Internasional post authorPatrick Sorongan 13 September 2022

Timor Leste 'Kebelet' Masuk ASEAN, Freitas: Horta Harus Benahi Dirinya!

Photo of Timor Leste 'Kebelet' Masuk ASEAN,  Freitas: Horta Harus Benahi  Dirinya! Ramos Horta (kiri) dan Angela Freitas (kanan)

NEGARA Timor Leste harus mapan dan memiliki pemerintahan yang bersih jika ingin menjadi anggota Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara (Association of Southeast Asian Nations/ASEAN).

Mengingat 10 anggota blok tersebut sudah mapan secara ekonomi, SDM,  dan pemerintahan, maka pemerintahan Presiden Jose Ramos harus terlebih dahulu menunjukkan pengelolaan negara yang baik.

"Supaya tidak mengecewakan sebagai anggota ASEAN. Itu pun kalau diterima. Tapi, bagaimana mau diterima, jika Horta  sendiri memenangkan pemilihan presiden secara tidak jujur?" kecam Angela Freitas, Calon Presiden Timor Leste 2022.

Dihubungi  Patrick Sorongan dari Suara Pemred di Dili, Ibukota Timor Leste, Freitas, yang sudah kali ketiga mengikuti Pilpres Timor Leste,  mengakui tentang parahnya ketidakjujuran Horta selama Pilpres 2022. 

"Pertama, politik uang, kedua, menggelapkan perolehan suara-suara lawan,"  lanjut Ketua Partai Buruh Timor ini.  

"Suara pendukung saya, termasuk dari partai kami, yang nota bene anggotanya ribuan, amat sangat minim. Ini permainan 'luar biasa; dari Horta," lanjutnya. 

Kemenangan Horta yang dinilainya tak jujur itu akan menjadi bumerang dalam pemerintahannya.

Ini termasuk kemungkinan bahwa ASEAN sudah menilai tentang kemenangannya yang curang dalam Pilpres Timor Leste 2022.

Mengenai keanggotaan Timor Leste di ASEAN, Freitas menilai bahwa itu sangat penting bagi Timor Leste.

"Terutama hubungan Timor Leste dengan Indonesia. Bagaimanapun,  kami memiliki hubungan historis, dan sudah menganggap bahwa Indonesia sebagai saudara," katanya.

Sebagai negara yang masih berusia muda, keanggotaan Timor Leste di ASEAN akan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi dan SDM negara.

Sementara itu, Horta  sangat berharap agar negaranya bisa diterima menjadi anggota ASEAN. 

Harapan ini seiring dengan tampilnya Indonesia pada November 2022 sebagai Ketua ASEAN lewat kepemimpinan Presiden Joko Widodo.

The Diplomat melaporkan, Jumat, 9 September 2022, keinginan tersebut disampaikan oleh Duta Besar Timor-Leste untuk Kamboja, Kupa Lopes.

Lopes berbicara dengan Hunt terkait aspirasi Timor Leste, dan hubungannya dengan ASEAN, khususnya dengan Indonesia, Myanmar, dan Australia.

Timor-Leste awalnya mengajukan permohonan keanggotaan ke ASEAN, 11 tahun silam.

Horta: Masuk Surga Dulu!

Tetapi,  sejak itu Dili frustrasi dan kecewa karena sulit untuk  masuk ke klub 10 negara itu.

Hal ini mendorong Presiden Timor-Leste José Ramos-Horta untuk berkomentar sinis pada awal 2022.

“Sepertinya untuk mencapai ASEAN, Anda harus memenuhi semua kriteria untuk masuk surga dulu, dan langkah selanjutnya adalah ASEAN," tambahnya.

Keanggotaan Timor Leste tampak terjamin pada 2022 setelah Kamboja mengetuai ASEAN lewat Perdana Menteri Hun Sen.

Hun Sen  berjanji untuk melakukan semua yang dia bisa untuk memastikan masuknya Timor-Leste sebagai negara anggota ke-11 ASEAN.

Tapi, itu tidak terjadi. Ini karena Kekhawatiran ASEAN khususnya di Singapura, tetap ada.

Kekhawatiran ini termasuk kemampuan Dili untuk membayar biaya yang timbul dengan keanggotaan.

Kekhawairan ini juga terkait kurangnya institusi, dan hubungan Timor-Leste dengan China di tengah meningkatnya ketegasan Beijing di Asia Tenggara dan Pasifik.

Putri Mantan Ketua DPD PDIP Timor Timur

Partai tersebut berdiri pada 1974 oleh ayahnya,  Paulo Freitas, Ketua DPD PDIP setempat,  ketika Timor Leste masih menjadi Provinsi Timor Timur di era Indonesia.

Freitas adalah aktivis prokemedekaaan Timor Leste, yang ditahan TNI ketika kuliah di Universitas Gajahmada (UGM), Jogjakarta.

Pada 1988, Freitas bekerja untuk Institut Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia, kemudian bekerja untuk Amnesty International pada 1989 sebagai Sekretaris HAM.

Pada dekade 1990-an, Freitas  melarikan diri ke Australia, kemudian kuliah di University of Queensland.

Lulus dengan kualifikasi dalam ilmu politik dan kedokteran, Freitas bekerja di sebuah rumah sakit di Brisbane, kemudian ditempatkan di Angkatan Laut Kerajaan Australia.

Freitas bekerja di atas kapal patroli,  yang mencegat kapal-kapal pengungsi.

Setelah berakhirnya era Indonesia pada 1999, Freitas kembali ke Timor Leste, kemudian  memimpin Partai Pekerja Timor.

Pada 2001, Freitas ditempatkan di penjara pria bersama dengan anak-anaknya. Ini karena Freitas dituduh membunuh seorang warga Australia.  

Setelah dua minggu, Freitas dibebaskan tanpa tuduhan, karena korban tidak pernah ditemukan.

Freitas: Saya Korban Rekayasa!

Freitas berusaha mencalonkan diri selama Pilpres Timor Leste 2012, tetapi gagal. 

Menurut Freitas, ini terkait serangkaian protesnya pada 2004  atas serangkaian protes terhadap Presiden Xanana Gusmão. 

"Karena itu, saya dituduh bukan orang Timor Leste, suatu tudingan yang mengada-ada," lanjut wanita berdarah bangsawan Timor ini.  

Setelah menjalani operasi di Bali pada 2014, Freitas ditangkap sekembalinya ke Timor Leste.

Freitas ditangkap lagi pada tahun berikutnya, setelah diduga mendukung pasukan Mauk Moruk. Freitas sekali lagi mencalonkan diri sebagai presiden selama Pilpres Timor Leste 2017.

Dia menempati urutan ketujuh dalam jajak pendapat, dengan total 4.353 suara, setara dengan 0,84 persen.***

 

Sumber: Wawancara, The Diplomat, Wikipedia

 

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda