Internasional post authorAju 07 Oktober 2022

Produksi Film The Letter A Message for Our Earth di Vatikan Libatkan Ilmuwan Asia

Photo of Produksi Film The Letter A Message for Our Earth di Vatikan Libatkan Ilmuwan Asia Dr Hoesung Lee

VATICAN CITY, SP – Produksi Film The Letter A Message for Our Earth di Vatikan melibatkan ilmuwan dari Asia, Hoesung Lee, dari Korea Selatan.

Paus Fransiksus ditampillkan dalam Film The Letter A Message for Our Earth diproduksi Oscar Off the Fence (My Octopus Teacher) dengan sutradara Emmy Nicolas Brown

Film The Letter A Message for Our Earth diluncurkan di Kantor Pers Vatikan, bersamaan tayangan perdana di Kanal YouTube Originals, Selasa, 4 September 2022.

Para pemain, pendukung, penulis skenario dan sutradara dari berbagai negara dan profesi.

Ada aktivis iklim, pemimpin adat, pengungsi iklim, dan ahli biologi kelautan yang sudah menikah saat mereka melakukan perjalanan dari sudut dunia mereka ke Vatikan.

Film The Letter A Message for Our Earth mencakup pertemuan dengan Paus Fransiskus serta cuplikan video belum pernah dipublikasikan sejak pelantikannya pada 19 Maret 2013.

Inspirasi untuk judul film dokumenter ini diambil dari kata “ensiklik”, yang digunakan untuk pesan kepausan tertentu dan secara harfiah berarti “surat edaran.”

Judulnya mengacu pada ensiklik Paus Fransiskus 2015 Laudato si', menurut laman Catholic News Agency.

Kardinal Raniero Cantalamessa, OFM, pengkhotbah rumah tangga kepausan, muncul dalam “Surat” berbicara tentang akar Fransiskan.

Akar Fransiskan menginspirasi materi ensiklik Paus Fransiskus tentang lingkungan.

Penayangan perdana Senin, 4 Oktober 2022, bersamaan dengan pesta Santo Fransiskus dari Assisi.

Selasa, 4 Oktober 2022, menandai pula aksesi resmi Tahta Suci ke Kesepakatan Iklim Paris 2015 yang diinisiasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Konsep kunci dialog

Kardinal Michael Czerny, Prefek Dikasteri untuk Mempromosikan Pembangunan Manusia Integral, mempresentasikan Film The Letter A Message for Our Earth.

Dikasteri untuk Mempromosikan Pembangunan Manusia Integral adalah mitra selama dalam proses produksi Film The Letter A Message for Our Earth.

Film The Letter A Message for Our Earth menyoroti konsep kunci dialog.

“Dialog adalah inti dari visi Bapa Suci untuk perdamaian umat manusia dengan Sang Pencipta, dengan semua ciptaan, dan di antara kita manusia.”

Hoesung Lee, Ketua Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim, mengatakan, menyebut hal penting.

Hoesung Lee mengatakan, Film The Letter A Message for Our Earth sebagai pengingat yang tepat waktu akan urgensi dan pentingnya Laudato si’.

“Baik komunitas sains maupun komunitas agama sangat jelas: planet ini dalam krisis dan sistem pendukung kehidupannya dalam bahaya.”

“Taruhannya tidak pernah lebih tinggi, dan kita harus menjadi sumber solusi untuk krisis ini,” tambah Hoesung Lee, sebagaimana dilansir Catholic News Agency.

Penulis dan sutradara Film The Letter A Message for Our Earth, Emmy Nicolas Brown, mengatakan membuat film dokumenter salah satu cara untuk keluar dari gelembung diri.

Dimana bertemu satu sama lain di seluruh planet ini. Suara-suara ini penting terutama karena mereka adalah perspektif mereka yang paling menderita.

Subjek Film The Letter A Message for Our Earth.

Pertama, Cacique Odair “Chief Dadá,” seorang pemimpin adat komunitas Novo Lugar dari suku Borarí di hutan hujan Amazon di Brasil

Kedua, Ridhima Pandey, seorang aktivis iklim muda dari India;

Ketiga, Arouna Kandé, seorang pengungsi iklim dari Senegal

Keempat, Robin Martin dan Greg Asner, ahli biologi kelautan yang tinggal di Hawaii.

Kelima, Lorna Gold, Presiden Gerakan Laudato Si’, juga menjadi bagian dari Film The Letter A Message for Our Earth.

Profil Hoesung Lee

Dr. Hoesung Lee, Ketua Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim, Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC).

IPCC organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), terpilih sejak Oktober 2015.

Hoesung Lee Ketua Profesor di Sekolah Pascasarjana Energi dan Lingkungan Universitas Korea, Seoul, Korea.

Penelitiannya meliputi ekonomi perubahan iklim, energi dan pembangunan berkelanjutan.

Hoesung Lee adalah anggota Dewan Direksi Akademi Ilmu Lingkungan Korea.

Kemudian, ketua Dewan Penasihat Presiden Bank Pembangunan Asia untuk Perubahan Iklim dan Pembangunan Berkelanjutan.

Hoesung Lee adalah presiden pendiri Institut Ekonomi Energi Korea — sebuah badan pemerintah untuk pengembangan kebijakan energi nasional.

Hoesung Lee adalah Peneliti Terhormat di Institut Lingkungan Korea, penasihat senior untuk Menteri Energi dan Sumber Daya dan Menteri Lingkungan.

Rekan senior di Institut Pengembangan Korea dan ekonom di Exxon Company USA.  

Hoesung Lee menjabat sebagai presiden Asosiasi Internasional untuk Ekonomi Energi, presiden Asosiasi Ekonomi Sumber Daya Korea Selatan.

Anggota Dewan Penasihat Internasional dari Battelle-Pacific Northwest National Lab, Amerikat Serikat.

Dewan Direksi Hyundai Corporation dan Institut Global Strategi Lingkungan, Jepang, dan anggota dewan Global Green Growth Institute.

Hoesung Lee adalah Co-Chair dari IPCC Working Group III (dimensi sosial-ekonomi perubahan iklim) Penilaian Kedua memberikan dasar ilmiah untuk Protokol Kyoto UNFCCC.

Hoesung Lee menjabat sebagai Wakil Ketua IPCC 2008-2015, dan penulis utama dan editor ulasan untuk berbagai penilaian IPCC.

Hoesung Lee telah bertugas di banyak komite nasional dan internasional yang menangani perubahan iklim dan energi.

Hoesung Lee menerima B.A. dari Universitas Nasional Seoul dan Ph.D. di bidang ekonomi dari Rutgers University, Amerika Serikat.

Hoesung Lee dinobatkan sebagai 100 Orang Paling Berpengaruh di dunia versi TIME 2019.

***

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda