Internasional post authorPatrick Waraney 11 April 2021 17,005

Dilarang PBB, Robot Pembunuh tetap Diproduksi Gantikan Tentara

Photo of Dilarang PBB, Robot Pembunuh tetap Diproduksi Gantikan Tentara Tentara Robot bernama Kalashnikov diprediksi dikembangkan oleh Rusia. Belakangan, produksinya tak ada kabar beritanya selain rencana kehadiran Robot tempur Uran-9 berbentuk mirip tank yang pekan ini mulai diproduksi.(Wion News)

SEJUMLAH negara semisal Rusia, AS, China dan Korea Selatan mulai mengembangkan robot tempur yang diklaim 'hanya' dilengkapi remote. Pasalnya, impian manusia membuat robot berteknologi intelijen buatan (artificial ntelligence/AI) telah dipatahkan lewat  Konvensi Senjata Tertentu (CCW) Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), yang berlaku sejak Desember 1983.

Robot tempur yang dilengkapi teknologi AI dilarang PBB karena kedahsyatan efeknya ketika menggantikan manusia: bertempur tanpa kenal lelah, tak pernah kenal jam istirahat, lapar, atau sakit selama pertempuran.

Tanpa harus di-remote, robot akan bergerak secara otonom, lincah, menguasai teknologi persenjataan,  dan bertarung ganas,  tanpa harus membawa kotak P3K (Pertolongan Pertama  Kecelakaan). 

"Robotika otonom akan menyelamatkan, dan melestarikan nyawa tentara, dengan mengeluarkan tentara yang bertugas dari medan perang yang mungkin akan terbunuh,"  kata Letjen Richard Lynch dari Komando Manajemen Instalasi Angkatan Darat yang juga Asisten Kepala Staf Angkatan Darat AS untuk instalasia dalam sebuah konferensi pers di AS pada 2011.

Pernyataan yang sama dikemukakan Mayor Kenneth Rose dari Pelatihan dan Doktrin Komando Angkatan Darat AS. "Mesin tidak akan lelah. Mereka tidak menutup mata, tidak bersembunyi di bawah pohon saat hujan, dan tidak berbicara dengan teman mereka. Perhatian manusia terhadap detail tugas jaga, turun drastis dalam 30 menit pertama , tapi mesin tidak, dan juga  pernah mengenal rasa takut," katanya.

Manusia mengimpikan kehadiran robot berwujud mirip manusia (android) berteknologi AI alias robot pembunuh, sebagaimana  wujud robot  mirip manusia alam film Terminator yang dibintangi Arnold Schwartzenegger.

Pun robot polisi polisi dalam film Robo Cop yang juga dilengkapi sistem senjata otonom mematikan (LAWS). LAWS adalah sistem yang dapat memilih dan menembak target tanpa bantuan manusia.

Walaupun dilarang oleh PBB, sebagaimana dikutip dari Skynet Today pada 7 September 2020, prototipe robot seperti ini sebenarnya sudah dipasang di berbagai senjata dan kendaraan militer, termasuk drone, kapal selam, menara tank, sistem pertahanan rudal, dan robot penjaga markas tentara.

Meskipun sistem semacam itu belum digunakan secara luas, sejumlah negara telah aktif mengembangkannya.

Belakangan, pada 2015,  lebih tiga ribu ahli menandatangani Senjata Otonom: Surat Terbuka dari Peneliti AI & Robotika, yang memperingatkan bahwa teknologi AI telah mencapai titik untuk tidak dilegalkan. Senjata otonom digambarkan sebagai bagian dari revolusi ketiga dalam peperangan setelah mesiu dan senjata nuklir.

Keterlibatan robot ini  ketika diproduksi secara masal, dampaknya akan sangat membahayakan umat manusia, karena tak akan terkendali.

Keberadaannya persis dengan penggunaan senapan mesin AK-47 (Kalaknishkov) yang dijual Rusia ke berbagai negara  sejak awal abad ke-21, yang telah  menimbulkan ancaman destabilisasi atas tatanan internasional.   

Terlepas dari peringatan ini, 30 produsen senjata global berdasarkan  identifikasi organisasi nirlaba perdamaian Pax,  diketahui telah secara aktif mengembangkan mesin perang.

Teknologi ini akan digunakan oleh militer, walaupun sudah diberlakukan aturan dan hak internasional,  yang membatasi senjata perang jenis tertentu. Sebab,tidak ada senjata yang diperkenankan membunuh warga sipil tanpa pandang bulu, atau tanpa tujuan militer yang jelas di balik suatu serangan.

Identifikasi yang dilakukan Pax ini, sudah termasuk teknologi senjata yang sedang dikembangkan oleh Angkatan Darat AS. Sedang dibangun sebuah senjata yang  disebut Advanced Targeting and Lethality Automated System (ATLAS) yang dipasang di tank.

ATLAS dapat secara mandiri mendeteksi target, menentukan apakah mereka musu, dan secara otonom mengendalikan meriam di tank dengan kecepatan dan akurasi super. 

Angkatan Laut AS juga memasang versi otomatis dari sistem rudal Aegis, yang bereaksi lebih cepat daripada manusia untuk menembak jatuh rudal atau target pesawat berawak . Sementara angkatan udaranya telah  memelopori pengembangan senjata otonom mematikan di drone lewat drone bernama Predator.

Drone ini dapat pula melacak dan membunuh target sambil ,engendalikan kawanan drone berukuran kecil yang dapat saling berkomunikasi,  dan bertindak secara kolektif.  

AS diproyeksikan menghabiskan 17,5 miliar dolar AS untuk pembuatan drone pada  2017-2021, termasuk 3.447 sistem darat, laut, dan udara tak berawak baru,  meskipun sudah memiliki 20 ribu kendaraan otonom. Setiap cabang menyesuaikan senjata otonomnya, agar sesuai dengan kebutuhan.   Di udara, laut, dan di darat, perkembangan LAWS mengubah cara militer AS dalam berperang.

Pada hitungan terakhir, setidaknya 381 senjata otonom dan sistem robotika militer, juga sedang dikembangkan atau sudha digunakan di 12 negara. Misalnya, China, Prancis, Israel, Inggris, Korea Selatan, dan AS.  

Robot Pembunuh Buatan Samsung

Contoh yang paling gamblang terkait penggunaan robot pembunuh untuk menggantikan tugas tentara telah diberlakukan oleh Korea Selatan. Robot penjaga otonom buatan Samsung, SGR-A1, dapat memilih dan menembak target pilihannya untuk menjaga Zona Demiliterisasi (DMZ) antara Korea Utara dan Korea Selatan.    

Pihak Samsung mengklaim, robot itu harus digunakan sebagai bagian dari Sistem Manusia dalam Lingkaran (Human-in-the-loop): membiarkan robot membuat keputusan untuk menembak hanya kepada manusia.

Namun, ahli robotik terkemuka AS , Ronald Arkin mengkonfirmasi, SGR-A1 juga berfungsi dalam mode Manusia dalam Lingkaran,  karena dapat memilih,  dan terlibat dengan target, tanpa bantuan manusia. Tapi, manusia di dekatnya dapat campur tangan jika diperlukan.

Sistem Human-in-the-Loop mengharuskan manusia untuk memilih target dan memutuskan terlibat. Jadi, senjata otonom ini  menembak target begitu manusia menyetujuinya. Sistem ini mempertahankan kendali manusia atas setiap keputusan yang dibuat.  

Sebaliknya, untuk sistem Human-in-the-Loop, seseorang dapat menonton,  dan campur tangan jika diperlukan, tetapi tidak perlu menyetujui setiap tindakan robot pembunuh.  

Mimpi Robot Raksasa Rusia

Pada 2006,  robot android  tempur  berukuran raksasa direncanakan dibuat oleh Rusia untuk menjaga perbatasan. Dilansir Moscow Times, 15 Mei 2014, inilah impian Presiden Vladimir Putin.

Sebelumnya, Maret 2014, Wakil Perdana Menteri Rusia yang membidangi industri Pertahanan Rusia,  Dmitry Rogozin, menyatakan bahwa Rusia sebenarnya menginginkan robot yang mematikan,  meski belum tentu berukuran raksasa, bahkan yang memiliki naluri seperti manusia (antropomorfik).

Tapi, Rusia juga mengakui implikasi dari menciptakan mesin yang diberi wewenang untuk membunuh manusia, apalagi terkait keanggotaannya  di PBB.   "Pemerintah mengakui ini adalah kekhawatiran," kata Mary Wareham dari Human Rights Watch. 

Robot tempur sebenarnya tak asing lagi bagi Rusia sejak era Uni Soviet sejak dekade 1930-an . Soviet mengerahkan dua batalyon tele-tank yang dikendalikan dari jarak jauh pada awal invasi Nazi Jerman pada1941. Belakangan, tank jarak jauh ini tidak bertahan lama ketika menghadapi  serangan kilat Jerman.

Di negara lain, Korea Selatan, lebih 50 akademisi dari 30 negara melayangkan protes ke Institut Sains dan Teknologi  Pertahanan Universitas Korea Selatan (Korea Advanced Institute of Science and Technology/KAIST). Ini karena KAIST berencana mengeksploitasi teknologi robotik.

Sebuah artikel dari The Guardian menjelaskan, boikot ini juga ditujukan untuk mitra KAIST,  produsen pertahanan Hanwha Systems. Para peneliti menyatakan tidak akan bekerja sama dengan universitas.

 

Mereka  khawatir teknologi ini bakal mempercepat perlombaan senjata otonom. “Ada banyak hal hebat yang dapat Anda lakukan dengan AI yang menyelamatkan nyawa, termasuk dalam konteks militer. Tapi  menyatakan secara terbuka bahwa tujuannya adalah untuk mengembangkan senjata otonom,  dan memiliki mitra seperti ini,  memicu keprihatinan besar,” kecam Toby Walsh, penggagas boikot.

Profesor di Universitas New South Wales ini menambahkan, KIST merupakan universitas yang sangat dihormati, tapi sayangnya bermitra dengan pihak yang sangat diragukan secara etis, yang terus melanggar norma internasional.

Hanwha adalah salah satu produsen senjata terbesar di Korea Selatan, pembuat amunisi tandan yang dilarang di 120 negara di bawah perjanjian internasional.

Korea Selatan bersama AS, Rusia dan China sendiri, bukanlah penandatangan konvensi tersebut. Presiden KAIST Sung-Chul Shin menyatakan prihatin atas boikot tersebut.  "Saya ingin menegaskan kembali, bahwa KAIST tidak berniat untuk terlibat dalam pengembangan sistem senjata otonom yang mematikan, dan robot pembunuh," katanya. 

Hanwha sendiri telah memilih Timur Tengah sebagai pasar utama dan strategis, dan berusaha memperluas akuisisi atas perusahaan saingan. Perusahaan tersebut bermitra dengan perusahaan India Larsen & Toubro untuk mengamankan kontrak senjata senilai   660 juta dolar AS yang dilaporkan bertujuan untuk merombak militer India.

"Mengembangkan senjata otonom akan membuat situasi keamanan di Semenanjung Korea lebih buruk, bukan lebih baik,"  Sung-Chul Shin mengakui. "Jika senjata ini dibuat di mana saja, akhirnya senjata ini pasti akan muncul di Korea Utara, dan Korea Utara sendiri tidak akan ragu menggunakannya untuk melawan Korea Selatan." 

Robot Penyerang Rusia

Sementara itu, Rusia terpaksa meninggalkan impiannya untuk  membuat android tempur. Rusia konsen membuat robot penyerang berbentuk mesin. Dilansir dari TASS, Jumat, 9 April 2021,  Menteri Pertahanan Sergei Shoigu menegaskan, robot penyerang akan digunakan oleh Angkatan Darat Rusia.

Pada Jumat kemarin, Menteri Pertahanan Rusia memeriksa rencana tersebut di Perusahaan Produksi dan Teknologi ke-766 di Nakhabino, luar Kota Moskow. Perusahaan ini sedang mengembangkan dan memproduksi kendaraan robotik dengan berbagai tujuan.

"Seperti yang dilaporkan Kepala Staf Utama Angkatan Darat Vasily Tonkoshurov kepada menteri pertahanan, unit pertama robot penyerang akan dibuat untuk Angkatan Bersenjata Rusia, yakni  lima sistem robotik Uran-9 atau 20 kendaraan tempur," katanya.

Satu  unit eksperimental sedang didirikan di lokasi pabrik yang juga menjadi lokasi untuk salah satu pusat penelitian ilmiah Kementerian Pertahanan Rusia. Tujuannya, menguraikan metode, dan bentuk mempekerjakan regu dengan sistem robotik.

"Pusat ini selanjutnya akan melatih personel yang akan mengoperasikan kendaraan robotik Uran-9 di unit operasional militer," tambah Menteri Pertahanan Rusia.

Robot tempur Uran-9 dipersenjatai dengan meriam otomatis 30 milimeter, rudal anti-tank Ataka, dan penyembur api Shmel.***

 

Sumber: Moscow Times, TASS, Wikipedia, Seeflection

 

 

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda