Malangnya Nasib Wanita Muda ketika Afghanistan Dikuasai Taliban

Photo of Malangnya Nasib Wanita Muda ketika Afghanistan Dikuasai Taliban NASIB WANITA - Taliban berisiko balas dendam. Kaum lelaki dibantai dan wanitanya akan ‘menguatirkan’ setelah pasukan AS bersama NATO meninggalkan Afghanistan. (Foto: Wikipedia)

MILISI Taliban berisiko akan membalas dendam. Kaum lelaki dibantai,  dan nasib kaum wanitanya juga akan ‘menguatirkan’ setelah pasukan AS bersama NATO meninggalkan Afghanistan. Beginilah kekuatiran sebagian besar rakyat di negara itu, terutama kalangan yang selama ini bekerja di berbagai bidang untuk kepentingan militer AS.  

Kekuatiran tersebut terutama nasib kaum wanita muda disampaikan juga oleh George W Bush, mantan Presiden AS dalam wawancara dengan media Jerman, Rabu, 14 Juli 2021, sebagaimana dilansir Suara Pemred dari The Associated Press, Kamis, 15 Juli 2021.

Pasukan AS menyerbu Taliban di Afghanistan terjadi di era pemerintahan Bush, yang terus berlanjut selama hampir 20 tahun sejak 2001. Belakangan, Taliban dikuatirkan menggila,  ketika pasukan asing meninggalkan Afghanistan pada September  2021, sesuai  kesepakatan antara Taliban dengan AS di era Presiden Donald Trump.

Sebagaimana pula yang dikuatirkan oleh Pemerintah Rusia, kelompok garis keras Islam Sunni ini bakal balas dendam sesadis mungkin: membunuh siapa saja orang Afghanistan yang pernah berkolaborasi dengan AS, ketika  pasukan negara tersebut pergi dari Afghanistan.

Tak heran jika Rusia mengingatkan supaya AS tak hengkang begitu saja. AS harus bertanggung jawab terhadap rakyat Afghanistan atas kebrutalan Taliban. Sebab, AS telah mendukung Taliban ketika dibentuk pada1990-an oleh mujahidin Afghanistan, atau pejuang gerilya Islam.

Tanggung jawab itu penting supaya Afghanistan benar-benar aman dari ancaman Taliban, kelompok yang dibenci Rusia, ketika AS sudah hengkang.

Sejak penempatan pasukan AS pada 2001 di Afghanistan,  berdasarkan data Departemen Pertahanan AS (Pentagon) pada 2020, negara tersebut telah mengeluarkan biaya perang yang fantastis: 2,26 triliun dolar AS! Angka ini mencakup biaya operasi militer AS, mulai dari bahan bakar dan makanan hingga Humvee, senjata dan amunisi, dari tank dan kendaraan lapis baja hingga kapal induk dan serangan udara. 

Humvee dikenal sebagai kendaraan yang mahal. Kendaraan Beroda Serbaguna Mobilitas Tinggi (High Mobility Multipurpose Wheeled Vehicle/ HMMWV), Humvee digerakkan oleh empat roda truk ringan yang diproduksi oleh perusahaan AM General, AS.

Adapun tentara AS yang tewas sejak 2021 sudah sebanyak 2.442 personel, dan 20.666 lainnya terluka. Pun diperkirakan lebih 3.800 kontraktor keamanan swasta AS telah tewas. Selain itu, menurut perhitungan laman iCasualties, perang untuk menghajar Taliban, juga telah menewaskan 1.144 personel dari 40 negara koalisi NATO pimpinan AS, yang selama bertahun-tahun bertugas melatih pasukan Afghanistan.

Sebanyak 7.000 tentara sekutu yang tersisa akan ditarik pada tenggat waktu 11 September (9/11) oleh Presiden Joe Biden.

Via Imigran Khusus

Adapun kecemasan warga Afghanistan tersebut masuk akal bagi Pemerintah AS. Itu sebabnya Pemerintahan Biden pada Rabu, sebagaimana dilansir Suara Pemred dari The Associated Press, Kamis, 15 Juli 2021, menjadwalkan penerbangan evakuasi tahap I mulai dilakukan pada pekan terakhir Juli 2021.

Penerbangan awal dikhususkan bagi para penerjemah. Hanya saja,  belum diketahui lokasi tujuan mereka  di AS. Tapi yang lebih mengkuatir kan adalah  faktor keselamatan mereka dari ancaman Taliban selama perjalanan menuju bandara.

Menurut Gedung Putih,  mereka yang akan mengikuti penerbangan khusus bertajuk Operasi Pengungsi Sekutu (Operation Allies Refuge) awal, adalah kalangan pemohon pertama untuk visa imigran khusus yang sedang  dalam proses pengajuan residensi.

Dengan alasan keamanan, Sekretaris Pers Gedung Putih Jen Psaki,  menolak merinci jumlah warga Afghanistan yang bakal dievakuasi dalam penerbangan tahap pertama, atau ke lokasi mana mereka dievakuasi.

“Alasan kami mengambil langkah ini adalah karena mereka adalah individu yang berani,” kata Psaki. “Kami ingin memastikan bahwa kami menghargai peran mereka selama ini untuk kami.”

Konfirmasi tentang jadwal penerbangan evakuasi datang ketika Biden pada Rabu kemarin, bertemu Jenderal Austin ’Scott’ Miller, yang awal pekan ini mengundurkan diri sebagai komandan tertinggi AS di Afghanistan. Psaki hanya menyatakan, Biden ingin secara pribadi berterima kasih kepada Miller karena melakukan penarikan pasukan AS secara tertib dan aman.

Miller, yang mengawasi jalannya peperangan selama hampir tiga tahun, menyatakan keprihatinan yang mengerikan di hari-hari terakhirnya sebagai komandan. Hal ini terkait hilangnya secara cepat distrik-distrik di seluruh negeri oleh serbuan Taliban.

Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin, yang bertemu secara terpisah dengan Miller di Pentagon, memuji jenderal tersebut,  karena merencanakan penarikan rumit jutaan ton peralatan dan ribuan personel, yang sejauh ini dilakukan tanpa satu korban pun.

Biden sendiri telah menghadapi tekanan dari dua belah pihak di Parlemen AS untuk segera membuat rencana membantu mengevakuasi orang-orang Afghanistan yang selama ini berjasa membantu pihak militer sebelum pasukan AS hengkang.

Gedung Putih pun sejak Juni 2021 memberikan  pengarahan kepada anggota parlemen tentang garis besar rencana pemerintah dalam melakukan evakuasi.

Rencana evakuasi itu sendiri berpotensi mempengaruhi puluhan ribu warga Afghanistan. Beberapa ribu warga Afghanistan yang bekerja untuk kepentingan AS berikut anggota keluarga mereka  sudah dalam jalur aplikasi untuk visa imigran khusus.

Pemerintahan Biden telah berupaya mengidentifikasi negara ketiga atau wilayah AS yang dapat menampung warga Afghanistan saat aplikasi visa mereka diproses.

Krish O'Mara Vignarajah, presiden dan CEO Layanan Imigrasi dan Pengungsi Lutheran menyatakan bahwa banyak hal tentang rencana evakuasi tersebut yang masih belum diketahui. Termasuk bagaimana pemerintah akan membantu mereka yang berada di daerah-daerah di luar ibu kota Kabul untuk mengungsi.

Masalahnya, Taliban telah mengambil alih banyak wilayah besar di negara itu terutama di pedesaan.

“Sayangnya, masih banyak pertanyaan yang belum terjawab, termasuk siapa sebenarnya,  dan berapa banyak orang yang layak untuk dievakuasi. ... Bagaimana mereka yang berada di luar ibu kota dapat mengakses keamanan?” kata Vignarajah, yang kelompoknya telah membantu memukimkan ribuan warga Afghanistan di AS.

“Dan ke negara mana mereka akan dievakuasi? Kami memiliki keprihatinan serius tentang perlindungan hak asasi manusia sekutu kami di negara-negara yang telah dikabarkan sebagai mitra potensial dalam upaya ini," lanjutnya.

Pemerintah AS sedang mempertimbangkan kemungkinan penggunaan pesawat komersial yang bakal disewa oleh Departemen Luar Negeri, bukan pesawat militer, menurut seorang pejabat pemerintah, yang tidak berwenang untuk secara terbuka membahas pertimbangan internal,  dan berbicara dengan syarat anonim.  

“Tetapi, jika Departemen Luar Negeri meminta pesawat militer, maka militer AS akan siap membantu,” kata pejabat itu.”

Hanya saja, Pentagon menegaskan  pada Rabu bahwa tidak ada permintaan bantuan semacam itu yang dibuat oleh negara.

Secara terpisah, Gedung Putih mengumumkan bahwa Elizabeth Sherwood-Randall, Penasihat Keamanan Dalam Negeri Gedung Putih akan memimpin delegasi AS ke konferensi keamanan di Uzbekistan pekan ini,  untuk membahas masalah keamanan di Afghanistan dengan para pemimpin negara-negara Asia Tengah.

Pemerintahan juga Biden mempertimbangkan sejumlah lokasi, termasuk instalasi militer baik di luar negeri maupun di daratan AS untuk menampung sementara warga Afghanistan.

Sekretaris Pers Pentagon John Kirby mengakui pada Rabu bahwa Pentagon telah mengidentifikasi sejumlah lokasi di luar negeri sebagai ‘kandidat potensial’, tetapi tidak ada keputusan akhir yang dibuat.

Kedutaan Besar AS di Kabul selama 2021 sudah mengeluarkan 299 visa imigran khusus pada Maret, 356 pada April, dan 619 pada Mei, menurut Departemen Luar Negeri.

Biden menegaskan pekan lalu bahwa pemerintah federal telah menyetujui 2.500 visa imigran khusus untuk datang ke AS sejak pelantikannya pada Januari 2021. Diperkirakan 18 ribu  warga Afghanistan yang telah bekerja untuk AS sebagai juru bahasa, pengemudi, dan posisi lain telah mengajukan permohonan visa dan menunggu aplikasi mereka diproses.

Psaki menegaskan, Gedung Putih bekerja sama berdasarkan undang-udang dengan Kongres untuk merampingkan proses aplikasi.

Biden mengumumkan pekan lalu bahwa operasi militer AS di Afghanistan akan berakhir pada 31 Agustus 2021. Penetapan tanggal untuk mengakhiri perang, terjadi setelah pemerintahan Trump merundingkan kesepakatan dengan Taliban untuk mengakhiri misi militer AS pada 1 Mei 2021.  

Biden, setelah menjabat, mengumumkan bahwa pasukan AS akan keluar pada peringatan ke-20 dari serangan 11 September 2001. Serangan itu direncanakan oleh pemimpin al-Qaida Osama bin Laden dari Afghanistan, di mana bin Laden telah diberi perlindungan oleh Taliban.  

Kawanan teroris ini melakukan serangan bom bunuh diri ke gedung WTC di New York dan gedung Pentagon di Washingtonyang menewaskan sekitar 3.000 orang. Sejak itulah pasukan AS memasuki Afghanistan disusul aliansi NATO atas restu pemerintah negara itu, untuk mengejar para personelal-Qaeda yang dilindungi oleh Taliban.

Bush telah mengkritik penarikan mundur pasukan negara-negara Barat dari Afghanistan. Jika ini akhirnya terjadi, Bush menyatakan sangat kuatir atas nasib kaum wanita terutama yang masih berusia muda, ketika Taliban mendapatkan kembali kendali atas sebagian besar wilayah di Afghanistan.  

“Sulit dipercaya bagaimana masyarakat berubah dari kebrutalan Taliban, dan tiba-tiba – sayangnya – saya khawatir wanita dan gadis Afghanistan akan menderita ‘kerugian’  yang tak terkatakan,” kata Bush. 

Banjir darah dari warga Afghanistan yang selama ini bekerja dengan militer AS dikuatirkan terjadi pasca hengkangnya pasukan AS dan NATO dari negara itu.

Mereka berisiko dibantai oleh Taliban karena dianggap sebagai penghianat sehingga menjadi musuh. Pada akhir dekade 1990-an, balas dendam merupakan ciri pemerintahan Taliban,  selama menduduki wilayah-wilayah  yang didominasi etnis minoritas Afghanistan. 

Sebutlah Kota Mazar-e-Sharif,  tempat pertumpahan darah yang mengerikan.

Pada 1997, para pejuang Uzbek dan Hazara membunuh sekitar 2.000 etnis Pashtun yang mendominasi jumlah personel Taliban.

Belakangan, Taliban balas dendam ketika akhirnya menguasai Mazar-e-Sharif.  Para pejuang Uzbek dan Hazara ditangkap. Dalam beberapa kasus di dataran utara kota, Taliban memaksa para tawanan ini untuk menggali lubang kemudian masuk ke dalamnya. Taliban kemudian melemparkan granat dan ‘menyemprot’ mereka dengan senjata otomatis.

Pada tahun berikutnya, Taliban mengamuk lagi, membunuh warga etnis itu, dan mengusir puluhan ribu warga lainnya sehingga mereka melarikan diri ke Kabul. ***

 

Sumber: Associated Press, berbagai sumber

 

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda