Gaya Hidup post authorPatrick Waraney 08 Januari 2021 2,176

Covid-19 Mengancam, Dewa Sinto Perintahkan Roh Yokai Bertarung

Photo of Covid-19 Mengancam,  Dewa Sinto Perintahkan Roh Yokai Bertarung   Yokai atau Amarbie, roh utusan Dewan Sinto diyakini telah bangun dari tidur panjangnya untuk melenyapkan pandemi Covid-19 di Jepang.(Gambar:static.wikia.nocookie

MODERNISASI yang melanda Jepang ternyata masih mempertahankan budaya tradisionalnya. Termasuk legenda tentang Kitsune Fox Yokai atau Amabie, roh supernatural mirip duyung atau ular berkepala wanita yang diyakini telah bangun dari tidur panjangnya selama ratusan tahun.

Yokai diyakini diutus oleh Dewa Sinto Inari ke dunia untuk melenyapkan Covid-19, penyakit yang diyakini disebarkan iblis. Roh Yokai, yang diperkirakan muncul pertama kali di  Zaman Edo (1603-1868), dipercaya sebagai sosok yang ramah dengan manusia.

Tapi kala murka, maka jangan tanyalah Bro. Wujudnya yang 'seram-seram waw',  bisa berubah menjadi monster raksasa yang sangat mengerikan. Siapa saja yang melihatnya, pasti akan keselek lantas panik cari air minum saat kebetulan sedang makan, dan lebih 'waw' alias bahaya bagi yang misalnya sedang mengunyah ikan nila yang masih banyak tulangnya.

Tak heran jika warga asli Jepang membuat berbagai meme tentang Yokai dalam berbagai bentuk yang lucu supaya enak dilihat. Maklum bagi yang penakut, sulit rasanya melihat wajah roh yang bertaring, bermata merah membelalak, dan... wajah setengah tengkorak! Bentuk Yokai yang baik karena mahluk titipan dewa ini diyakini baik hati, dan bisa berubah menjadi kucing manja saat hatinya lagi senang, alias tidak galau. Sebaliknya, saat hatinya mendadak gulau, saat dielus-elus, bisa dibayangkan ketika mukanya berubah menjadi Nyai Blorong!

Orang Jepang maupun kalangan perantauan atau keturunannya yang sudah menyebar dan menyebar di seluruh kolong langit, percaya bahwa Yokai dapat membantu menangkal wabah termasuk Covid-19. Itu sebabnya, ketika beberapa bagian negara mengumumkan keadaan darurat akibat pandemi, orang Jepang tak terlalu bereaksi. Mereka cenderung menyikapinya  dengan cara yang unik: berbagi gambar secara daring tentang makhluk mistis ini.

Masyarakat asli Jepang selama ini hampir melupakan tentang Yokai. Hingga ketika korona nongol, barulah media massa mengingatkan mengenai legenda tentang Yokai, yang sosoknya pertama kali didokumentasikan pada 1846. Menurut cerita, seorang pejabat pemerintah ketika itu berusaha menyelidiki cahaya hijau misterius di dalam air di bekas Provinsi Higo (sekarang Prefektur Kumamoto).  

Ketika si pejabat tiba di titik cahaya, mendadak muncul dari dalam air, sesosok makhluk hijau bercahaya dengan sisik ikan. Rambutnya panjang dengan tiga kaki mirip sirip dan paruh. Yokai tentunya tidak memberitahukan lebih dulu kedatangannya lewat Whatsupp ,melainkan 'cukup' memperkenalkan diri kepada pria itu. 

Yokai alias Amabai kemudian  meramal dua hal. Pertama, panen yang melimpah akan memberkati Jepang selama enam tahun ke depan. Kedua, suatu pandemi akan melanda negara itu. Namun, Yokai menginstruksikan bahwa untuk mencegah penyakit yang tak disebutkan namanya itu, orang Jepang harus menggambarnya dan membagikannya sebanyak mungkin kepada sesama manusia. 

Pertemuan yang aneh ini segera diterbitkan di surat kabar lokal, disertai dengan cetakan balok kayu berbentuk Amabie sehingga citranya menyebar ke seluruh Jepang. Dan, selama hampir tiga ratus tahun alias nyaris tiga abad, Amabie tertidur.

Tetapi ketika virus korona telah melanda Jepang, citranya   muncul kembali di   media sosial, membawa harapan bahwa mereka yang menyebarkannya akan membantu mengakhiri pandemi. “Amabie dapat dilihat sebagai meme Zaman Edo  yang memberi tahu publik untuk menggambar kemudian membuat gambar itu menjadi viral untuk mencegah wabah," kata Victoria Rahbar, mahasiswi pascasarjana di Pusat Kajian Asia Timur Universitas Stanford sebagaimana yang dilansir BBC, 23 April 2020.  

Menurut Google Trends, mitos Yokai atau Amabie muncul kembali pada awal Maret 2020, dan opularitasnya telah menyebar ke lima benua dengan tagar #AMABIEchallenge pun muncul dalam bahasa Inggris. Selain puluhan ribu lukisan, gambar, dan penggambaran Amabie yang dipersonalisasi di Twitter dan Instagram, orang-orang di Jepang mulai menjual masker wajah dan pembersih tangan dengan gambar Amabie di atasnya.  

Seorang ilustrator yang memoles kemiripan Amabie di sisi sebuah truk jarak jauh, men-tweet gambarnya sambil menulis: "Saya bepergian ke seluruh negeri dengan [barang] saya dan Amabie, untuk berdoa agar penyakitnya pergi."

Fans Amabie lainnya membuat sushi Amabie yang dapat dimakan dan biskuit berbentuk Amabie yang bisa dimakan. Yokai telah menemukan dirinya dibordir di atas kain, diledakkan sebagai binatang balon, dan tersedia sebagai pesona di gachapon (mesin kapsul) di mana-mana di Jepang. Orang-orang bahkan mendandani hewan peliharaan mereka, sebagai roh yang lahir di laut.

Meskipun Yokai juga bisa menjadi monster atau iblis, saat ini roh-roh cerita rakyat tersebut sangat disukai di seluruh Jepang karena Amabie diyakini memiliki kekuatan kebajikan.  Amabie dianggap lebih cocok karena pernah berpesan beberapa abad silam.  Mirip dengan rasa nyamanan yang dibawa oleh maskot terkenal Kumamon paska gempa bumi Kumamoto di Jepang pada 2016, maka begitu pula dengan Amabie.

Mengenai alasan kenapa orang Jepang meyakini cerita tentang Yokai, ini kemungkinan terkait dengan hubungan antara Yokai dalam masyarakat Jepang dan agama Shinto politeistik asli negara itu.  Faktanya, tidak jarang Yokai mengambil peran religius. Sosok Yokai secara tradisional diyakini sebagai pembawa pesan dari Dewa Shinto Inari sehingga patungnya menghiasi kuil Shinto di seluruh Jepang. “Yokai adalah pembawa memori sejarah rakyat Jepang,” kata Rahbar. 

Kementerian Kesehatan, Perburuhan, dan Kesejahteraan Jepang baru-baru ini ikut terlibat dengan eforia tentang Amabie. Dalam sebuah tweet pada 9 April 2020, badan pemerintah ini membagikan gambar Yokai yang mengulangi sentimen asli Amabie dan mendorong orang untuk 'mencegah penyebaran virus.' Amabie mungkin hanya tokoh fiksi, tetapi menyebarkan citranya membantu menghadirkan cahaya dan kebersamaan di saat orang mencari koneksi dan harapan.(001)  

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda