Internasional post authorPatrick Sorongan 13 September 2022

Inggris di Era Charles III Dihantui Karma Putri Diana, Monarki Terancam Tumbang?

Photo of  Inggris di Era Charles III Dihantui Karma Putri Diana, Monarki Terancam Tumbang? Putri Diana (kiri) serta Duchess Camilla dan Pangeran Charles (kanan).(Foto: Quora)

DIMAKI oleh istri sendiri, pelakor  yang kini menjadi Ratu Inggris, yakni Ratu Camilla.  Raja Charles III pernah dikecam oleh Ratu Camilla  sebagai raja yang 'takdirnya tak berbobot'.

Inilah kutukan dari Ratu Camilla karena terbukti juga telah menjadi karma bagi Charles, karena perbuatannya yang menyia-nyiakan Putri Diana,  begitu Charles menjadi Raja Britania Raya, Charles III.

Era Raja Charles III juga membawa Inggris ke dalam ketidakpastian.

Camilla sendiri sejak  awal adalah ratu yang tak pernah diinginkan oleh rakyat, termasuk oleh kalangan bangsawan Inggris untuk mendampingi raja mereka.

Monarki Inggris mulai terancam oleh tuntutan pembubaran untuk digantikan sebagai negara republik, sejak 'anak mami' ini menjadi raja pada Jumat, 9 September 2022.

Pangeran Charles menjadi Raja Charles III secara otomatis ketika Ratu Elizabeth II, wafat pada Jumat pekan lalu.

Mendiang Diana Spencer, perempuan berdarah bangsawan dari keluarga Spencer,  selalu hadir sebagai 'putri rakyat', yang juga mendunia.

Cantik, lembut, tapi berwatak keras,  karena itulah Putri Diana selama menjadi istri Charles bersinggungan dengan Ratu Elizabeth II, karena gaya busana dan sikapnya yang dianggap tidak aristokrat.

Hingga akhirnya, Charles berselingkuh dengan Camilla, istri dari Andrew Parker Bowles. yang kini  menjadi Ratu Inggris mendampingi Raja Charles III.

Diana, 'Putri Rakyat' yang Selalu Dikenang Dunia

Rakyat Britania Raya selalu menangisi Diana, Putri Wales yang dikasihi rakyat termasuk bangsawan-bangsawan Inggris, yang tewas dalam kecelakaan mobil di terowongan di Paris, Prancis bersama kekasihnya Dodi Al Fayed, 31 Agustus 1997

Camilla, dilansir Majalah Inggrs, The Guardian, Senin, 12 September 2022,  pernah berkata bahwa 'takdir Raja Charles III tidak berbobot sama sekali'.

Charles III  naik takhta  ketika negaranya terperosok ke dalam  krisis, dan monarki sedang berusaha membentuk kembali perannya untuk zaman modern.

Selama apa yang digambarkan sebagai 'magang 50 tahun', Raja Charles III telah memperjuangkan tujuan dan keprihatinannya.

Mulai dari pelatihan dan peluang yang lebih baik bagi kaum muda,  hingga polusi dan krisis iklim.

Dia telah melobi para menteri Inggris dengan surat-surat yang digambarkan sebagai 'memo laba-laba hitam'. Ini karena tulisan yang ditulis tangan, mengumpulkan para pemimpin bisnis.

 

Charlles III mendesak tindakan di panggung internasional.

Menurut pengamat kerajaan,  agar istana Raja Charles III berhasil dalam menghadapi tantangan berat, salah satu atribut terpentingnya, adalah  perlu menahan diri.

Charles III pada 2018 menyatakan bahwa sebagai raja, dia akan berhenti berbicara tentang masalah yang dirasakanya  dengan kuat, karena dia 'tidak sebodoh itu'.

Dalam pidatonya kepada Bangsa Inggris pada Jumat malam pekan lalu, dia menyatakan akan menegakkan prinsip-prinsip konstitusional di jantung bangsa.

Charles III menyatakan bahwa dia memulai kehidupan baru.

Ini juga berarti bahwa dia tidak bisa memberikan begitu banyak waktu dan energinya untuk amal dan masalah yang selama ini sangat dipedulikannya.

Sir Jonathon Porritt,  salah satu pendiri Program Bisnis & Keberlanjutan Prince of Wales, kerap menasihati Charles III.

“Dia tidak akan pernah melepaskan diri dari ide-ide dan keyakinan yang penuh semangat," katanya.

"Tetapi,  cara dia akan membawa mereka ke perannya sebagai raja konstitusional, akan sangat berbeda," ujarnya.

“Saya merasa bahwa sejarah akan menilai kita beruntung memiliki seseorang dengan perspektif yang sangat mendalam tentang masalah itu," lanjutnya.

"Hal ini  karena dia memikirkannya lebih dari politisi lain yang pernah saya temui," pujinya.

Berselisih dengan Pemerintahnya Sendiri

Tapi, ini beda dengan penilaian Ed Owens.  Sejarawan dan komentator kerajaan menyatakan, Charles III berisiko berselisih dengan pemerintahnya sendiri terkait perubahan iklim. 

Menurutnya, ini terlepas dari janji Charles III untuk beroperasi dalam 'parameter konstitusional'. 

“Charles tidak akan melepaskan platform tentang perubahan iklim," ujarnya. Masalahnya, hal itu itu sangat integral dengan citra publiknya, dan dia akan terus membicarakannya.  

"Kami sekarang memiliki Jacob Rees-Mogg di kabinet sebagai sekretaris bisnis dan energi," lanjutnya. 

"Dia telah menyatakan skeptisisme tentang memerangi perubahan iklim. Ini berpotensi sangat bermasalah," tegasnya. 

Charles III memimpin rumah tangga kerajaan dalam pergolakan yang tenang.  

Di akhir perayaan platinum Ratu Elizabeth II pada Juni 2022, hanya tujuh anggota keluarga kerajaan  (Charles dengan Camilla serta Pangeran William dan keluarganya) muncul di balkon bersama ratu. 

Lingkaran dalam keluarga kerajaan, dijuluki 'tujuh yang luar biasa', sekarang ini teah menjadi tokoh kunci.  

Publik Inggris Tolak Biayai Keluarga Kerajaan

Ironisnya, kalangan abdi dalem senior di kerajaan mengakui bahwa publik selama beberapa tahun ini tidak ingin membayar tagihan untuk monarki yang besar. 

Pendanaan keluarga kerajaan direformasi pada 2012 dengan hibah berdaulat baru. 

Hibah ini dibayarkan dari sebagian keuntungan dari perkebunan kerajaan, yang mengelola tanah publik kerajaan.  

Dengan sistem yang baru ini berarti rumah tangga kerajaan tunduk pada pengawasan audit yang sama seperti pengeluaran pemerintah lainnya.

Audit dilakukan oleh Kantor Audit Nasional dan komite akun publik parlemen. 

Operasi portofolio properti kerajaan dari Istana Buckingham ke Balmoral,  akan ditinjau di bawah raja baru.  

Menurut seorang pengunjung, Istana Buckingham adalah lubang uang. Beberapa bagiannya, tampak seperti 'hotel bintang tiga di kota pinggiran di mana tidak ada yang pernah dibuang'.

Raja Charles dan permaisuri dilaporkan dapat pindah ke sebuah apartemen di Istana Buckingham.

Pengaturan di apartemen ini mirip dengan pengaturan di Downing Street, seperti 'flat di atas toko'.

Salah satu opsi yang mungkin dipertimbangkan dalam tinjauan apa pun,  adalah apakah mungkin ada peningkatan akses publik ke istana dan taman.

Charles III kemungkinan akan mendapat manfaat dari lonjakan dukungan publik setelah kematian ratu.

Risiko Monarki di Era Raja Charles III

Tetapi,  para ahli kerajaan menilai, monarki yang dibentuk kembali akan menimbulkan risikonya sendiri.  

Visibilitas monarki dan citra hubungan masyarakat dari apa yang sering digambarkan sebagai 'perusahaan', bergantung pada tugas kerajaan sehari-hari. 

Tugas-tugas ini  sering membosankan, mulai dari membuka gedung dan infrastruktur sipil, hingga menghadiri acara amal.  

Pada 2017, ratu menghadiri 296 acara pertunangan di Inggris; Adipati Edinburgh, Pangeran Harry; dan Duke of York. 

Hal ini merupakan analisis Tim O'Donovan, yang diterbitkan setiap tahun dalam sebuah surat kepada Times.  

Jumlah bangsawan yang bertugas di garis depan juga semakin berkurang. 

Tidak terbayangkan,  ketika para bangsawan bergerak menuju operasi yang lebih ramping bahwa Duke dan Duchess of Sussex akan pindah ke luar negeri.

Seorang pengamat kerajaan berkata: “Charles dalam keadaan terikat. Dia membutuhkan lebih banyak bangsawan yang menarik bagi kaum muda.”

Mungkin yang lebih serius bagi Charles III adalah kontroversi atas kegiatan penggalangan dana dari operasi amalnya.  

Kepolisian  Metropolitan menyatakan London pada Februari 2022  telah meluncurkan penyelidikan ke badan amalnya, Yayasan Pangeran.

Ini terkait tuduhan tawaran kehormatan atau kewarganegaraan Inggris untuk sumbangan ke badan amalnya.  

Kepala eksekutif badan amal, Michael Fawcett, mantan pelayan Raja Charles, mengundurkan diri pada November 2021.  

Pihak Clarence House menyatakan sebelumnya bahwa Raja Charles tidak mengetahui dugaan penawaran tersebut.

Terjebak Masalah Sumbangan ke Yayasan

Pada Juni 2022, Sunday Times mengungkapkan bahwa Raja Charles telah menerima sumbangan uang tunai dengan total sekitar £2,5 juta. 

Uang ini  diberikan ke Yayasan Amal Pangeran Wales. 

Komisi Amal menyatakan pada Juli 2022 bahwa mereka tidak memiliki kekhawatiran tentang tata kelola badan amal, dan tidak meluncurkan penyelidikan.

Tom Bower, penulis biografi Rebel Prince, menegaskan bahwa Raja Charles sedang menghadapi tantangan yang sangat berat.  

"Dia akan berjuang karena mengikuti ratu tidak mungkin, dan untuk melepaskan masa lalunya yang kontroversial akan sangat sulit," katanya.

Porritt menegaskan,  kontroversi yang melibatkan badan amal terkait dengan penggalangan dana.

“Sulit baginya sebagai Pangeran Wales karena dia memiliki berbagai komitmen yang luar biasa, dan dia harus mengumpulkan uang. Anda harus melangkah dengan sangat hati-hati," lanjutnya. 

Dalam usia 73, Charles adalah orang tertua yang naik takhta Inggris.

Porritt menambahkan: “Saya tidak pernah mendengar [dari dia] apa pun selain perasaan bahwa inilah yang akan dia lakukan di beberapa titik."

"Dan,  dia ingin membawa semua energi, perhatian, dan pandangan ke depan yang dia bisa untuk itu. Saya membayangkan dia akan berpikir, 'Oke, itu terjadi sekarang'."

Hal senada diakui oleh Bob Morris, mantan pegawai negeri dan anggota kehormatan di Unit Konstitusi di University College London.

Menurutnya,  ujian bagi raja baru itu adalah melanjutkan keberhasilan keluarga kerajaan dalam beradaptasi dengan perubahan.

“Kami adalah masyarakat yang sangat berbeda dari apa yang kami alami saat ini," tegasnya. 

Camilla  Diumpankan Suaminya ke Charles

Adapun Camilla, mantan istri Parker Bowles, ; lahir 17 Juli 1947)  adalah istri kedua dari Charles III.

Sebelum menjadi permaisuri, Camilla secara resmi menjadi Putri Wales, gelar bagi istri putra mahkota sekaligus calon permaisuri Britania Raya.

Meski begitu, Camilla memilih untuk tidak menggunakan gelar tersebut,  karena gelar itu sering dikaitkan erat dengan Diana, istri pertama Charles.

Sebagai istri Pangeran Wales,  dilansir Wikipedia, Camilla mendampingi sang suami dalam menjalankan berbagai kegiatan dan tugas resmi.

Dia adalah pelindung, presiden, dan anggota berbagai lembaga amal.

Camilla Rosemary Shand lahir di King's College Hospital pada 17 Juli 1947, dan  besar di Plumpton, Sussex Timur.

Ayahnya adalah Mayor Bruce Shand (1917–2006), mantan opsir tentara, yang kemudian menjadi wirausahawan.

Ibunya adalah Rosalind Cubitt (1921–1994), putri Roland Calvert Cubitt, Baron III Ashcombe. Nenek Rosalind dari pihak ibu, Alice Frederica Edmonstone (Alice Keppel), adalah gundik Raja Edward VII.

Camilla mempunyai seorang adik perempuan bernama Annabel Shand (Annabel Elliot setelah menikah) dan adik laki-laki bernama Mark Roland Shand.

Camilla menikah dengan Andrew Parker Bowles pada 4 Juli 1973,  menurut keyakinan Katolik Roma di London.

Andrew sendiri adalah letnan di satuan pasukan berkuda Britania, Blues and Royals. Saat itu  Camilla berusia 26 tahun dan Andrew 33 tahun.

Beberapa tamu undangan istana yang hadir di pernikahan tersebut,  antara lain,  Ibu Suri Elizabeth Bowes-Lyon (ibunda Ratu Elizabeth II).

Juga hadir Putri Margaret (adik Ratu Elizabeth II), dan Putri Anne (putri tunggal Ratu Elizabeth II dan mantan kekasih Andrew sang mempelai pria ] dengan delapan ribu tamu undangan lainnya.

Dari pernikahannya dengan Andrew, Camilla Parker Bowles melahirkan dua anak: Thomas Henry Charles Parker Bowles, dan Laura Rose Parker Bowles.

Setelah menjalani pernikahan mereka berjalan selama 21 tahun, Camilla dan Andrew memutuskan untuk bercerai pada Maret 1995.

Camilla dan Pangeran Charles dikabarkan telah saling bertemu sejak pertengahan tahun 1971-an.

Camilla resmi bertemu pertama kali dengan Pangeran Charles. Ini  terjadi setelah mereka diperkenalkan oleh Lucia Santa Cruz, teman Charles dan Camilla, kemudian mereka menjadi teman dekat.

Setelah hubungan mereka menjadi semakin serius, Charles mengenalkan Camilla kepada beberapa anggota keluarganya.

Namun,  hubungan mereka berdua berakhir pada 1973 setelah Charles bergabung dengan Angkatan Laut Britania Raya.

Ada beberapa pendapat mengenai alasan berakhirnya hubungan Charles dan Camilla pada 1973.

Beberapa menyatakan bahwa Charles bertemu Camilla terlalu dini.

Karena itu,  dia tidak sempat untuk meminta Camilla menunggunya menyelesaikan tugas di angkatan laut.

Sarah Bradford menulis pada 2007 di bukunya, 'Diana', bahwa Louis Mountbatten, paman dari ayah Charles, meminta Charles bergabung dengan angkatan laut.

Tujuannya, mengakhiri hubungannya dengan Camilla. Dia berharap Charles dapat menikah dengan cucunya sendiri, Amanda Knatchbull di kemudian hari.

Sebagian sumber menyatakan, hubungan mereka tidak direstui nenek Charles, Ibu Suri Elizabeth Bowes-Lyon.

Ibu suri  menginginkan sang putra mahkota menikah dengan salah satu anggota keluarga Spencer, yakni Diana.

Mayoritas dari biografer istana sepakat bahwa meskipun Charles dan Camilla berniat menikah, niat mereka tidak akan disetujui.

Ini karena  menurut sepupu dari ayah Charles, Patricia Mountbatten, para pejabat istana memandang Camilla tidak cocok menjadi permaisuri bagi calon raja mereka.***

 

Sumber: The  Guardian, Wikipedia

 

 

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda