Internasional post authorPatrick Sorongan 01 November 2022

Nestapa Pasukan Komando Afghanistan: Ditinggalkan AS, Diburu Taliban, Jadi Tentara Rusia Bergaji 1.500 USD!

Photo of Nestapa Pasukan Komando Afghanistan: Ditinggalkan AS, Diburu Taliban,  Jadi Tentara Rusia Bergaji 1.500 USD! PASUKAN KHUSUS AFGHANISTAN - Anggota pasukan khusus Angkatan Darat Afghanistan yang baru menghadiri upacara kelulusan mereka setelah program pelatihan tiga bulan di Pusat Pelatihan Militer Kabul (KMTC) di Kabul, Afghanistan, Sabtu, 17 Juli 2021.(Foto AP

MALANGNYA nasib ribuan mantan prajurit pasukan khusus Angkatan Darat Afghanistan. Ditinggalkan begitu saja oleh pasukan AS pada akhir 2021, banyak di antara mereka ditangkap atau dibunuh bersama keluarga, ketika Taliban kembali berkuasa. 

Toh kepedihan mereka, setidakya terobati, karena berhasil melarikan diri ke Iran, direkrut oleh Rusia, kemudian bakal menjadi  'senjata makan tuan' bagi AS. 

Masalahnya, ribuan mantan prajurit komando ini, bertahun-tahun dilatih oleh Angkatan Laut (Navy SEAL) dan Tentara Baret  Hijau (Army Green Baret), dan berperang melawan Taliban sejak 2001. 

Pasukan khusus ini digaji setiap personel oleh Rusia, 1.500 dolar AS per bulan atau setara  Rp 22.789.500,00 (dengan kurs pada Selasa, 1 November 2022 yakni 15,193 IDR per dolar AS). 

Pada akhir 2021, ribuan tentara ini melarikan diri  ke Iran,  setelah Taliban kembali berkuasa, sementara hanya ratusan perwira alias atasan mereka bersama keluarga yang dibawa oleh Pemerintah AS ke negara tersebut. 

Kepada kantor berita nirlaba AS, The Associated Press melaporkan pada Selasa, hal ini dikemukakan oleh tiga mantan jenderal Afghanistan.

Menurut mereka, Rusia ingin menarik ribuan mantan pasukan komando elit Afghanistan ke dalam legiun asing,  dengan tawaran pembayaran tetap 1.500 dolar AS per bulan.

Demi Keluarga, Tiada Pilihan Lain

Selain itu, karena tiada pilihan lain lagi, mereka layak lega. Sebab, Rusia menjanjikan tempat berlindung yang aman bagi diri mereka sendiri dan keluarga mereka.

Dengan demikian,  tentara-tentara yang kehilangan tanah air, pekerjaan, bahkan banyak yang kehilangan istri dan anak ini,  dapat menghindari deportasi pulang ke Afghanistan, di mana kematian mereka di tangan Taliban sedang menunggu.

“Mereka tidak ingin pergi berperang, tetapi mereka tidak punya pilihan,” kata salah satu mantan jenderal, Abdul Raof Arghandiwal.

Menurutnya, para mantan tentara ini kerap menanyakan nasib mereka.  "Mereka bertanya kepada saya, 'Beri saya solusi? Apa yang harus kita lakukan? Jika kami kembali ke Afghanistan, Taliban akan membunuh kami'," katanya.

Arghandiwal menambahkan, perekrutan dipimpin oleh pasukan bayaran Rusia, Wagner Group.

Jenderal lain, Hibatullah Alizai, panglima militer Afghanistan terakhir sebelum Taliban mengambil alih, menyatakan bahwa upaya itu juga dibantu oleh mantan komandan pasukan khusus Afghanistan yang tinggal di Rusia, dan berbicara bahasa tersebut.

Rekrutmen oleh Rusia ini mengikuti peringatan berbulan-bulan dari tentara AS yang bertempur dengan pasukan khusus Afghanistan,  bahwa Taliban berniat membunuh mereka.

Mereka kemungkina  pula memilih untuk bergabung dengan musuh AS untuk tetap hidup,  atau karena mereka marah dengan AS, mantan sekutu mereka, yang membiakan mereka begitu saja.

Pada Agustus 2022, sebuah laporan Kongres AS dari kalangan Partai Republik, partai oposisi dari pemerintahan Joe Biden yang diusung Partai Demokrat, secara khusus memperingatkan bahaya bahwa pasukan komando Afghanistan  ini, ndilatih oleh US Navy SEAL dan Army Green Baret.  

Pasukan Komando yang Terampil dan Ganas

Rekrutmen tersebut sangat membahayaan bagi AS. Ini karena para mantan tentara ini dapat memberikan informasi tentang taktik AS ke kelompok Negara Islam (ISIS), Iran atau Rusia, atau berjuang untuk mereka. 

Hal ini ditegaskan oleh kalangan wakil rakyat dari partai konservatif di AS itu, yang dijuluki Grand Old Party (GOP) alias Partai Tua Besar. 

“Kami tidak mengeluarkan orang-orang ini seperti yang kami janjikan, dan sekarang mereka pulang untuk bertengger,” kata Michael Mulroy, pensiunan perwira CIA yang bertugas di Afghanistan. 

Mulroy menambahkan bahwa pasukan komando Afghanistan ini adalah pejuang yang sangat terampil dan ganas.  

“Saya tidak ingin melihat mereka di medan perang mana pun, terus terang, tetapi tentu saja tidak melawan Ukraina," lanjutnya. 

The Associated Press sendiri sedang menyelidiki tentang benar-tidaknya perekrutan itu. Ini dilakukan ketika rincian upaya tersebut pertama kali dilaporkan oleh Majalah Foreign Policy, pekan lalu.

Laporan ini  berdasarkan sumber militer dan keamanan Afghanistan,  yang tidak disebutkan namanya.  

Perekrutan itu dilakukan ketika pasukan Rusia terhuyung-huyung dari kemajuan militer Ukraina. Presiden Rusia Vladimir Putin dilaporkan sedang mengejar upaya mobilisasi tersendat-sendat, yang telah mendorong hampir 200.000 orang Rusia meninggalkan negara itu untuk melarikan diri dari dinas militer.

Kementerian Pertahanan Rusia tidak menanggapi permintaan komentar.  

Seorang juru bicara Yevgeny Prigozhin, yang baru-baru ini mengaku sebagai pendiri Grup Wagner, menolak gagasan upaya berkelanjutan untuk merekrut mantan tentara Afghanistan sebagai 'omong kosong gila'.  

Departemen Pertahanan AS juga tidak menjawab permintaan komentar, tetapi seorang pejabat senior menyarankan perekrutan itu tidak mengejutkan.

Hal ini  mengingat Wagner telah mencoba untuk mendaftarkan tentara di beberapa negara lain. Tidak jelas berapa banyak anggota pasukan khusus Afghanistan yang melarikan diri ke Iran telah dirayu oleh Rusia.

Tetapi seornag mantan tentara ini mengakui bahwa dia berkomunikasi melalui layanan obrolan WhatsApp dengan sekitar 400 pasukan komando lainnya yang sedang mempertimbangkan tawaran tersebut.

Mantan tentara ini menyatakan bahwa banyak orang seperti dia takut dideportasi,  dan marah kepada AS karena meninggalkan mereka.

Mantan Komando: Tiada yang Pikirkan Kami, Ditinggalkan di Tangan Taliban 

“Kami pikir,  mereka mungkin membuat program khusus untuk kami, tetapi tidak ada yang memikirkan kami,” kata mantan komando.

Dia meminta anonimitas karena dia mengkhawatirkan dirinya dan keluarganya.  

“Mereka baru saja meninggalkan kita semua di tangan Taliban," lanjutnya. 

Mantan komando itu mengakui bahwa tawarannya itu sudah termasuk visa Rusia untuk dirinya sendiri,  serta tiga anak dan istrinya yang masih di Afghanistan.  

Para mantan komando lainnya  telah ditawari perpanjangan visa di Iran.  

Dia sendiri sedang menunggu untuk melihat apa yang diputuskan orang lain di grup WhatsApp, tetapi dia yakin bahwa banyak rekan-rekannya akan menerima kesepakatan itu. 

Sementara itu, para veteran AS yang bertempur dengan pasukan khusus Afghanistan, telah menjelaskan kepada The Associated Press bahwa hampir selusin kasus, tidak ada yang dikonfirmasi secara independen, tentang Taliban pergi dari rumah ke rumah. \

Taliban  mencari pasukan komando yang masih berada di negara itu, menyiksa, atau membunuh mereka, atau melakukan hal yang sama kepada anggota keluarga jika mereka tidak dapat ditemukan.

Human Rights Watch menyatakan, lebih dari 100 mantan tentara Afghanistan, petugas intelijen dan polisi, telah tewas atau secara paksa 'menghilang'.

Peristiwa ini terjadi hanya tiga bulan setelah Taliban mengambil alih Afghanistan,  meskipun ada janji amnesti. PBB dalam sebuah laporan pada pertengahan Oktober 2022.

laporan ini juga mendokumentasikan 160 pembunuhan di luar proses hukum,  dan 178 penangkapan terhadap mantan pejabat pemerintah dan militer.

Saudara dari seorang mantan pasukan komando Afghanistan di Iran, yang telah menerima tawaran Rusia, mengakui bahwa  ancaman Taliban membuat sulit untuk menolak.  

Dia mengakui bahwa saudaranya harus bersembunyi selama tiga bulan setelah jatuhnya Kabul, Ibukota Afghanistan, bolak-balik antarrumah kerabat,  sementara Taliban menggeledah rumahnya.

“Saudara laki-laki saya tidak punya pilihan lain selain menerima tawaran itu,” kata saudara laki-laki komando itu, Murad, yang hanya akan memberikan nama depannya karena takut Taliban akan melacaknya.

"Ini bukan keputusan yang mudah baginya," lanjutnya.

Mantan panglima militer Afghanistan Alizai mengatakan bahwa sebagian besar upaya perekrutan oleh Rusia itu difokuskan di Teheran dan Mashhad, sebuah kota dekat perbatasan Afghanistan di mana banyak orang telah melarikan diri.  

Mantan jendral ketiga, Abdul Jabar Wafa menegaskan bahwa kontak mereka di Iran tahu berapa banyak mantan pasukannya yang menerima tawaran itu.

“Anda mendapatkan pelatihan militer di Rusia selama dua bulan, kemudian Anda pergi ke garis pertempuran,” katanya, membaca satu pesan teks seorang mantan tentara Afghanistan di Iran yang dikirim ke Arghandiwal.  

“Sejumlah personel telah pergi, tetapi mereka sama sekali kehilangan kontak dengan keluarga dan teman-teman mereka. Statistik pastinya tidak jelas," lanjutnya.

Diperkirakan 20.000 hingga 30.000 personel pasukan khusus Afghanistan bertempur dengan AS selama perang dua dekade.

Belakangan, hanya beberapa ratus perwira senior yang diterbangkan,  ketika militer AS mundur dari Afghanistan pada tahun lalu.  

Karena banyak dari pasukan komando Afghanistan tidak bekerja secara langsung untuk militer AS, mereka tidak memenuhi syarat untuk mendapatkan visa khusus AS.

“Mereka adalah orang-orang yang berjuang sampai menit terakhir. Dan mereka tidak pernah, tidak pernah berbicara dengan Taliban. Mereka tidak pernah bernegosiasi,” kata Alizai. “Meninggalkan mereka adalah kesalahan terbesar.”***

 

Sumber: The Associated Press 

 

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda