Internasional post authorPatrick Sorongan 02 November 2022

Iran Bersumpah Balas Dendam ke AS, Khamanei: Pada Waktu yang Tepat!

Photo of Iran Bersumpah Balas Dendam ke AS, Khamanei: Pada Waktu yang Tepat! AYATOLLAH SEYYED ALI KHAMENEI: Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran Ayatollah Seyyed Ali Khamenei .(Foto: IRNA)

TEHERAN, SP - Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran Ayatollah Seyyed Ali Khamenei menekankan kembali sumpahnya untuk balas dendam ke AS atas kematian pahlawan nasional Iran Jenderal Qassem Soleimani pada awal 2020.

Menuding AS sebagai pembunuh, Khamanei menyatakan, AS  bangga dengan kejahatan ini, yang merupakan tanda lain dari kejahatan mereka.

Hal ini ditegaskan di hadapan sekelompok siswa di Teheran, Ibukota Iran, Rabu, 2 November 2022, menjelang Peringatan  Hari Pelajar Iran, yang akan jatuh pada Jumat, 4 November 2022.

Tanggal yang  juga dinamakan 13 Aban disebutnya sebagai hari yang bersejarah, dilansir Suara Pemred dari Kantor Berita Pemerintah Iran, IRNA, Rabu.

"Artinya, ada peristiwa hari ini yang akan tetap tinggal dalam sejarah. Peristiwa tersebut tidak dapat, dan tidak boleh dilupakan," katanya.

Selain itu, menurut Khamanei, Aban13th adalah hari yang penuh pengalaman,  karena ada reaksi atas aksi unjuk rasa antipemerintah akibat kematian Mahsa Amini, seorang wanita muda asal wilayah Kurdi.

Unjuk rasa anarkis yang sempat menyebar di seluruh negara Teluk Persia ini,  diklaimnya didalangi oleh AS dan Israel, negara yang tak pernah disebut namanya oleh Iran, kecuali dengan sebutan 'Zionis'.

"Insiden ini menjadi pelajaran bagi kami, untuk masa depan negara, untuk masa depan hidup Anda, dan untuk masa depan bangsa Anda," tambah Khamenei.

Pemimpin Tertinggi Iran ini mendesak para siswa untuk memanfaatkan pengalaman ini.

AS Dituding Dalangi Pembunuhan Ilmuwan Nuklir Iran

Khamanei juga mengutuk Pemerintah AS karena diyakininya telah mendukung pembunuhan oleh Zionis terhadap ilmuwan nuklir Iran, serta penyumbatan miliaran dolar aset Iran di AS, dan di tempat lain.

Memperhatikan bahwa langkah AS terbukti dalam sebagian besar insiden anti-Iran lewat demo tersebut, Khamenei menyatakan bahwa bangsa Iran telah berhasil meredakan banyak plot ini.

Pemimpin Tertinggi menegaskan: "Tentu saja, kami tidak pernah melupakan beberapa insiden dan tidak akan pernah melupakannya.”

Khamenei secara diam-diam merujuk pada sumpah Iran untuk membalas dendam atas pembunuhan Jenderal Soleymani.

“Mengenai kemartiran Soleimani, kami mendukung apa yang telah kami katakan.  dan itu akan ditindaklanjuti pada waktu yang tepat," tegasnya.

Sementara dalam sambutannya di tempat lain, Khamenei menyoroti peran Pemerintah AS dalam kerusuhan baru-baru ini di Iran.

Pemimpin Tertinggi mengutip pernyataan bersama oleh Kementerian Intelijen Iran dan badan intelijen IRGC  bahwa musuh memiliki plot untuk Teheran dan kota-kota besar atau kecil lainnya di Iran.

Tidak Menyalahkan Remaja yang Turun ke Jalan

Mengacu pada kehadiran remaja dan anak muda Iran dalam kerusuhan tersebut, Khamanei berkata: “Ini adalah anak-anak kita sendiri … yang turun ke jalan karena kegembiraan dan perasaan serta  beberapa kelalaian [oleh pejabat] dalam masalah ini.”

Khamenei menekankan peran 'manajer panggung utama',  yang memasuki tempat kejadian dengan rencana yang telah dirancang sebelumnya.

Pemimpin Iran ini menekankan,  bangsa Iran memukul mulut musuh-musuhnya, dan akan terus melakukannya di masa depan.

Menurut Khamenei, kesalahan perhitungan AS tentang berbagai masalah dunia, termasuk invasi mereka ke Irak dan Afghanistan, adalah tanda kejatuhan AS. 

AS dinilainya berusaha untuk menempatkan orang-orangnya  atau agen mereka,  yang bertanggung jawab atas berbagai masalah di Irak,  

Pemimpin Tertinggi Iran menambahkan bahwa situasi saat ini di Irak dan kehadiran politisi Irak yang berkuasa,  bukanlah apa yang mereka cari. 

Khamenei juga menyebut bahwa 'kekalahan' AS di Suriah dan Lebanon, khususnya dalam masalah pengaturan saluran gas baru-baru ini, sebagai contoh lain dari salah perhitungan AS. 

Menurut Khamanei, tanda lain dari kejatuhan AS adalah suara rakyat untuk petahana dan presiden negara sebelumnya. 

“Pada periode sebelumnya, seorang presiden seperti Trump (Donald Trump) terpilih, yang dianggap oleh semua orang sebagai orang gila, dan pada periode saat ini, seorang presiden berkuasa (Joe Biden), yang semua orang tahu tentang kondisinya," kecamnya. 

Qasem_Soleimani_with_Zolfaghar_Order

Tentang Jenderal Qassem Soleimani

Mayor Jenderal Qasem Soleimani atau Ghasem Soleimani (bahasa Persia), 11 Maret 1957 – 3 Januari 2020 merupakan perwira militer senior Iran dalam Pasukan Pengawal Revolusi Islam (IRGC). 

Sejak 1998, dilansir Wikipedia, Soleimani menjadi komandan dari Pasukan Quds. divisi yang bertanggung jawab untuk operasi ekstrateritorial dari Iran.  

Veteran perang Iran dalam perang melawan Irak pada dekade 1990-an ini, aktif dalam berbagai konflik di Timur Tengah, terutama di Irak dan Syam.  

Pasukan Quds telah lama memberikan bantuan militer untuk Hizbullah di Lebanon dan Hamas di wilayah Palestina.  

Pada 2012, Soleimani membantu pemerintah Suriah, sekutu penting Iran, selama perang melawan Daesh atau Negara Islam Irak dan Syam (ISIS).  

Soleimani juga ikut membantu Komando Gabungan Pemerintah Irak dan pasukan milisi Syiah melawan ISIS pada 2014–2015. 

Soleimani dan Abu Mahdi al-Muhandis tewas dalam serangan udara AS pada 3 Januari 2020 di dekat Bandar Udara Internasional Baghdad, Ibukota Irak.  

Serangan udara tersebut merupakan balasan terhadap penyerangan Kedutaan Besar AS  di Bagdad yang diduga dilakukan oleh milisi yang didukung Iran.

Kematian  Soleimani ikonfirmasi oleh pejabat tinggi Departemen Pertahanan AS. Soleimani lahir di Desa Qanat-e Malek, Provinsi Kerman, dari keluarga petani.

Ketika masih muda, Soleimani pindah ke Kota Kerman, dan bekerja di proyek konstruksi untuk membantu membayar utang ayahnya.  

Pada 1975, Soleimani bekerja sebagai kontraktor di Perusahaan Air Kerman. Ketika sedang tidak bekerja, Soleimani mengangkat beban di gimnasium,  dan mengikuti khutbah  yang disampaikan oleh Hojjat Kamyab, anak didik dari Ayatollah Khomeini.

Menurut penuturan Sohrab Soleimani (saudara Qasem Soleimani), saudaranya yakni Qasem Soleimani adalah salah seorang penggerak demo-demo antipemerintahanan  Raja Syah di Kerman.  

Karier dan aktivitas

Soleimani bergabung dengan Pengawal Revolusi  (IRGC) pada 1979 setelah Revolusi Iran menggulingkan Raja Syah. Dikabarkan,  walau menjalani pelatihan yang sangat minim, Soleimani naik pangkat dengan cepat.  

Di awal kariernya,  Soleimani ditempatkan di barat laut Iran, dan ikut serta dalam penanganan pemberontakan separatis Kurdi di Provinsi Azerbaijan Barat. 

Pada 22 September 1980, ketika Presiden Irak Saddam Hussein melakukan invasi ke Iran, menyebabkan Perang Iran–Irak (1980-1988), Soleimani terjun ke medan perang sebagai pemimpin kompi militer, yang terdiri dari lelaki dari Kerman yang dikumpulka  dan dilatihnya  secara pribadi. 

Soleimani menjadi terkenal dengan cepat karena keberaniannya, dan naik pangkat karena memulai dalam operasi merebut kembali wilayah yang ada di Irak. 

Dia akhirnya menjadi komandan Divisi Sarallah 41 saat masih berusia 20-an, yang ikut serta dalam sebagian besar operasi, dan sering ditempatkan di depan selatan.

Perang Iran – Irak

Soleimani menjadi salah satu komandan operasi Wal Fajr 8, Karbala 4,  dan Karbala 5.  Operasi Karbala 5 disebut sebagai operasi Iran terpenting semasa perang, yang dinilai berhasil untuk posisi politik tentara Ba'ts Irak, dan posisi yang menguntungkan kekuatan militer Iran.

Tanggal pelantikannya sebagai Komandan Pasukan Quds tidak diketahui secara pasti, tetapi Ali Alfoneh memperkirakan antara 10 September 1997 dan 21 Maret 1998.

Soleimani dianggap sebagai calon penerus dari Panglima IRGC, ketika Jenderal Yahya Rahim Safavi melepaskan jabatannya pada 2007.

Pada 2008, Soleimani memimpin sebuah kelompok yang kematian Imad Mughniyah. Soleimani membantu membedakan senjata antara Tentara Irak dan Tentara Mahdi pada Maret 2008.

Soleimani digambarkan sebagai 'perwira yang paling berpengaruh di Timur Tengah saat ini, dan ahli strategi dan taktik militer pada upaya Iran memerangi pengaruh Barat.

Di Irak, sebagai Komandan Pasukan Quds, Soleimani diyakini telah mempengaruhi organisasi pemerintahan Irak, terutama mendukung Perdana Menteri Irak Nuri Al-Maliki.

Soleimani bahkan digambarkan sebagai 'Erwin Rommel-nya Iran'. Menurut beberapa sumber, Soleimani adalah pemimpin utama, dan sosok di balik sayap militer partai Syiah Lebanon, Hizbullah, sejak pelantikannya sebagai Komandan Pasukan Quds pada 1998.

Soleimani saat memegang komando Pasukan Quds,  memiliki peran penting dalam memperkuat Hizbullah Lebanon,  dan kelompok-kelompok pejuang Palestina, yang bukti konkritnya dapat menyaksikan dalam berbagai peperangan.

Di antaranya,  perang 33 hari Hizbullah dan kemenangan para pejuang Palestina dalam perang 22 hari melawan Zionis.

Soleimani berhasil membentuk Al-Hashad Al-Shabi di Irak dan “Pasukan Pertahanan Nasional di Suriah.

Karena dalam mengatur strategi kawasan dan menghadapi musuh, media-media dalam dan luar negeri memberikan banyak julukan kepadanya, seperti The Shadow Commander, Jenderal Internasional. Komandan Hantu, Komandan Misterius. Mimpi Buruk Musuh, Malik Asytar Masa Kini, atau Jenderal Haj Qasem.***

 

Sumber: IRNA, Wikipedia

 

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda