Bisnis post authorPatrick Sorongan 01 November 2022

World Bank Imbau Indonesia Waspada: Jangan Terlena!

Photo of World Bank Imbau Indonesia Waspada: Jangan Terlena! Gedung World Bank.(Foto: Leadership News)

INDONESIA harus tetap waspada menghadapi dampak krisis global yang diprediksi segera terjadi pada 2023 walaupun perekonomian Indonesia sejak April 2022 mulai pulih akibat dampak pandemi COVID-19.

Menurut laporan Bank Dunia (World Bank), kondisi global yang lebih menantang ini, dan efek jaringan parut COVID-19,  dapat menggagalkan pemulihan.

Banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk memastikan pengembangan sumber daya manusia Indonesia yang kuat dan produktif, menurut laporan Wold Bank edisi 5 April 2022, yang dilansir Suara Pemred.

Human Capital Index Bank Dunia mengungkapkan bahwa hilangnya pembelajaran akibat penutupan sekolah selama pandemi COVID-19,  akan berdampak pada generasi penerus Indonesia.

Karena itu, Indonesia jangan terlena dengan pemulihan ini. Termasuk julukan masyarakat ekonomi dunia bahwa Indonesia adalah negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara.

Indonesia, negara kepulauan yang beragam dengan lebih dari 300 kelompok etnis, telah mencatat pertumbuhan ekonomi yang mengesankan sejak mengatasi krisis keuangan Asia pada akhir dekade 1990-an.

Terdapat Keempat Dunia dan Ekonomi Terbesar ke-10

Saat ini, Indonesia adalah negara terpadat keempat di dunia.  dan ekonomi terbesar ke-10 dalam hal paritas daya beli.

Lebih jauh lagi, menurut Bank Dunia, Indonesia telah membuat kemajuan besar dalam pengentasan kemiskinan, memotong tingkat kemiskinan lebih dari setengahnya sejak 1999, menjadi di bawah 10 persen pada 2019 sebelum pandemi COVID-19 melanda.

Indonesia mengambil alih Kepresidenan G-20 Tahun 2022, dan mendorong semua negara untuk bekerja sama untuk mencapai pemulihan yang lebih kuat dan berkelanjutan dari dampak pandemi.

Perencanaan ekonomi Indonesia mengikuti rencana pembangunan 20 tahun, mulai 2005- 2025.

Hal ini tersegmentasi ke dalam rencana pembangunan jangka menengah lima tahun.  yang disebut RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional), masing-masing dengan prioritas pembangunan yang berbeda.

Rencana pembangunan jangka menengah saat ini merupakan tahap terakhir dari rencana 20 tahun. Tujuannya, lebih memperkuat perekonomian Indonesia dengan meningkatkan sumber daya manusia dan daya saing negara di pasar global.

Dengan ekonominya yang terkena dampak pandemi, Indonesia beralih dari status pendapatan menengah ke atas.  menjadi pendapatan menengah ke bawah pada Juli 2021.

Kemajuan Ekonomi Indonesia pasca Pandemi

Pandemi juga membalikkan sebagian kemajuan terbaru dalam pengurangan kemiskinan, dari rekor terendah 9,2 persen pada September 2019,  menjadi 9,7 persen per September 2021.

Seiring dengan pemulihan ekonomi Indonesia, pertumbuhan PDB Indonesia diproyeksikan sebesar 5,1 persen pada 2022, yang didukung oleh pertumbuhan ekspor komoditas dan kebijakan fiskal yang akomodatif untuk menghadapi pandemi.

Namun demikian, kondisi global yang lebih menantang dan efek jaringan parut COVID-19 dapat menggagalkan pemulihan.

Indonesia mencapai keberhasilan penting dalam mengurangi tingkat stunting dari 37 persen pada 2013,  menjadi di bawah 24,4 persen pada 2021.

World Bank mendukung tanggap darurat COVID-19 Indonesia, termasuk memperkuat elemen tanggap darurat pandemi.

Selain itu,  World Bank mendukung program vaksinasi gratis pemerintah, peningkatan sistem bantuan sosial dan perawatan kesehatan, serta tindakan untuk memperkuat ketahanan sektor keuangan.

Bahaya Perubahan Iklim di Indonesia

Di Indonesia, perubahan iklim kemungkinan akan berdampak pada ketersediaan air, kesehatan dan gizi, manajemen risiko bencana, dan pembangunan perkotaan – khususnya di wilayah pesisir, yang berimplikasi pada kemiskinan dan ketidaksetaraan.  

Indonesia merupakan hutan hujan tropis terbesar ketiga di dunia (94,1 juta hektar), dan merupakan rumah bagi lahan gambut tropis terbesar di dunia (14,9 juta hektar) dan hutan bakau (3,31 juta hektar).  

Sumber daya alam ini menyimpan sejumlah besar karbon yang mengurangi dampak perubahan iklim, penting untuk menopang mata pencaharian masyarakat Indonesia dan mendukung pembangunan jangka panjang negara.  

World Bank mendukung pula langkah-langkah mitigasi dan adaptasi iklim di Indonesia,  untuk memberikan aksi iklim yang berdampak di sektor penggunaan lahan, lautan, dan energi, dan dengan memobilisasi pendanaan iklim.  

Kegiatan World Bank ini sudah ttermasuk dukungan untuk Program Mangrove Nasional Pemerintah Indonesia, dan desain serta implementasi instrumen penetapan harga karbon. 

Hal ini  karena karbon memainkan peran penting dalam meningkatkan pembiayaan untuk aksi iklim.*** 

 

Sumber: Rilis World  Bank

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda