Internasional post authorKiwi 11 Mei 2020 357

Merasakan Puasa 17 Jam di Baku, Ibukota Republik Azerbaijan

Photo of Merasakan Puasa 17 Jam di Baku, Ibukota Republik Azerbaijan MASJID NASIONAL - Masjid Samakhi, Masjid Juma Samakhi, terletak 106 km dari ibu kota Baku, Shamakhi atau Samaxi, adalah sebuah distrik di Azerbaijan yang memiliki sejarah panjang perkembangan Islam di kawasan Kaukasus.

Sebagai Negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam, republik Azerbaijan juga menjadi Puasa Ramadan sebagai ibadah utama. Namun, berpuasa di Baku, Ibukota Azerbaijan, tidak sama dengan di Indonesia, yang terbiasa berpuasa selama 12-13 jam. Di Baku, Azerbaijan, waktu berpuasa bisa mencapai 17 jam.

Dimulai sahur pada dini hari, yakni sekitar pukul 02.00 waktu setempat. Hal ini lantaran imsak jatuh sekitar pukul 03.00 (pukul 06.00 WIB), dan 10 menit berselang sudah masuk waktu subuh. Untuk makan sahur, sebaiknya dilakukan dengan mengorder makan pagi yang dimajukan sangat dini sekali.

Tak seperti di Indonesia yang banyak warung buka saat sahur, di Baku, orang lebih suka makan sahur di rumah. Dan jarang warung atau depot buka saat sahur. Bila ada, harganya bisa dibilang mahal atau bahkan belum tentu halal.

Menu sahur saya pada dini hari ini adalah salad, beberapa potong keju, beberapa potong roti tawar, croissant, butter, 2 butir telur ayam, muesli, dan yoghurt. Plus 2 botol air mineral, sangat cukup untuk bekal puasa hari ini.

Secara umum, cuaca di Baku cukup hangat namun sejuk. Matahari bersinar dengan hangat, tapi terkadang berangin, dengan suhu yang sejuk sekitar 20 derajat Celsius. Dengan cuaca seperti ini, puasa 17 jam jadi tidak terasa.

Matahari di sini baru tenggelam sekitar pukul 20.00 (pukul 23.00 WIB) waktu setempat. Untuk menu berbuka, tak jauh dari menu sahur. Biasanya ada kurma, minuman semacam infused water, air yang direbus dengan buah-buahan plus gula yang dinamakan 'kompot', serta aneka salad dan daging bakar yang dimakan dengan roti.

Dan, sudah menjadi tradisi orang Azerbaijan, bila makan berat ditutup dengan minum teh. Kehidupan saat Ramadan di Baku biasa saja, tidak ada yang istimewa dan mencolok. Penjual makanan tetap berjualan secara terbuka, rumah-rumah makan tetap beroperasi, tanpa tirai penutup seperti di Indonesia. Mereka yang tidak berpuasa, ya, makan saja secara terbuka. Semua berjalan dengan santai.

Saat berpuasa, warga masih terlihat bercengkerama bersama keluarga, memenuhi taman-taman kota. Ada pula yang berziarah ke taman makam pahlawan Sahidler Xiyabani, mengenang pahlawan mereka yang gugur karena memperjuangkan kemerdekaan Azerbaijan.

Atau yang sekadar jalan-jalan di Taman Dagustu, yang tak jauh di sekitar makam pahlawan itu. Seperti 3 remaja putri yang datang dari kota tetangga Baku, Sumgayit, ini.

Azerbaijan sendiri adalah negara pecahan Uni Soviet yang terletak di tepi Laut Kaspia. Sebanyak 95% warga Azerbaijan adalah muslim, sebagian besarnya Syiah dan sisanya Sunni. Ada belasan etnis yang menghuni negeri ini.

Mayoritas tentu saja etnis Azerbaijan, ada pula etnis Turki, Ukraina, Rusia, Yahudi, Kurdi, dan sebagainya. Meski demikian, mereka hidup damai dan berdampingan. Praktik Islam di negara ini sangat moderat, cenderung sekuler dan multikultural.

Ramadan di Azerbaijan termasuk unik, setidaknya di Baku, ibu kota yang pernah dikuasai Uni Sovyet.

Saat Tempo menelusuri kota yang dikelilingi Laut Kaspia ini pada Ahad, 27 Mei 2018, warga muslim di Baku tahu tentang Ramadan. Namun mereka tidak sepenuhnya berpuasa layaknya muslim di Indonesia.

Menurut Ali Huseyinli, warga Azerbaijan yang bekerja sebagai anggota staf di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Baku, sebagian besar muslim di negaranya tidak menjalankan ibadah puasa saat Ramadan.

"Mungkin hanya 10 persen yang berpuasa," kata Ali, yang fasih berbahasa Indonesia serta pernah tinggal enam tahun di Aceh dan beberapa kota lain di Indonesia.

Fazil Abbasov, Direktur Eksekutif Jenderal Azeri International Magazine, menuturkan hal senada dengan Ali. Pemicunya, sejak Azerbaijan dicaplok Rusia, semua ritual keagamaan dihancurkan. Selama sekitar 70 tahun di bawah kekuasaan Soviet, Azerbaijan yang 90 persen populasinya muslim tidak lagi menjalankan ibadah secara penuh.

Menurut Ali, situasi ini terbawa sampai ke generasi muda Azerbaijan saat ini, meski tidak semua anak muda Azerbaijan tidak berpuasa.

Meski berpuasa selama 17 jam, banyak Muslim yang mengaku tidak melakukan salat tarawih. Tidak ada alasan rinci dia tidak melaksanakan tarawih. Ali, yang juga menjalankan puasa selama Ramadan, menjelaskan, salat tarawih jarang dilakukan muslim di Azerbaijan.

Masjid- masjid di sana tidak dipenuhi umat Islam untuk salat Jumat atau tarawih, seperti yang umum terlihat di Indonesia. Ramadan di Azerbaijan memang unik. Menjalankan ibadah agama sepertinya menjadi urusan pribadi. (det/tem)

Keywords
loading...

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda