Divaksin J&J, 100 Warga Lumpuh, Satu Wafat: AS Edarkan Peringatan!

Photo of Divaksin J&J,  100 Warga Lumpuh, Satu Wafat: AS Edarkan Peringatan! SINDROM GUILLAIN-BARRE - Rachael Bailey, 20, dari Nottinghamshire, didiagnosis dengan sindrom Guillain-Barre setelah dibawa ke rumah sakit karena tidak bisa lagi menggerakkan kakinya. Pun foto sejumlah pasien lain sindrom tersebut.(Daily Mail)

WASHINGTON, SP –  Administrasi Makanan dan Obat-obatan (Food and Drug Administration/FDA) AS segera mengeluarkan peringatan terkait dampak penggunaan vaksin Johnson & Johnson (J&J).  

Hal ini terkait laporan 100 kasus penerima vaksin J&J yang mengalami pembekuan darah, kelemahan otot,  dan terkadang kelumpuhan atau sindrom  Sindrom Guillain-Barre yang biasanya bersifat sementara. 

Menurut pernyataan yang dikeluarkan regulator AS tersebut, Senin, 13 Juli 2021, sebagaimana dilansir Suara Pemred dari The Associated Press, hampir 100 orang penerima vaksin J&J telah dirawat di rumah sakit, sedangkan satunya lagi meninggal. 

Guillain-Barre, Gangguan Kekebalan

Pihak FDA pun mengingatkan tentang reaksi neurologis langka yang berpotensi berbahaya. Hanya saja, pernyataan itu tidak sepenuhnya jelas terkait dilarang atau tidaknya vaksin tersebut.itu dilarang atau tidak.    

FDA mengumumkan peringatan baru, menandai laporan adanya sindrom Guillain-Barre, gangguan sistem kekebalan,  yang dapat menyebabkan kelemahan otot, dan terkadang kelumpuhan.

Sedangkan para pejabat kesehatan menggambarkan efek sampingnya  sebagai ‘risiko kecil yang mungkin’ bagi mereka yang mendapatkan suntikan.

Tindakan itu dilakukan setelah FDA dan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS meninjau laporan sekitar 100 orang yang mengalami sindrom itu setelah menerima vaksin satu dosis.  

Sindrom Guillain-Barre terjadi ketika sistem kekebalan tubuh secara keliru menyerang beberapa sel sarafnya, menyebabkan kelemahan otot,  dan terkadang kelumpuhan yang biasanya bersifat sementara.

Diperkirakan 3.000- 6.000 orang mengembangkan sindrom ini setiap tahun, menurut CDC. Jumlah kasus yang dilaporkan terkait vaksin J&J,  mewakili sebagian kecil dari hampir 13 juta warga AS,  yang nota bene telah menerima satu dosis vaksin.

Sebagian besar kasus dilaporkan dialami oleh kalangan pria berusia 50 tahun ke atas, dan biasanya muncul sekitar dua pekan setelah vaksinasi.

J&J Minta Ditinjau

Sementara itu, pihak J&J  menyatakan telah mendiskusikan laporan tersebut dengan FDA dan regulator kesehatan lainnya di seluruh dunia.

CDC sendiri menegaskan akan meminta panel ahli vaksin luar untuk meninjau masalah ini di pertemuan mendatang. Pemerintah AS menegaskan bahwa vaksin yang paling banyak digunakan di AS, yang dibuat oleh Pfizer dan Moderna, tidak menunjukkan risiko gangguan setelah lebih dari 320 juta dosis diberikan.  

Peringatan baru bakal segera dimasukkan dalam pamflet yang akan diberikan kepada orang-orang yang mendapatkan suntikan J&J.  

Menurut pihak FDA, mereka harus mencari perhatian medis, jika mengalami gejala apapun, yang meliputi sensasi kesemutan, kesulitan berjalan, dan penglihatan ganda. 

Vaksin secara historis memberikan perlindungan yang luas dengan sedikit risiko,  tetapi datang dengan efek samping sesekali,  seperti obat lain,  dan terapi medis.

Tiga vaksin Covid-19 yang digunakan di AS masing-masing diuji kepada puluhan ribu orang. Hanya saja, penelitian sebesar itu tidak dapat mengesampingkan efek samping yang sangat langka. 

CDC dan FDA telah memantau laporan efek samping yang disampaikan oleh dokter, pembuat obat,  dan pasien ke database keamanan vaksin federal. 

Guillain-Barre Dipicu Infeksi

Guillain-Barre dapat dipicu oleh sejumlah infeksi, termasuk flu, cytomegalovirus,  dan virus Zika. Tetapi, ada kasus yang jarang terjadi di mana orang mengalami gangguan,  beberapa hari atau pekan setelah menerima vaksin tertentu. 

Vaksin J&J sangat dinanti karena formulasinya yang sudah jadi,  dan pendinginan yang mudah dikirim. Tetapi sejak awal, vaksin itu menimbulkan sejumlah risiko langka termasuk pembekuan darah.

Pihak prodosen vaksin itu sendiri belum dapat memproduksi sebanyak yang diharapkan karena adanya masalah di pabriknya di  Baltimore, AS.(PWS) 

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda