Info Anda post authorKiwi 18 September 2021

Waspadai Vape Ganja Delta-8-THC! 

Photo of Waspadai Vape Ganja Delta-8-THC! 

PARA orang tua  harus semakin waspada. Alih-alih rokok elektrik (vape) dianggap tak membahayakan kesehatan, maka anak remajanya pun dibiarkan menyedot vape. Alasannya, aman, dan anak-anaknya 'gaul'. Padahal, selain terbukti berbahaya, tak sedikit cairan vape ternyata mengandung Delta-8 tetrahydrocannabinol (Delta-8-THC/8-THC). Di pasar Amerika Serikat (AS), gulma ini juga terkandung dalam permen dan kue tertentu. Delta-8-THC  merupakan jenis  cannabinoid psikoaktif, yang ditemukan di tanaman ganja (cannabis).

Delta-8-THC kebanyakan dijual dalam bentuk minyak cair (liquid oil) untuk pengasapan vape. Merek yang paling terkenal adalah Everest, BudPop, Moonwalker, Delta Effex, dan Area 52.  Minyak vape dari jenis ganja ini sebenarnya telah merambah pasar dunia termasuk di Indonesia sejak 2018. Setelah awalnya kurang populer,  Delta-8-THC  akhirnya benar-benar meledak di pasaran (booming) sejak awal 2021.

Hal ini  karena target pasarnya sangat jelas: Vape telah menjadi tren di kalangan remaja. "Nggak vaping gak gaul," demikian kata anak-anak muda milenial. Pemerintah AS sendiri menjelang akhir 2019 terus menyelidiki merek, kandungan, dan jenis produk vape, yang mungkin terlibat dalam kasus ratusan remaja kolaps karena pneumonia. Ini terjadi usai mereka menggunakan vape. Banyak pasien melaporkan menggunakan produk vape yang mengandung THC sebelum jatuh sakit. 

THC merupakan senyawa aktif yang biasanya terdapat pada tanaman cannabis atau lebih dikenal ganja. Vape seringkali diklaim lebih aman dibandingkan rokok konvensional.  Namun,  ini bukan berarti vape aman untuk digunakan. Penggunaannya pun punya masalahnya sendiri.

Dikutip dari New York Times, vape biasanya mengandung nikotin atau THC, yang dicampur dengan pelarut. Pelarut atau minyak ini akan dipanaskan, dan diubah menjadi uap untuk dihirup.  Dalam proses ini, biasanya terdapat beberapa tetesan minyak yang mungkin tertinggal ketika dingin kembali. Jika minyak ini terhirup, maka dapat menyebabkan masalah pernapasan dan radang paru-paru. 

"Menghirup minyak tersebut berbahaya untuk paru-paru, dan bisa mengakibatkan kematian," kata Thomas Eissenberg yang mempelajari vaping di Virginia Commonwealth University, AS. Merokok ganja, baik untuk rekreasional maupun tujuan pengobatan,  dapat menimbulkan risiko kesehatan pada sistem pernapasan yang mirip dengan merokok tembakau. Vaping ganja pun juga menimbulkan risiko serius bagi kesehatan. 

Vape Ganja Serbu Indonesia

Aparat Indonesia sendiri sempat lengah karena ganja jenis ini menyaru begitu 'modis': Cairan vape. Padahal, Pemerintah Indonesia sangat tegas melarang gulma ini. Tetrahydrocannabinol adalah kategori Ganja Golongan C, berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 44 Tahun 2019 tentang Perubahan Penggolongan Narcotika, yang mengacu dari Undang-Undang (UU) Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.   

Sanksinya  berat.  Pelaku dijerat ancaman pidana maksimal hukuman mati, minimal penjara seumur hidup: Paling singkat lima tahun, dan paling lama 20 tahun. Ditengarai vape jenis ini banyak beredar pula di Pontianak, Ibukota Provinsi Kalimantan Barat yang sebagian besar dibeli secara online dari Jakarta. Delta-8-THC adalah cannabinoid psikoaktif,  yang juga merupakan isomer dari Delta-9-THC.

Delta 8-THC memiliki sifat antiemetik, ansiolitik, orexigenic, analgesik, dan neuroprotektif. Melakukan vaping dengan minyak THC, meskipun tidak mengakibatkan ketagihan seperti tembakau, tapi penggunaannya diketahui menyebabkan ketergantungan pada zat tersebut.  

Bahkan, THC memicu masalah otak. Sebab, THC diserap ke dalam aliran darah,  dan dibawa ke otak, sehingga berdampak negatif pada daya ingat, dan kemampuan berpikir.  Bahan kimia Delta-8-THC melepaskan bahan kimia berbahaya.  

Jumlah residu amonia beracun yang divaping dalam alat penguap, dapat berdampak negatif untuk kesehatan.  

Amonia dapat menyebabkan iritasi paru-paru, efek negatif pada sistem saraf pusat, dan serangan asma. Vaping ganja dapat pula memperburuk kondisi asma, selain menyebabkan kejang pada tabung bronkial. Selain itu,  zat penyebab kanker, seperti tar, dapat dilepaskan ketika vaping ganja, meskipun tidak sebanyak ketika vaping nikotin.

Jika menderita gangguan jantung atau peredaran darah, maka tekanan darah rendah, diabetes atau skizofrenia akibat ganja yang dicerna dalam bentuk apa pun,  dapat memperburuk kondisi pemakai.  

Bukti menunjukkan bahwa vape (tanpa Delta-8-THC) pun, apalagi merokok ganja, baik lewat vape dan rokok non-vape, berpotensi meningkatkan detak jantung menjadi dua kali lipat dari laju normal sehingga meningkatkan risiko serangan jantung. 

Permen dan Kue Tertentu

Dilansir Suara Pemred dari Popular Science, 30 Juni 2021, Delta-8-THC adalah 'sepupu' dari ganja, yang penjualannya dalam bentuk cairan vape atau dimakan begitu saja, selain juga permen dan kue,  meledak di pasaran dunia pada 2021 ini.  

Karena banyak negara melaranganya, gulma ini dipromosikan lewat internet, dan dipasarkan sebagai 'cahaya gulma' atau 'versi unggul THC.  Delta-8-THC sangat mirip dengan Delta-9 THC. Keduanya adalah bahan aktif utama ganja, baik dari segi struktur kimia -tiga cincin karbon, ekor panjang, beberapa gantungan—dan efek psikologis. Karena itu, dalam brosur-brosur penjualan, sensasinya diklaim seperti versi ringan dari ganja kuno.

Pada 2018, dengan dukungan senator Mitch McConnell,  Kongres AS melampirkan ketentuan pada RUU Pertanian tahunan,  yang membuka pertanian rami, yang sebelumnya dibatasi berdasarkan kesamaannya dengan ganja 'panas'. Yang terpenting, menurut Brookings Institute, rami secara eksplisit memungkinkan transfer produk turunan rami melintasi batas negara bagian'.

Sekarang, di bawah UU 2018 di AS, rami tidak boleh mengandung THC apa pun, Tetapi dapat mengandung cannabidiol (CBD), yang meskipun agak psikoaktif, tidak memabukkan. Pengesahan RUU 2018 menyebabkan ledakan popularitas CBD selama beberapa tahun terakhir, karena petani rami belajar mengekstrak,  dan memasarkan CBD sebagai obat untuk semua.

Tapi, hal  itu hanya merupakan langkah pertama dalam rantai kemungkinan reaksi kimia. CBD sebagai prekursor, laboratorium dapat membuat Delta-8-THC, yang sekarang secara teknis merupakan  produk 'turunan rami'.   

Karena peraturan Pemerintah AS melegalkan Delta-9-THC yang bahan kimianya cukup berbeda, namun Delta-8-THC  'tetap hidup' untuk saat ini karena berada di wilayah abu-abu legal.  Delta-8-THC Itu juga murah, karena sebagian tidak dikenai pajak.

Varun Vohra, seorang ahli toksikologi dan direktur Michigan Poison Center di Wayne State University, AS, mengaku mulai mendengar kasus-kasus yang melibatkan anak-anak. Mereka diketahuinya mengkonsumsi  

permen karet atau makanan lain yang mengandung Delta-8-THC, dan berakhir di rumah sakit. Gejalanya tidak berbeda dari yang biasa dimakan. "Detak jantung mereka menjadi sangat cepat, kemudian mereka menjadi lebih lesu. Gerakannya tidak terkoordinasi, dan akhirnya mereka akan semakin terbius, dan mengalami kesulitan bernapas," katanya.  

Pada medio 2019, vape mengandung ganja ini menghebohkan di AS karena mematikan puluhan remaja. Dalam postingan yang terunggah di akun Instagram @vapeindo, terdapat penggalan teks berita yang disertai video wawancara langsung dengan salah satu korban, Adam Hergenreder. Dalam cuplikan video CBS News itu, Adam mengakui bahwa sakit yang dideritanya karena narkoba berjenis ganja yang terdapat dalam likuid berjenis THC yang digunakannya saat vaping.   

Dijual juga sebagai Inhaler

Metode konsumsi ganja terus berkembang. Dilansir dari 7Deadlymag, tidak hanya jumlah konsumen ganja yang naik, tetapi inovator kreatif di seluruh dunia sedang mengembangkan ide-ide baru. Dari alat penguap hingga berbentuk lilin, sekarang banyak cara dilakukan untuk menjadikannya  bernilai lebih tinggi.

Dunia sekarang memiliki inhaler kanabis pertama yang bernama Vapen Clear. Bentuknya terlihat persis seperti inhaler tipikal di pasaran. Kerjanya juga sama, tetapi tanpa albuterol, dan mengandung Delta-9-THC.   

Tidak seperti alat vaporizer standar, Vapen Clear tidak memanaskan THC. Sebaliknya, menggunakan propelan untuk mengeluarkan obat secara langsung dari dalam paru-paru.

Vapen Clear tidak hanya yang pertama dari jenisnya, tetapi juga hadir dalam tiga desain berbeda, berdasarkan jenis favoritnya. Sebagai contoh, inhaler merek Midday dengan THC dari strain sativa, karena sativa menghasilkan energi.

Dengan cara yang sama, ada inhaler Nighttime, yang dilengkapi dengan strain indica untuk memberikan efek yang lebih lembut dan dingin. Lalu ada inhaler Afternoon, yang memberikan gebrakan mantap dari hibrida keduanya.

Mystabis Inhaler

Mystabis adalah inhaler dosis meteran bertekanan nyata diisi dengan ekstrak alami ganja. Semua komponen (kaleng, katup, atau propelar) memiliki tingkat farmasi yang berasal dari sumber sama, yang menghasilkan inhaler farmasi. Saat ini, ada beberapa galur berbeda yang tersedia dari konsentrat alami.

Mystabis diciptakan oleh sebuah tim yang diklaim berspesialisasi dalam pemberian obat pernapasan dengan pengalaman langsung dalam peracikan dan merancang beberapa obat pernapasan, seperti insulin inhalasi, terapi surfaktan paru-paru untuk bayi prematur, antibiotik, antijamur, virus hidup, peptida untuk onkologi dan tipikal obat asma dan PPOK.

Ganja menghadirkan tantangan unik dengan lebih dari 85 senyawa aktif yang ditemukan di ganja dengan efek kombinasi (strain yang berbeda memiliki efek obat yang berbeda karena rangkaian senyawa yang berbeda). Dengan Mystabis menjadi platform pengiriman yang konsisten dan bersih, menjadikannya sebagai media kanabis medis inhalasi terbaik.

Mystabis diklaim berbeda dari Aerosol yang disemprotkan dari produk lebih kasar daripada asap atau vape sehingga mendapatkan lebih banyak cannabinoid per embusan. Sangat sedikit ganja (lima persen dihembuskan) memungkinkan mengobati,  tanpa memaparkan orang lain pada aerosol bekas yang signifikan.

Namun, pasien akan merasakan obat di paru-paru pusat dan tenggorokan.  Jika ini tidak nyaman, bisa mencoba menggunakan spacer atau 'ruang penampung dosis', tersedia model dengan masker, menghirup aerosol melalui hidung sangat memuaskan. Beberapa toko online di AS menjualnya.

Quest Aeroinhaler

Sementara Quest AeroInhaler diklaim sama sekali tidak memiliki profil bau ganja. Inhaler portabel genggam ini memberikan cara yang diklaim sangat nyaman untuk menikmati cita rasa kanabis resin hidup, semuanya dengan kekuatan dan kemampuluhan distilat di mana pun membutuhkannya.

Dengan 100 hembusan per tabung, AeroInhaler diklaim sebagai produk tahan lama yang bisa dinikmati berulang kali. Setiap kepulan mengeluarkan 6.3mg (5mg THC) sulingan langsung ke paru-paru tanpa panas, tanpa pembakaran, dan yang terbaik dari semuanya tidak membakar tenggorokan yang mengiritasi.

Reaksi Asosiasi Pengusaha Vape

Pada medio 2019, puluhan anak muda di AS tewas karena melakukan vaping mengandung cairan ganja. Ketua Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia (APVI) Aryo Andrianto ketika itu,  membenarkan kasus tersebut karena para korban dinilainya , mengonsumsi minyak THC berkadar tinggi.  Produk-produk mengandung THC yang memakan korban itu dinyatakannya kebanyakan dijual secara llegal di AS.

“Zat ini disalahgunakan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Ada juga ditemukan kandunganya terdiri dari muatan minyak Vitamin E dosis tinggi dengan menggunakan media yang sama dengan alat vape yang biasa digunakan. Artinya ini kasuistis,” kata Aryo. 

“Kami sangat mengimbau kepada semua pihak agar waspada dengan bahaya narkoba lewat media vape, bukan vape itu sendiri. Kami selaku asosiasi telah bersedia membantu semua pihak dan bekerja sama dengan pihak terutama pemerintah dalam memberantas penggunaan narkoba baik lewat media vape maupun media apapun,” tambah Aryo.  

Secara terpisah, dilansir dari Sindo News, Ketua Bidang Organisasi APVI Garindra Kartasasmita meminta masyarakat lebih teliti dan hati-hati sebelum membeli likuid vape. Agar lebih aman, pastikan membeli produk legal yang sudah dilekati pita cukai.

 “Di Indonesia, THC adalah ilegal, secara menyeluruh. Negara kita tidak pernah melegalkan ganja atau mariyuana dalam bentuk apapun, oleh sebab itu kasus di sini tidak akan mengalami hal yang sama seperti di Amerika. Sementara likuid vape legal yang beredar telah diakui pemerintah dan diawasi dengan cukai,” ujarnya. 

Untuk memastikan produk-produk yang beredar di Indonesia aman untuk dikonsumsi, APVI sebagai organisasi melarang keras usaha retail termasuk reseller yang ada dalam komunitas menjual vape kepada anak SMA, apalagi yang di bawahnya.

Bagi semua reseller diharuskan hanya menjual produk vape kepada calon konsumen berusia 18 tahun ke atas. APVI mengklaim bahwa pengguna rokok elektrik di Indonesia diperkirakan telah mencapai hingga 1,5 juta pengguna. Data dari APVI juga mencatat, organisasinya telah menaungi 300 produsen likuid, lebih dari 100 produsen alat dan aksesoris, lebih dari 150 distributor dan importir, serta 5.000 pengecer di Indonesia.

FDA: Delta-8 Diproduksi Alami Tanaman Ganja

Sementara itu,  US Food and Drug Adminsitration (FDA) lewat rilisnya pada Selasa, 14 September 2021, menyebutkan bahwa Delta-8-THC adalah salah satu dari lebih dari 100 cannabinoid. Delta-8-THC diproduksi secara alami oleh tanaman ganja, tetapi tidak ditemukan dalam jumlah yang signifikan di tanaman ganja. Akibatnya, sejumlah Delta-8-THC terkonsentrasi, biasanya dibuat dari cannabidiol (CBD) yang diturunkan dari rami.   

Menurut  FDA, produk Delta-8 THC belum dievaluasi atau disetujui oleh pihaknya untuk penggunaan yang aman dalam konteks apa pun.  Produk ini telah dipasarkan dengan cara yang membahayakan kesehatan masyarakat, terutama harus dijauhkan dari jangkauan anak-anak dan hewan peliharaan. 

FDA telah menerima laporan efek samping yang melibatkan produk yang mengandung Delta-8-THC. Pada Desember 2020- Juli 2021, FDA menerima laporan dari penegak hukum dan konsumen terkait efek samping mengenai 22 pasien yang mengonsumsi produk Delta-8-THC.

Dari total jumlah tersebut, 14 di antaranya dibawa ke rumah sakit atau ruang gawat darurat. Sebanyak 19 orang lainnya mengalami efek samping setelah menelan produk makanan yang mengandung Delta-8-THC, misalnya brownies atau permen karet.

Efek sampingnya sudah  termasuk muntah, halusinasi, kesulitan berdiri, dan kehilangan kesadaran. Itu sebabnya Pusat Pengendalian Racun Nasional di AS menerima 661 kasus paparan produk Delta-8-THC pada Januari 2018, dan 31 Juli 2021. Disebutkan, 660 di antaranya terjadi antara 1 Januari 2021, dan 31 Juli 2021.

 Dari 661 kasus paparan: 41 persen  melibatkan paparan Delta-8-THC yang tidak disengaja, dan 77 persen dari paparan yang tidak disengaja, dan  mempengaruhi pasien anak-anak yang berusia kurang dari 18 tahun'  Sebanyak 39 persen kasus ini melibatkan pasien anak-anak berusia kurang dari 18 tahun. Sebanyak 18 persen dari pasien memerlukan rawat inap, termasuk anak-anak yang memerlukan perawatan di unit perawatan intensif (ICU) setelah terpapar produk ini.  

Menurut FDA, Delta-8-THC memiliki efek psikoaktif dan memabukkan sehingga  FDA khawatir bahwa produk Delta-8-THC kemungkinan mengekspos konsumen ke tingkat zat yang jauh lebih tinggi ketimbang yang terjadi secara alami dalam ekstrak mentah ganja rami.   

FDA mengklaim pula bahwa produk Delta-8-THC sering melibatkan penggunaan bahan kimia yang berpotensi berbahaya untuk menciptakan konsentrasi Delta-8-THC yang diinginkan  pasar. Sebab, jumlah alami delta-8 THC dalam rami sangat rendah, sehingga diperlukan penambahan bahan kimia untuk mengubah cannabinoid lain dalam rami, seperti CBD, menjadi Delta-8-THC (konversi sintetis).  

BNN Soal THC

Dalam laman Badan Narkotika Nasional (BNN), 13 Februari 2020, Kepala Bidang Mutu dan Riset Pusat Laboratorium Narkotika BNN Rieska Dwi Widayati, menyatakan bahwa  tanaman yang banyak tumbuh di Provinsi Aceh Nangroe Darusallam mengandung lebih dari 500 zat kimia. Ini sudah  termasuk 100 komponen yang terkait dengan Delta-9-THC yang disebut dengan cannabinoids.

THC adalah psikotropika yang merupakan senyawa utama dari ganja, yang bertanggungjawab atas sebagian besar efek psikologis ganja. Euforia dan halusinasi yang ditimbulkan dari penggunaan ganja,  dapat merusak cara kerja syaraf pusat manusia sehingga menyebabkan ganguan jiwa.

“Ganja berbahaya, karena efeknya dapat menyebabkan gila, dan yang jelas lagi, dapat merusak organ, salah satunya paru-paru”, ujar Riska.

Penggunaan ganja terkait dengan meningkatnya risiko gangguan mental, termasuk skizofrenia, depresi, cemas dan ketergantungan. Penggunaannya setiap hari meningkatkan risiko sebesar lima kali untuk mengalami psikotik. Bukti yang paling kuat adalah munculnya gangguan mental pada individu yang memiliki kerentanan genetik terhadap gangguan mental.

Lebih lanjut Riska menyayangkan adanya penggiringan opini dari isu legalisasi ganja bahwa ganja sangat bermanfaat untuk kepentingan medis. Menurutnya, hal tersebut adalah sudut pandang yang salah. Ia mengatakan bahwa, ganja yang dipakai di dunia internasional adalah medical cannabis yang merupakan ganja sintetis, bukan ganja yang tumbuh di Indonesia.

Ganja sintetis ini bukanlah synthetic cannabinoid atau zat yang terdapat pada tembakau gorilla yang dikenal di Indonesia dan bukan pula diekstrak dari tanaman ganja. Sedangkan yang digunakan untuk industri adalah salah satu varietas cannabis, yaitu Hemp.

Sementara itu, Kabid Rehabilitasi Medis Balai Besar Rehabilitasi BNN, dr Elvina Katerin Sahusilawane, menyatakan bahwa legalisasi penggunaan ganja di Indonesia akan berdampak buruk bagi remaja.

“Legalisasi dapat memberikan akses yang luas bagi remaja untuk mengonsumsi ganja. Pada remaja, ganja dapat mengganggu perkembangan kognitif, menimbulkan psikotik pada indvidu dengan kerentanan genetik, dan menurunkan IQ secara merata, enam sampai delapan  poin pada masa dewasanya," ujar Elvina.

Dengan memperhatikan dampak buruk yang ditimbulkan dari konsumsi ganja dan berlandaskan hukum UU Narkotika bahwa ganja termasuk ke dalam narkotika golongan 1, dan tidak digunakan dalam pengobatan, maka BNN secara tegas menolak upaya legalisasi ganja. Legalisasi ganja disinyalir hanya untuk kepentingan kelompok tertentu yang berusaha merusak mental bangsa khususnya generasi muda.

Kesamaan antara Delta-8 dan 9-THC

Delta-8-THC adalah adalah isomer Delta-9-THC, suatu senyawa yang umumnya dikenal sebagai THC. Delta 8-THC memiliki sifat antiemetik, ansiolitik, orexigenic, analgesik, dan neuroprotektif. Delta-8-THC kurang kuat dibandingkan Delta 9-THC (menjadi sekitar 50-66 persen sebagai poten in-vivo, menurut sebagian besar studi ilmiah tentang topik tersebut), meskipun efek psikologis dan fisiologisnya tetap serupa secara kualitatif.

 Dengan demikian, daya racun Delta-8-THC mirip dengan Delta9-THC, meskipun pada tingkat yang lebih rendah per miligram bahan yang dikonsumsi.   

Delta-8-THC dapat menyebabkan peningkatan denyut jantung, kemerahan pada mata, pusing, kekeringan pada mulut dan tenggorokan, parestesia, tinitus, peningkatan kesadaran tubuh, kelemahan, dan ketegangan otot atau tremor, penurunan koordinasi motorik. Efek lainnya: kelelahan, kantuk, perubahan visual persepsi, citra visual yang berubah, peningkatan warna atau kontras, distorsi waktu, perubahan persepsi pendengaran, euforia, ketenangan, relaksasi, pikiran balap, keadaan introspektif melamun, atau kesulitan dalam berpikir, berbicara, membaca, atau mengingat.   

Sebuah studi pada 1973 menguji efek Delta-8-THC pada anjing dan monyet melaporkan bahwa dosis oral tunggal 9.000 miligram per kilogram massa tubuh (mg/kg) tidak mematikan pada semua anjing dan monyet yang diteliti.   

Studi yang sama melaporkan bahwa dosis mematikan rata-rata Delta-8-THC pada tikus, sebanding dengan Delta-9-THC.Kedua isomer THC telah ditemukan, menyebabkan peningkatan sementara tekanan darah pada tikus, meskipun efek cannabinoid pada sistem kardiovaskular,  sangat kompleks.  

Penelitian pada hewan menunjukkan bahwa Delta-8-THC memberikan banyak efek sentralnya dengan mengikat reseptor cannabinoid yang ditemukan di berbagai daerah otak, termasuk korteks serebral, thalamus, ganglia basal, hippocampus, dan otak kecil.

Farmakodinamika THC

Profil farmakodinamik Delta-8-THC mirip dengan Delta-9-THC. Ini adalah agonis parsial reseptor cannabinoid CB1 dan CB2 dengan sekitar setengah potensi Delta-9-THC di sebagian besar,  tetapi tidak semua ukuran aktivitas biologis.  

Delta-8-THC telah dilaporkan memiliki nilai Ki 44 ± 12 nM pada reseptor CB1 dan 44 ± 17 nM pada reseptor CB2.Nilai-nilai ini lebih tinggi daripada yang biasanya dilaporkan untuk Delta-9-THC pada reseptor yang sama, telah menunjukkan bahwa Delta-8-THC mengikat reseptor cannabinoid kurang efisien daripada 9-THC.

Dilansir dari  Mondag, 27 Juli 2021, Delta-8-THC dipasarkan di AS sebagai cara legal untuk dirajam. Produknya  beredar di rak-rak pompa bensin dan toko rokok di seluruh AS sekalipun dilarang oleh peraturan federal dan seluruh negara bagian.  

Banyak negara bagian di AS secara eksplisit melarang produk Delta-8-THC. Peningkatan rawat inap terkait Delta-8-THC menjadi  salah satu dari banyak faktor dalam menerapkan larangan tersebut.  Bukan hanya orang dewasa yang dikirim ke ruang gawat darurat karena Delta-8-THC.

Terbukti, seorang anak laki-laki di Omaha dan dua anak dari Wisconsin,  dilaporkan juga dirawat di rumah sakit karena overdosis yang tidak mematikan.  

Pusat kendali racun berusaha memperingatkan publik dengan pernyataan yang dirilis di negara-negara penggunaan orang dewasa dan penggunaan medis. Untuk mengekang risiko tersebut, banyak negara bagian di AS mengandalkan tekad lembaga negara bahwa Delta-8-THC adalah bentuk sintetis dari THC, dan dengan demikian dilarang berdasarkan Undang-Undang Zat Terkendali.  

Faktanya, lebih dari 12 negara bagian telah mengadopsi langkah-langkah khusus untuk melarang penjualan Delta-8-THC, sementara negara bagian lain seperti Illinois, Oregon, dan California mengadopsi kerangka kerja peraturan, yang memungkinkan Delta-8- THC atau THC apa pun hanya jika diuji, diverifikasi, dan dijual melalui pasar yang diatur.  

Baru-baru ini, Negara Bagian Colorado mengumumkan bahwa semua Delta-8-THC yang diturunkan dari rami sekarang dilarang, dan Negara Bagian New York mengikutinya, karena berusaha untuk melarang penggunaan Delta-8 THC yang dibuat melalui isomerisasi CBD. Demikian pula, Departemen Pertanian Carolina Utara mencatat bahwa DEA mengambil posisi: THC yang diturunkan secara sintetis adalah ilegal sebagai zat yang dikendalikan. Karena Delta-8-THC muncul pada konsentrasi yang dapat diabaikan dan tidak terdeteksi dalam rami, maka Delta-8-THC biasanya berasal dari konversi kimia dari CBD menjadi Delta-8-THC.  

Karena itu,  Aturan Akhir Sementara 21 Agustus 2020 DEA, berjudul Implementasi Undang-Undang Peningkatan Pertanian 2018 menyatakan memperlakukan Delta-8-THC dari konversi kimia atau metode sintetis lainnya sebagai ilegal. Negara Bagian Nevada telah melangkah lebih jauh untuk secara khusus memasukkan Delta-8-THC dalam definisi ganja. Dewan Kepatuhan Ganja Nevada baru-baru ini menyatakan, produk yang melebihi 0,3 persen THC, termasuk Delta-8 dan Delta-9 THC, akan dianggap ganja. Dengan demikian, lisensi dari Dewan Kepatuhan Ganja akan diperlukan untuk membuat atau menjualnya. *** 

Penulis & Editor: Patrick Waraney GS 

Sumber: Berbagai sumber  

 

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda