Internasional post authorAju 02 Agustus 2021

Covid-19, Dunia Korban Persaingan Senjata Perekayasa Cuaca AS dan China

Photo of Covid-19, Dunia Korban Persaingan Senjata Perekayasa Cuaca AS dan China HAARP SENJATA AMERIKA SERIKAT MEMATIKAN - High Frequency Active Auroral Research Programe (HAARP) milik Amerika Serikat, senjata mematikan perekayasa iklim dengan cara menembakkan signal, listrik, dan frekuensi tertentu ke lapisan ionosfer.

JAKARTA, SP – Pegiat media sosial, pelaku bisnis, pengamat intelijen dan politik, Erizely Bandaro, mengatakan, pandemi Corona Virus Disease-19 (Covid-19) mengindikasikan ada kekuatan besar bermain dalam tatanan dunia baru.

Permainan tata dunia baru, merupakan implikasai persaingan sains perekaya cuaca mematikan, antara sekutu Amerika Serikat dan sekutu China, sebagimana pernah terjadi Perang Dingin, antara Blok Barat dipimpinan Amerika Serikat dan Blok Timur dipimpin Rusia, 1945 – 1991.

Kekuatan besar, bisa mempengaruhi kebijakan politik dalam dan luar negeri pada banyak negara, termasuk mempengaruhi kebijakan negara-negara maju.

“Kita bisa melihat semua negara di dunia terus berjuang keras agar segera keluar dari pandemi Covid-19. Tapi belum ada satu negarapun di dunia mampu sepenuhnya keluar dari Covid-19, karena dalam kenyataannya muncul varian baru,” kata Erizely Bandaro, Senin, 2 Agutus 2021.

Varian baru Covid-19, ternyata belum sepenuhnya mampu dihentikan vaksin konvensional, sehingga kebijakan politik dalam dan luar negeri, sangat dipengaruhi keinginan untuk segera keluar dari pandemi, dengan sebuah kebijakan medis yang akan mampu menghentikan Covid-19  pada berbagai varian.

Dikatakan Erizely Bandaro, semua tahu krisis Wallstreet yang terjadi tahun 2008. Itu sama seperti badai besar yang mengguncang hampir seluruh dunia.

Maklum Wallstreet terhubungan dengan financial center di London, Hong Kong, Singapore, Sydney, Dubai, Toronto. Lebih separuh aset hilang akibat Credit Default Swap (CDS) gagal bayar.

Pemicunya adalah kredit perumahan yang dikemas dalam bentuk Chief Marketing Officer (CMO).

Eropa semakin terpuruk akibat gagal bayar hutang beberapa negara anggota Negara Monentegro yang dikenal dengan istilah ME, sebuah negara yang terletak di Eropa Selatan.

Asia masih berusaha untuk bangkit. Amerika Serikat, terus berupaya keluar dari krisis.

Pada 20 Januari 2017, Presiden Amerika Serikat, Barack Hussein Obama yang sudah menjabat dua periode, menyerahkan kepemimpinannya kepada Presiden Donald John Trump. Tahun 2018, keadaan ekonomi Amerika Serikat berangsur pulih.

Bahkan Product Domestic Bruto (PDB) Amerika Serikat di awal kekuasaan Presiden Donald John Trump, tertinggi dibandingkan 2 periode kekuasaan Barack Hussein Obama. Tetapi entah mengapa, keadaan semakin membaik itu dikacaukan Donald John Trump.

“Tahun 2018, Presiden Amerika Serikat, Donald John Trumps menerapkan kebijakan proteksionisme dengan menaikan pajak impor. Ini berdampak buruk bagi mitra dagang Amerika Serikat terutama Eropa dan China,” kata Erizely Bandaro.

Padahal yang jadi target Amerika Serikat adalah China. Sumber recovery ekonomi adalah pulihnya pasar komoditas. Donald John Trumps justru menabuh perang dagang dengan China.

Pasar semakin sulit pulih. Lagi-lagi dampaknya meluas bukan hanya  China tapi dunia. Amerika Serikat bahkan semakin terpuruk. Angka pengangguran tertinggi dalam sejarah Amerika Serikat. PDB drop jadi 2,2% pada  tahun 2019

Tahun 2019, menurut Erizely Bandaro, muncul pandemi Covid-19. Ini membuat upaya damai perang dagang United State dan China belum terwujud,  Pandemi Covid-19 melanda. Berawal dari China dan akhirnya meluas ke seluruh dunia.

Amerika Serikat mendapat rekor tertinggi dunia dari segi korban kematian dan positif Covid-19. Amerika Serikat sempat bersiteru dengan World Health Organization (WHO). Menolak penanganan pandemi secara sains.

Demonstrasi anti social distance meluas. Dampaknya terhadapap ekonomi dunia sangat buruk. Negara di dunia masuk ke jurang resesi ekonomi. Menurut International Monetery Fund (IMF), ekonomi dunia menyusut 5% pada tahun 2020.

Tahun 2021, pandemic Covid-19, belum usai. Pada 19 Juli 2021, badai menghantam Kota Zhengzhou di China.

Curah hujan yang setara dengan curah hujan sepanjang tahun, sebesar 624 mm, menguyur kota itu hanya dalam satu hari.

Akibatnya, 200.000 orang dievakuasi dan 33 meninggal dunia. Belum selesai urusan banjir, China dihajar lagi, oleh Topan In-Fa yang menerjang pusat bisnis China, Shanghai, dan daerah pesisir di sekitarnya, Minggu, 25 Juli 2021.

Seminggu sebelumnya, bencana banjir di Jerman bagian barat meninggalkan jejak kehancuran. Banjir itu menewaskan 177 orang dan setidaknya 100 di antaranya belum ditemukan, sementara banjir di Belgia menewaskan 37 orang.

Dikatakan Erizely Bandaro, seperti China, kedua negara Eropa itu dilanda curah hujan yang luar biasa tinggi. Menurut Cina,  bencana alam terbesar dalam 1000 tahun.

“Ahli iklim dan sejarawan cuaca Maximiliano Herrera mengeklaim bahwa dalam setengah tahun 2021 sudah ada lebih dari 260 catatan suhu tinggi di 26 negara. Pecah rekor tertinggi sepanjang sejarah,” ungkap Erilzely Bandaro.

Dampak dari perubahan iklim yang ekstrim ini berdampak kepada ekosistem di planet bumi. Menurut Menteri Keuangan Republik Indonesia, Sri Mulyani, perubahan iklim ini akan mempengaruhi semua makhluk di dunia.

"Sama seperti pandemic Covid-19, tidak ada satu negara yang bisa escape atau bebas dari ancaman perubahan iklim ini," ujar Sri Mulyani.

Di tengah masalah besar dunia itu, masalah esensi tidak terjawabkan oleh dunia modern, yaitu sebagai berikut.

Pertama, berkaitan denga Krisis wallstreet yang dipicu delisting-nya Lehman di wallstreet,  mengapa otoritas Amerika Serikat yang dikenal sangat prudent bisa kecolongan dan bahkan Menteri Keuangan Amerika Serikat, Henry Paulson engga paham apa itu CMO?

“Mengapa tidak ada boss First Class bank dan pejabat otoritas yang masuk penjara. Padahal sudah terbukti pelanggaran sistem terjadi?” tanya Erizely Bandaro

Lucunya Chief Executive Officer (CEO) Lehman Brother si biang kerok masalah, malah dapat bonus US$250 juta. Yang masuk penjara hanya Madoft saja.

Kedua, dalam hal perang dagang Amerika Serikat - China. Apa alasan rasional Donald John Trump (Presiden Amerika Serikat, 20 Januari 2017 – 20 Januari 2021)?

Padahal Amerika Serikat berhutang kepada China. Perdagangan Amerika Serikat, tergantung pada China.

Ketiga, dalam hal pandemi Covid-19, mengapa petisi agar pemerintah Amerika Serikat melakukan penyelidikan penutupan Laboratorium Fort Detrick (Laboratorium Biologi Amerika Serikat milik Angkatan Darat), tidak ditindak lanjuti?

Mengapa tidak ada tindak lanjut investigasi terhadap Institut Virologi Wuhan, China?

Keempat, dalam bencana alam akibat perubahan iklim. Walau kemungkinan besar karena dampak rumah kaca.

Tetapi perubahan ekstrim, itu, tidak bisa menjawab pasti penyebabnya adalah pemanasan global?

Mengapa sains tidak bisa membuktikan pasti dan karenanya tidak bisa prediksi perubahan  iklim?

Kelima, mengapa Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tidak pernah meminta agar Amerika Serikat menutup High Frequency Active Auroral Research Programe (HAARP)?

Padahal, menurut Erizely Banaro, semua tahu bahwa HAARP senjata yang bisa merekayasa iklim dengan  cara menembakkan signal, listrik, dan frekuensi tertentu ke lapisan ionosfer.

“HAARP, senjata perekaya cuaca milik militer Amerika Serikat, merupakan sebuah alat yang dapat dengan mudah merekayasa iklim sampai pada tingkat extreme bahkan hingga menciptakan tornado, badai, banjir, bahkan tsunami,” ungkap Erilzely Bandaro. 

“China juga sejak 2018 menggandeng Rusia mengembangkan senjata pengendali cuaca.  Pengembangan senjata pengendali cuaca China bersama Rusia sudah melewati fase uji coba dan dinyatakan berhasil,” ungkap Erizely Bandaro.

“Mengapa dunia tidak menghentikan program senjata itu? Mengapa? Mengapa?” tanya Erizely Bandaro.

Peristiwa besar tersebut menelan korban harta dan kemanusiaan. Tidak hanya terjadi di satu negara tetapi dunia.

Lucunya wallstreet tumbang. Para orang kaya terus bertambah. Krisis dan resesi ekonomi melanda dunia, orang kaya terus bertambah. Pandemi Covid-19 melanda, orang kaya terus bertambah. Bencana iklim terjadi, orang kaya terus bertambah.

Tidak ada pemimpin negara G20 yang meninggal karena Covid-19. Tidak ada orang kaya menurut versi forbes meninggal karena Covid-19.

Tidak ada banker firs class bank meninggal karena Covid-19. Yang meninggal rakyat jelantah dan yang jatuh mikin ya rakyat jelata.

“Itu fakta. Mengapa?  Saya bisa saja menyimpulkan bahwa ada kekuatan besar yang bermain dalam rangka menciptakan tatanan dunia baru. Itu bukan sekedar negara atau politisi, tapi invisible hand?” tanya Erizely Bandaro. *

Sumber: fb erizely bandaro

Redaktur: Aju

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda