang saat ini telah ditandatangani oleh Bupati Bengkayang, untuk kemudian disebar kesetiap Camat yang ada di seluruh Kabupaten Bengkayang.

"Ini dilakukan untuk langkah awal sekaligus memberi imbauan kepada tiap Camat agar mengedukasi warganya. Terutama apabila ada yang hendak membuka lahan, kebun, dan sebagainya harus mengikuti prosedur yang berlaku," terangnya.

"Seperti misalnya membuat laporan kepada pihak terkait, baik itu RT, Kadus, maupun Camat untuk dilakukan langkah antisipasi apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan," timpalnya.

Menurutnya, edukasi seperti itu penting diberikan untuk kemudian dimengerti oleh masyarakat yang hendak membuka lahan kedepannya. Karena pada dasarnya, pemerintah tidak melarang aktivitas masyarakat yang hendak berladang atau berkebun. Hanya saja, dalam ini pemerintah ingin mengatur sistematis dan tatacara pembukaan lahan dengan cara yang bijak, serta tidak meninggalkan kearifan lokal masyarakat.

"Seperti misalnya saat ada lahan yang dibuka, ada pula kearifan lokal yang dipergunakan. Terutama untuk memberi sekat-sekat pembatas sesuai Perbup untuk mengantisipasi terjadinya karhutla. Dan yang paling utama adalah melapor ke pihak berwenang, saat hendak membakar," ungkapnya.

Hal itu diungkapkannya, mengingat apabila ada muncul aktivitas seperti membuka lahan dengan cara kearifan lokal, nantinya hal itu akan termonitor sebagai hotspot. Sehingga, apabila hal itu tidak dilaporkan kepada pihak berwajib, maka nanti akan ada tim patroli yang menggunakan water bombing untuk memadamkan hotspot tersebut.

"Maka dari itu, kerjasama masyarakat juga diperlukan. Terutama apabila ada masyarakat yang ingin membuka lahan dengan kearifan lokal. Jadi kita tidak melarang, hanya saja harus mengikuti prosedur yang berlaku secara berjenjang," jelasnya.

Sementara untuk kemungkinan munculnya titik hotspot yang ditimbulkan oleh aktivitas perusahaan yang beroperasi di wilayah Kabupaten Bengkayang, Damianus mengatakan sampai saat ini masih belum ada. Mengingat, setiap perusahaan yang beroperasi terus diberi surat untuk tak membakar hutan secara sembarang.

"Terlebih dari yang sudah-sudah, apabila memang ada lahan milik perusahaan yang terbakar kita langsung beritahu dan mereka juga bergerak cepat untuk melakukan penanganan di wilayah mereka," tutupnya. (Nar)

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda