Bisnis post authorPatrick Sorongan 02 November 2022

CPO Capai Harga Tertinggi 770,88 USD Per Ton: Penyelundupan Diprediksi 'Menggila'!

Photo of CPO Capai Harga Tertinggi 770,88 USD Per Ton:  Penyelundupan  Diprediksi 'Menggila'! (The Edge filepix by Suhaimi Yusuf)

PEMERINTAH Indonesia harus kian ketat mewaspadai meningkatnya penyelundupan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) ke China sebagai pasar utama dunia, dari sentra-sentra sawit di Indonesia.

Kewaspadaan ini penting menyusul terus naiknya harga CPO di pasar dunia dalam dua bulan terakhir, yang membuat kalangan eksportir ilegal menjadi 'gila'.

Apalagi pada Selasa, 1 November 2022, harga CPO mencapai level paling tinggi, sebagaimana dilansir Suara Pemred dari The Edge Markets, Selasa.

Indonesia tercatat sebagai negara pengekspor CPO nomor satu di dunia dengan pasar utama ke China.

Adapun 10 provinsi penghasil sawit di Indonesia: Riau: 9.513.208 ton; Kalimantan Tengah: 7.664.841 ton; Sumatera Utara: 5.647.313 ton;  Kalimantan Barat: 5.235.299 ton.

Disusul  Sumatera Selatan: 4.049.156 ton; Kalimantan Timur: 3.988.883 ton;  Jambi: 2.884.406 ton;  Kalimantan Selatan: 1.665.397 ton;  Aceh: 1.133.347 ton; dan  Sumatera Barat: 1.253.394 ton.

Kalbar sendiri tergolong rawan ekspor ilegal CPO ke China, sehingga provinsi ini minus mendapat keuntungan dari CPO sendiri.  

Terbukti, Kejari Pontianak bersama tim Bea Cukai Kalbar mengamankan 14 kontainer berisi CPO ilegal di Pelabuhan Dwikora Pontianak,  tepatnya di Pelabuhan Khusus PT Mas, Kamis, 27 Oktober 2022.

Pihak Kejari Pontianak dalam keterangannya kepada wartawan di Kantor Kejati Kalbar, Jumat, 28 Oktober 2022 , menyatakan,  penangkapan 14 kontainer ini berdasarkan laporan tim intelejen.

Tim intelijen ini  mendapatkan informasi bahwa ada pengiriman CPO ilegal ke China dengan modus memalsukan dokumen ekspor. 

Modus operandi dari pengiriman CPO ini menggunakan dokumen ekspor minyak kotor (Miko), kemudian dalam tangki kontainer  digunakan tangki khusus.

Jika diperiksa secara kasat mata biasa tanpa pengecekan rinci,  maka cairan di dalam tangki merupakan minyak kotor sesuai dengan dokumen.

Pihak kejaksaan menduga bahwa penyelundupan CPO menggunakan modus pemalsuan dokumen tersebut sudah sering dilakukan.

Capai  770,88 dolar AS per Ton

The Edge Markets melaporkan, CPO  mencapai level tertinggi pada Selasa, karena Indonesia sebagai eksportir CPO utama dunia,  memperpanjang pembebasan pungutan ekspor untuk varietas mentah.

Tetapi sebaliknya, Pemerintah Indonesia menaikkan harga referensi, dan akan melanjutkan konsesi hingga akhir 2022 ini.

Konsesi tersebut akan dilanjutkan, denga tahun, asalkan harga acuan yang digunakan untuk menentukan pajak,  tetap di bawah 800 dolar AS per ton.

Pemerintah Indonesia telah menaikkan harga minyak mentah sekitar delapan persen sehingga menjadi 770,88 dolar AS per ton untuk semester pertama pada November 2022.

“Minyak sawit mentah Malaysia sekarang akan lebih menarik,” kata Paramalingam Supramaniam, Direktur broker Pelindung Bestari Bhd yang berbasis di Selangor.

“Namun, permintaan untuk produk minyak sawit olahan akan turun karena pilihan yang lebih murah dari Indonesia," lanjutnya.

Ikuti Reli di Pasar China

Pasar minyak sawit juga mengikuti reli di pasar China, termasuk minyak nabati berjangka.  

Hal ini karena adanya spekulasi meningkat bahwa pembuat kebijakan sedang membuat persiapan untuk secara bertahap keluar dari kebijakan ketat Covid Zero yang telah menjadi momok terbesar bagi investor.  

Minyak sawit olahan untuk Januari 2022 di Dalian Commodity Exchange,  melonjak 4,5 persen, sementara minyak kedelai naik 2,8 persen.

Minyak goreng dari sawit yang paling banyak dikonsumsi di dunia, juga dapat mengambil manfaat dari meningkatnya ketegangan antara Rusia dan Ukraina di wilayah Laut Hitam. Ini karena gangguan pasokan minyak bunga matahari dapat menyalurkan permintaan ke minyak tropis.  

Benchmark minyak sawit berjangka melonjak lebih dari lima persen menjadi RM 4.262 per ton di Kuala Lumpur, menempatkannya di jalur untuk penutupan tertinggi sejak akhir Agustus 2022.

Permintaan, bagaimanapun, mungkin menurun pada bulan-bulan terakhir tahun ini akibat musim dingin di belahan bumi utara, menurut Paramalingam.  

Minyak sawit cenderung memadat pada suhu yang lebih dingin.*** 

 

Sumber: Liputan, The Edge Markets,

 

 

 

 

 

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda