Bisnis post authorBob 03 Agustus 2020 67

Dihantui Resesi, Konsumsi Rumah Tangga Bisa Selamatkan Indonesia

Photo of Dihantui Resesi, Konsumsi Rumah Tangga Bisa Selamatkan Indonesia

Ekonom Universitas Indonesia, Fithra Faisal Hastiadi

“Kalau begitu berarti resesi di pihak yang lain, belum tentu kita juga resesi. Karena kontributor ekonomi terbesar kita bukan di situ (perdagangan internasional).”

 

JAKARTA, SP - Sejumlah negara mengalami resesi sebagai dampak dari pandemi covid-19. Mulai dari Amerika, Jerman, Korea Selatan, Jepang, Singapura, hingga Australia. Ancaman resesi itu tentunya juga menghantui Indonesia.

Namun Ekonom Universitas Indonesia (UI), Fithra Faisal Hastiadi, memprediksi ekonomi Indonesia lebih baik dibandingkan negara-negara yang mengalami resesi. Karena, negara yang mengalami resesi pertumbuhan ekonomi ditopang sebagian besar oleh perdagangan internasional.

Berbeda dengan Indonesia yang keterkaitan dengan perdagangan internasional tidak sebesar negara lain. Hal ini malah menjadi keuntungan di tengah pandemi.

"Di saat-saat seperti ini justru menjadi blessing in disguise. Keterkaitan kita dengan global value chain (perdagangan internasional) tadi tidak sebesar yang lain, bahkan cukup tertinggal," ujar Fithra dalam diskusi daring, kemarin.

Dalam kondisi normal, kata Fithra, pertumbuhan ekonomi Indonesia mencemaskan karena sulit bersaing dengan negara dalam satu regional. seperti Vietnam, Singapura, Thailand, dan Filipina.

Karena pandemi, Indonesia justru bersyukur karena diuntungkan produk domestik bruto (PDB) yang sebagian besar ditopang konsumsi rumah tangga yang berkontribusi 58,14 persen pada PDB kuartal I 2020.

"Kalau begitu berarti resesi di pihak yang lain, belum tentu kita juga resesi. Karena kontributor ekonomi terbesar kita bukan di situ (perdagangan internasional)," jelas Fithra.

Menurutnya, agar Indonesia tidak jatuh ke jurang resesi dengan cara mendorong konsumsi domestik.

"Sehingga yang harus benar-benar kita perhatikan adalah di sektor konsumsi. Faktor-faktor domestik yang jauh lebih berperan," tuturnya.

Menurut Fithra, kondisi pandemi ini berbeda dengan krisis ekonomi pada tahun 1998. Dia mengatakan, pada saat itu pondasi keuangan tidak kuat.

"Pondasi konglomerat yang memiliki perbankan pada akhirnya tidak prudent mengolah perbankannya, ada currency mismatch, yang membuat Indonesia pada akhirnya lebih parah dari negara-negara sejawat," ucapnya.

"Jadi berbeda pangkal masalahnya. Kalau sekarang itu menghantam dari sisi supply dari sisi value chain dari sisi production network, yang mana kita tidak berada di lokus dari global production network tersebut," tutupnya.

Harus Hindari Ego Sektoral

Ekonomi Indonesia diperkirakan minus pada Kuartal II 2020. Pada kuartal selanjutnya, ekonomi Indonesia juga diprediksi kembali negatif sehingga secara teknis negara ini masuk dalam resesi

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira Adhinegara, memperkirakan ekonomi Indonesia minus 3,88 persen pada kuartal II dan berlanjut minus 1,75 persen di kuartal III. Dengan begitu, Indonesia akan masuk ke jurang resesi. 

Menurutnya, dengan kondisi penanganan covid-19 di Indonesia yang belum optimal, akan sulit untuk menghindari resesi.

“Sulit menghindari resesi karena penanganan krisis kesehatan belum optimal. Sementara itu stimulus pemerintah terhambat birokrasi dan ego sektoral membuat serapan di bawah ekspektasi. Idealnya saat bulan Juli setidaknya realisasi stimulus kesehatan dan UMKM sudah 50-70 persen. Ini baru 7 persen dan 25 persen,” kata Bhima, akhir Juli lalu.

Hal ini mengakibatkan daya dorong ke konsumsi rumah tangga melemah. Bhima juga menyebutkan bahwa belanja pemerintah adalah satu satunya harapan motor ekonomi ketika investasi dan ekspor terpuruk.

“Yang perlu dipersiapkan agar resesi tidak berlanjut di kuartal I 2021 adalah percepatan pencairan stimulus termasuk evaluasi ulang seluruh stimulus perpajakan yang tidak efektif,” ujarnya.

Selain itu, pemerintah diminta untuk melakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) secara lebih disiplin agar kurva kasus positif cepat landai. (lip/lha)

 

 

 

loading...

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda