Tangisan Warga AS yang Tertinggal di Afghanistan: "Kami Dilupakan!"

Photo of Tangisan Warga AS yang Tertinggal di Afghanistan: TERTINGGAL- Dalam foto arsip 26 Agustus 2021, ratusan orang berkumpul, beberapa memegang dokumen, di dekat pos pemeriksaan kontrol evakuasi di perimeter Bandara Internasional Hamid Karzai, Kabul, Afghanistan.(AP Photo/Wali Sabawoon, File)

SENIN, 30 Agustus 2021 malam, Javed Habibi terkesiap ketika mendengar rentetan tembakan senjata api berkumandang di Bandara Internasional Hamid Karzai di Kabul, Ibu Kota Afghanistan. Javed pun terkesiap, karena suara-suara tembakan itu ternyata menandai berakhirnya penarikan pasukan sekaligus evakuasi terakhir AS dari negara itu.

“Mereka berbohong kepada kami,”keluh warga negara AS  pemegang kartu  hijau yang kini terdampar di Kabul, sebagaimana dilansir Suara Pemred dari The Associated Press, Kamis, 2 September 2021.

Javed yang terdampar di negara itu bersama ratusan warga AS lainnya mengaku cemas. Padahal, di hari-hari terakhir kekacauan pengangkutan evakuasi udara AS di bandara Kabul, Javed mendapat telepon dari Pemerintah AS.

Pemegang kartu hijau dari Richmond, Negara Bagian Virginia, ini bersama istri dan keempat putrinya, dinyatakan tidak akan ditinggalkan.

Pemerintah AS juga menyarankan supaya Javeed dan keluarga tetap tinggal di rumah,  dan tidak perlu khawatir karena akan segera dievakuasi.

Sesuai janji Presiden Joe Biden ke Taliban, penarikan terakhir pasukan AS adalah pada Selasa, 31 Agustus 2021.

Namun,  sehari sebelum tenggat waktu, Senin, proses penarikan  pasukan dan evakuasi pihak AS telah selesai.

Hati Javeed pun tenggelam ketika pada Senin malam, terbetik kabar bahwa penerbangan terakhir AS telah meninggalkan bandara Kabul, diikuti suara-suara tembakan dari Taliban yang melengking. Taliban merayakan apa yang diklaim sebagai kemenangan atas AS.

AS tak Tangani Kasus Individu

Sementara Victoria Nuland, Wakil Menlu AS untuk Urusan Politik, menyatakan bahwa pihaknya tidak akan menangani kasus individu.

Tetapi dinyatakan, semua warga negaranya, dan penduduk tetap sah yang tidak bisa mendapatkan penerbangan evakuasi atau terdampar, telah dihubungi secara individual dalam 24 jam terakhir.

Warga ini juga sudah diberitahu untuk mendapatkan informasi lebih lanjut tentang rute keluar yang sudah diatur.

"Kami akan berkomunikasi langsung kepada mereka lewat  instruksi pribadi, tentang apa yang harus mereka lakukan, kapan mereka harus melakukannya, dan bagaimana Pemerintah Amerika Serikat merasa berada di posisi terbaik untuk membantu mereka melakukan itu," tambah Juru Bicara Departemen Luar Negeri Ned Price.

 

Menteri Luar Negeri Antony Blinken memuji upaya evakuasi, meskipun sempat memperlihatkan ribuan orang yang berdesak-desakan di luar gerbang bandara Kabul. Dijelaskan, antara 100 dan 200 warga AS masih berada di Afghanistan, dan dijanjikan pula bahwa setiap warga AS yang ingin meninggalkan Afghanistan akan dibawa keluar.

Hanya saja, beberapa dari warga AS yang tetap tinggal masih trauma karena mencoba selama hampir dua pekan untuk naik ke pesawat AS dengan pengalaman yang mengerikan.

Habibi, tukang listrik tinggal di Richmond dengan visa imigrasi khusus sejak 2015, kembali ke Afghanistan untuk berkunjung pada 22 Juni 2021. Ini pertama kali keluarganya kembali ke negara itu sejak 2019, dan penerbangan pulang mereka dijadwalkan pada 31 Agustus 2021.

Pada 18 Agustus 2021, Habibi menerima email dari Pemerintah AS bahwa keluarganya – semua pemegang kartu hijau kecuali anak bungsu mereka, yang memiliki paspor AS – akan dievakuasi.

Email berikutnya menyatakan Habibi harus membawa keluarganya ke bandara Kabul. Habibi pun menurut, tetapi arus massa yang panik mencegahnya untuk mendekati gerbang pada dua upaya pertamanya.

Hampir Mati Diinjak-injak di Bandara

Putrinya, Madina (15) yang lancar berbahasa Inggris, berfungsi sebagai juru bicara keluarga, menyatakan bahwa dia dan adik perempuannya hampir diinjak-injak di bandara.

“Itu terlalu berbahaya. Kami tidak bisa pergi ke kerumunan. Dan, email terus berdatangan, yang menyatakan bahwa kami harus pergi ke bandara," katanya.

"Pada 25 Agustus 2021, email digantikan oleh panggilan telepon dari Arlington, Virginia," kata Madina. "Para penelepon mengidentifikasi diri mereka sebagai dari Kedutaan Besar AS. Menurut mereka, kami harus untuk tinggal di rumah, dan pemerintah mengetahui lokasi kami." 

Sementara Habibi mengaku sempat melakukan upaya keempat atau kelima, bahkan merekrut teman dan kerabat untuk mengarungi kerumunan massa bersama keluarga sambil membentuk semacam barisan pelindung.

Habie juga membawa anak bungsu dari empat anak gadisnya, Dunya, berusia dua tahun yang lahir di AS. 

Menurut Habibi, setidaknya dalam dua kesempatan, dia cukup dekat dengan gerbang sehingga paspornya dipindai,  tetapi ditolak masuk. Dia berteriak kepada tentara AS sambil melambaikan dokumennya.

“Apa artinya kartu hijau ini? Tidak. Mereka tidak melakukan apa-apa,” katanya. 

Madina, yang berbicara dengan sebagian besar penelepon dari Virginia, mengatakan kepada mereka bahwa keluarganya berasal dari Richmond.

Bahkan saat evakuasi berakhir, Madina mengatakan seorang penelepon berjanji, “Kami akan mengeluarkanmu. Anda tidak akan terjebak. Jangan khawatir. Kami tahu di mana Anda berada.” 

Habibie: Mereka Bohong!

Habibi bahkan berjanji akan menjemput mereka dengan mobil. "Mereka berbohong. Mereka tidak melakukan apa-apa,” keluhnya. 

Habibi tidak pernah diancam oleh Taliban,  dan tidak ada yang mengganggunya, tetapi masih takut.

Kisah-kisah berita dan posting-posting mengerikan di media sosial membuatnya yakin bahwa Taliban akan membunuhnya, meskipun dia sendiri tidak tahu siapa saja yang menjadi sasaran.

“Aku hanya takut. Saya ikuti beritanya,” katanya. 

Menurut Habibi, selain keluarganya, banyak keluarga lain, beberapa dengan kartu hijau AS, tetap di Afghanistan. 

Madina menjelaskan bahwa Marcia Vigar Perez, guru di SD Dumbarton, bekas sekolahnya, memulai rangkaian doa untuk kepulangannya dengan selamat. “Setiap hari mereka menelepon saya,” katanya. 

Penduduk asli Afghanistan lainnya yang meminta untuk diidentifikasi hanya Ajmal, karena takut akan pembalasan Taliban.

Ajmal, dua saudara lelaki dan keluarga mereka sebanyak 16 orang, semuanya diberikan visa imigran darurat untuk dievakuasi setelah saudara laki-laki lain di Virginia menyerahkan dokumen.

Ajmal kemudian menunjukkan email dari Pemerintah AS yang mengatakan: "Tolong pergi ke Bandara Internasional Hamid Karzai;, dan gunakan Gerbang Camp Sullivan, bukan pintu masuk sipil, meskipun juga diperingatkan bahwa gerbang itu bisa berubah setiap hari."

Ajmal bersama kerabatnya kemudian pergi ke bandara, tetapi tembakan keras oleh Taliban, dan ribuan orang yang panik untuk dievakuasi, mengirim mereka kembali ke rumah.  

Pada satu kesempatan, Ajmal menerima email yang memberi tahu bahwa dia dan keluarganya akan dijemput di sebuah tempat di dekat bandara pada pukul tiga pagi.  

Mereka pun menunggu di jalan sampai jam sembilan pagi, tetapi tidak ada yang datang.

Saudaranya Wais, seorang warga negara AS yang tinggal di Virginia, telah mengajukan petisi kepada para senator, dan mengisi dokumen untuk membawa keluarganya ke AS.

“Saya frustrasi dan marah," kecamnya kepada pejabat AS. Sepanjang waktu mereka berkata, 'Kami sedang mengerjakannya, kami sedang mengerjakannya,' tetapi kemudian , tidak ada apa-apa."***

 

Sumber: The Associated Press

 

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda